Sekolah Menengah Atas, Jakarta Pusat
Pukul 10:00 WIB
Mawar membaca novel miliknya di tengah keramaian kelas, beberapa anak bercanda saling melempar-lempar botol, salah satu anak melempar botol ke wajah temannya, sontak kelas terdiam karena anak itu berteriak kesakitan, ia memukul temannya yang melemparnya tadi. Mereka saling memukul dan mendorong, beberapa teman sekelas mereka mencoba melerai, tetapi kedua anak itu tetap saling menyerang.
Danu datang sambil membawa kopi, ia masuk kelas sambil bernyanyi-nyanyi. Tiba-tiba badannya terkena kedua temannya yang sedang berkelahi, Danu dan kopinya, jatuh ke lantai. Kaki Danu sakit, ia meringis dan mencoba berdiri. Ia menghampiri kedua temannya yang berkelahi, salah satu anak lelaki ia maki-maki.
"Ngentot lo! Kopi gue tumpah." Danu menampar lelaki yang ia maki.
Anak itu membalas tamparan Danu dengan mendorongnya, Danu menendang perut lawannya, ia kesakitan lalu Danu mendorongnya ke kursi tetapi ia terguling dan pingsan.
Beberapa anak di kelas memapah tubuh anak itu ke pinggir, salah seorang yang memapahnya beristigfar karena kepala anak itu berdarah. Mawar berusaha menenangkan Danu, ia melotot kepada anak itu.
"Arzi kepalanya berdarah." ucap seorang murid berjilbab.
"Ya Allah." ucap salah seorang murid lelaki yang mencoba menyadarkan Arzi.
Beberapa orang anak ke ruang guru, sementara di luar kelas, Arlin dan Gatef melihat keramaian di depan kelas Mawar, mereka berdua bergantengan tangan, penasaran dengan kejadian yang mereka lihat. Beberapa guru masuk ke dalam kelas, mereka memapah Arzi ke UKS, salah seorang guru menelepon ambulans.
"Halo Mbak, maaf di sekolah kami ada murid kami yang tak sadarkan diri, kepalanya berdarah. Tolong kirim ambulans ke sini Mbak."
"Di mana lokasinya Bu?"
"Di daerah Jakarta Pusat, Sekolah Menengah Atas Melati Jiwa. Tolong segera Mbak!"
"Baik Bu, tolong jangan panik."
Salah seorang guru meminta agar anak yang berkelahi dengan Arzi dan juga Danu menghadap ke kepala sekolah untuk menceritakan apa yang terjadi. Mereka berdua masuk ke ruang kepala sekolah, di ruangan bercat putih itu, di dalamnya ada beberapa piala , beberapa foto guru dan kepala sekolah, dan juga beberapa pajangan. Danu dan temannya duduk di kursi berwarna merah, di hadapan kepala sekolah yang menatap kepada mereka berdua.
"Kenapa hal ini bisa terjadi? Silahkan kalian jelaskan.
"Tadi kami sedang lempar-lemparan botol, tapi mata saya kena lemparan Arzi, lalu saya berkelahi dengan dia. Danu datang sambil bawa kopi terkena tubuhnya oleh kami."
"Baju saya kotor karena mereka Pak. Lalu saya memaki Arzi, saya gak terima Pak, kopi saya tumpah. Baju saya jadi kotor juga."
"Seharusnya kamu tidak memukul Arzi, kamu melerai mereka, bukan begini caranya. Kenapa bisa ada lempar-lemparan botol?! Itu bikin kelas jadi berisi. Kalian harus mengerti. Kalau mau main seperti itu jangan di sekolah. Saya akan melarang semuanya untuk melakukan lempar-lemparan botol karena itu berbahaya. kalian mengerti? Jangan diulangi lagi. Danu, kamu harus ikut ke rumah sakit bersama kami nanti. Kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kamu lakukan terhadap Arzi. Saya tadi sudah menelepon orangtua Arzi, mereka akan ke sini."
Dada Danu bergetar, ia ketakutan, keringat dingin membasahi wajahnya, mulutnya tertutup tidak bisa berbicara apa-apa.
"Baik Pak, saya akan ikut ke rumah sakit."
"Sekarang kalian berdua boleh keluar." pria itu berkata dengan tegas.
Kedua anak itu keluar dari ruang kepala sekolah, Danu melihat Gatef bergantengan tangan dengan Arlin. Danu bernapas dengan kencang, dadanya naik turun, ia merasa cemburu melihat mereka berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wangi Pelet
HorrorArlin adalah seorang remaja SMA yang menggunakan ilmu hitam untuk menarik lawan jenisnya. Ia menggunakan ajian jaran goyang untuk memikat pria yang ia taksir. Ia tak segan untuk menyakiti siapapun yang membuat ia marah. Teman sekolah Arlin, Mawar h...
