0.38 + keputusan.

2.8K 525 29
                                        

Demi neptunus, tiga hari itu nggak berasa sama sekali jalannya. Tapi dalam tiga hari itu dua anak adam yang pernah punya status di masa lalu, sama sekali gak bisa tidur.

Gelisah.
Karena masalah yang dibuat belum selesai.

Rasa bersalah.
Karena mereka main dibelakang Arsen.

Berdosa.
Karena ngelakuin sesuatu yang jelas gak boleh dilakuin.

Paket lengkap kegoblokan yang dibuat sendiri.

Entahlah mau gimana hari ini berjalan. Keduanya pun sudah pasrah. Awalnya mereka ngira gak ada ada masalah. Tapi tuhan berkata lain.

Siapapun itu, pengirim video via LINE, yang gak jelas asal-usulnya, berhasil ngancurin semua.

Yang harusnya cuma disimpan berdua, kini jadi ada pihak ketiga yang tau.

Dan itu adalah pacarnya Altha.

Kenapa gitu lho anjing.

Kenapa gitu lho Arsen.

Ya kalo disebar ke grup angkatan juga yang ada mereka bakal malu luar biasa.

━━━━━━

09.40 Pagi

Tama berdiri sambil gigitin kuku jempolnya. Dia khawatir. Dia lagi nungguin mantannya turun dari lantai dua. Tadi katanya ada perlu sama kakak tingkat lain. Yang jelas bukan Arsen. Karena Arsen gak ada kabar tiga hari belakangan ini.

Jangan ditanya kemana perginya.
Bahkan Candra, Naufal sama Antara pun gak tau rimbanya.

"Tam!"

Pucuk dicinta, ulam pun tiba.
Itu Altha, yang ditunggunya nyaris setengah jam ini.

Si manis berkemeja cokelat susu itu lari. Dalam hati, Tama udah komat kamit supaya Altha gak kesungkur di tanah.

Sakit ga masalah.
Malunya dibawa seumur hidup.

"Tam, tadi kenapa nggak kuliah?" Tanya Altha penasaran sambil ngasih botol sprite ke Tama.

"Nggak mood banget." Jawabnya singkat lantas teguk minuman bersoda itu beberapa kali. Altha tau kalo Tama kurang tidur. Keliatan dari lingkar hitam di bawah mata yang menebal.

Berdiri dengan ekspresi kelewat gugup, lantas Altha tatap mantannya sedikit takut.

"Tam, ini beneran sekarang mau ngomongnya?" Tanyanya luar biasa penasaran. Tak dijawab dengan kata kata, Tama cuma ngangguk aja buat ngeiyain.

"Ayo, rumah mu kosong kan?"

"Ada bibi sama tukang kebun aja, Tam. Paling mereka dibelakang. Nanti dikamar aku aja ngomongnya. . ."

Tama kasih anggukan, lalu netra saling berpapas.
"Semoga sehabis ini, semuanya akan kembali seperti semula. Meski mungkin pertemanan kita bakal renggang."

Oke, Altha cuma bisa pasrah soal hubungan pertemanan mereka.

Sepele banget kalo sebab jadi renggangnya hubungan cuma gara-gara cinta.

━━━━━━━━

Duduk saling hadapan, dominasi dipegang sama Arsen dan Tama. Sedangkan Altha cuma duduk diem di sebelah Tama sambil nundukin kepalanya, kerasa bersalah sama Arsen.

Ini sudah dua puluh menit berjalan.

Tapi lebih banyak diem ketimbang ngomongin masalah.

Tama tarik nafas, lalu usap wajahnya.
"Bang, maaf. Gua tau harusnya gua gak pernah nurutin nafsu ini━"

"Tam, yang gua sayangkan bukan itu. Tapi status yang lo jalanin sama Altha sebelum ini. Gua gak tau. Gua kayak orang tolol. Bahkan makin kesini, makin ada aja masalah." Ungkap Arsen setengah emosi.

Susah ngadepin begini dengan kepala dingin. Mau se-dewasa apapun, pasti masih ada unsur emosi disana.

"Kak, maaf. Altha sama sekali gak bermaksud buat enggak kasih tau kakak kalo aku sama Tama pernah pacaran. Itu cuma masa lalu kak." Jelas Altha, dengan tatap sayu, sedih lihat Arsen.

"Masa lalu ya? Bener? Kalo kamu memang udah gak mau sama kakak, kakak mau lepasin kamu."

Pernyataan Arsen telak buat air mata jatuh basahi pipi gembil Altha.

"Maksud kakak apa?"

"Putus, Dek."

'BUGH'

Finalnya Arsen buat bogeman telak hantam sudut bibir cowok itu.

"Bangsat lo, anjing." Gerungan marah dari Tama buat Arsen berdecih dan meludah noda darah di karpet turki tebal kamarnya Altha.

"Gua salah? Gua gak bisa maksa Altha buat stay disisi gua kalo emang kenyataannya Altha belum lepas dari masa lalu, yaitu lo." Balas Arsen sambil bersihin noda darah di sudut bibir.

Altha cuma diam. Dia gak berani ngomong soal perasaan yang sebenernya karena lihat keadaan yang lumayan kacau ini.

Ada sesuatu yang memang disembunyiin sejak awal sama cowok manis itu.

Biasa, perihal hati.

"Gua pikir, urusan kita kelar ya Tam, Tha. Silahkan lo berdua mau balik, gua nyerah udahan. Gua lepas Altha mulai sekarang. Permisi, gua duluan."

Semuanya cepat. Tanpa bisa dicegah lagi.

Arsen keluar, tutup pintu kamar Altha dengan siluet tatap penuh rasa kecewa pada dua sosok temannya.

"Tha?"

"Keluar, Tam."

Tama pegang bahu kurus Altha, sambil kasih remasan.
"Tha, maaf."

"Pulang. Aku butuh waktu sendiri."

Final, Tama mengalah.
Dia bakal kasih waktu buat Altha sendiri.

Kecup kening si manis, lantas berdiri, berniat untuk pamit pulang. Situasi udah gak karuan.

"Balik ya, Tha. Jaga diri. Jangan lupa makan." Tanpa tunggu jawaban Altha lagi, Tama tutup pintu kamar si manis rapat. Menyisakan kesendirian melingkupi Altha.

Cowok itu mendongak kala air mata mengalir makin deras basahi pipi. Meratapi bagaimana kebodohan yang dia buat sendiri.

Fakta bahwa dia udah sakiti Arsen seakan mengukung Altha dalam kesalahan besar.

Ia menyayangi Arsen, namun tak mengelak pula kalau dirinya membutuhkan Tama.

Tamak?
Benar.

Persetan dengan perasaan yang menggilas habis logika.

Setelah ini, semuanya tak akan sama.

Tak ada lagi Arsen yang selalu menepuk kepalanya dan tak ada pula Tama yang selalu menggoda dengan sikap jahil sekaligus manis.

Altha sendiri.
Karena kebodohan yang telah dibuatnya.

━━━━━━

Mungkin beberapa chapter, mantan akan selesai.
Mohon ditunggu kawan-kawan sekalian.
Maap ya gua lama gak update :(
Gua mau matek ketimbun tugas. :)

Selamat baca!

Mantan +btsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang