0.24 + pertanyaan.

2.9K 681 58
                                        

Sabtu pagi, yang harusnya weekend-libur diisi main, tidur atau apapun, sekarang diisi sama kegiatan wawancara organisasi.

Masuk ke ruangan yang auranya lumayan mencekam, gak lantas bikin nyali seorang Tama Anggara menciut. Yang ada, cowok sembilan belas tahun itu makin percaya diri.

"Selamat siang, mas Tama."

Wawancara ke 7, pertanyaan keorganisasian.
Seketika ingin modar.

Masalahnya itu, Tama dulu bukan anak yang aktif organisasi OSIS ataupun MPK. Paling mentok ikut ekskul doang karena hidupnya di SMA terutama, diisi oleh Althafandra.

Oke, move on, move on.

Ditanya-tanya sama kating semester 3 dan yauda Tama jawab cuma seadanya. Mau keterima atau gak ya uda bodo amat.

"Makasih, mas. Silahkan abis ini ke ruang sebelah untuk wawancara terakhir dengan jajaran inti organisasi."

Modar ke 8.
Disini bakal di wawancarai sama ketua sampe bendahara.

"Selamat siang, mas Tama."

"Siang juga, kak." Ramah, jaga image aja.

Disana ada Arsen sama Liliana, 2 orang lainnya Tama gak kenal.

"Siap wawancara terakhirnya?"

"Siap kak."

Arsen senyum. Dia buka notes nya, terus senyum.

"Semoga beruntung, bro."

-----

Omong-omong, jam 1 siang semua anak udah pada pulang. Dengan keputusan akhir, Tama Anggara dan Althafandra jadi anggota bidang SDM alias Sumber Daya Manusia.

Bidang yang paling susah wawancaranya.

Akhirnya lolos setelah ditekan sana sini.

Berniat buat balik, lengan Tama dicekal, kali ini sama Altha. Posisi lagi di lorong gedung C, gak jauh dari Lab.

"Tam, tunggu?" Noleh dan memilih buat acuh.

Dia gak bisa natap mata Altha.

Mata bening yang berhasil nangkep jiwanya.

"Kenapa, Tha?"

"Makasih ya."

"Buat?"

"Buat bantuin pas wawancara tadi." Senyum manis buat tunjukkin rasa terimakasihnya. "Dan makasih juga udah buat gak bilang ke kak Arsen."

"Ya, sama-. . . ."

CUP

Pipinya dikecup.
Tama total ngebeku.

"Aku pulang ya."

Belum sempet ngomong, Altha udah keluar duluan, ninggalin seorang Tama si gudang dalam keadaan membeku.

Pikirannya kabur, pandangan nerawang.

Sebuah pertanyaan muncul di kepala Tama,

Kenapa Altha ngelakuin semua ini?

Apa tujuannya?

Semuanya masih tanda tanya.

-----

Menurut Arsen, malem ini keliatannya berbeda. Yang beda bukan dia, tapi pacarnya. Entah apa yang bikin pacarnya seneng, dua hari terakhir ini Altha keliatan berseri-seri. Kayak abis dapet jackpot entah darimana.

Mocca Praline Frappuccino di meja mulai cair, Arsen masih merhatiin pacarnya yang diem sambil senyum-senyum sendiri natap hp nya.

"Tha?"

"U-uh, y-ya kak?"

"Kamu lagi seneng ya?"

"E-engga sih. Aku lagi ngobrol sama temenku."

Temennya Tama.

Yakin temen?

"Siapa sih?"

"Pokoknya ada kak. Dia kuliah di luar kota."

Ada rasa nyesel pas bilang kalo Tama itu temennya yang kuliah di luar kota. Masalahnya, dia bohong. Ini pertama kalinya selama pacaran, Altha bohong ke Arsen.

"Cowok atau cewek?"

"Cowok kak."

"Oh iya." Seruput frappuccino nya, Arsen balik megang hp nya, masih dengan mata awas merhatiin Altha.

Sebenernya, rasanya agak gimana gitu liat raut bahagia Altha bukan karena dirinya. Ya walaupun gak berhak cemburu karena itu cuma temennya doang. Ya tapi kan tetep aja sebagai pacar berhak cemburu.

Gimana kalo seandainya Arsen tau soal ciuman mereka berdua?

Yakin deh, hubungan yang udah dijalin bakal hancur seketika.

-----

Duduk di balkon, nikmatin segelas kopi luwak sambil balesin chat tetangganyam. Maklumin aja sih, jomblo nih. Makanya malmingan sendiri dengan belaian angin malem. Darisini bisa diliat jelas kalo kamarnya Altha masih gelap gulita. Karena biasanya kalo anak itu udah pulang, pasti cahaya putih terang hiasin kamar seberang itu.

"Tama sayang?"

Itu mamanya.

"Kenapa ma?"

"Mama mau tanya sesuatu ke kamu." Mulai serius, Tama taruh gelas kopi di lantai dan hp nya ke kantong celana.

"Tanya apa mama sayangkuu?"

"Pagi tadi, Altha kasih mama bolu pisang. Tumben banget gak sih setelah kalian putus kok tiba tiba muncul depan pintu pagar."

"Tapi mama terima-terima aja kan bolu nya?" Si mama teh ngangguk. "Udah habis juga dimakan papamu. Tau sendiri papamu seneng banget sama buah pisang kan"

"Tamanya cuma makan dikit."

"Ya besok beli ya beli. Gak usah cemberut gitu. Gantengnya ilang." Dicubitnya pipi tirus Tama sama mamanya gemes dan dibales sama erangan gak suka.

"Hmm apa kamu balikan sama Altha?"

Anjir. Si mama teh.

"Altha dah punya pacar ma. Aku ini jomblo."

Please, jadi keinget parodi tayo yang

'HEY JOMBLO, HEY JOMBLO.'

Bangsat bernada :(

"Kalian kenapa gak balikan aja sih? Gemes mama ini liatnya."

Gampang banget anjer si mama kalo ngomong.

"Gak bisa elah mam."

"Bisain dong."

"Yauda iya." Jawaban pasrah Tama langsung bikin nyonya Wirayuda senyum lebar. Detik berikutnya, kerutan di kening mama dan pertanyaan yang keluar langsung bikin Tama mikir.

'Maksudnya Altha baikin mama teh apa ya? Apa dia mau deketin kamu lagi?'

Jawabannya, bisa iya-bisa enggak.

Kalo iya, mereka bakal CLBK.

Kalo enggak, yaudah. Berarti Altha beritikad baik buat temenan aja.

Tapi Tama masih ganjil dong yang di ruangan lab itu.

Bodoamat. Au ah gelap.

-----

Aq gabakal wawancarain Tama x Altha kalo masuk squad SDM. Bener deh😭😭😭

Ini gaje oqe. Ntar kedepan bakal banya konflik. Siapin hati y😊😊

Mantan +btsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang