Orang itu, Kaisar, datang lagi. Pakaiannya sama seperti kemarin. Yang berbeda hanyalah dia datang dengan membawa mainan. Dan masih tidak melakukan kontak mata.
"Buat apa bawa robot?"
"Ini? Bukan robot. Ini action figur."
Aku melihat mainan di tangannya sekilas, lalu kembali menekuni mangkuk bubur di atas meja. "Kelihatan enggak beda."
"Jelas-jelas beda."
"Kecuali baterai, itu mirip robot."
Kaisar menghela napas keras-keras. "Kamu enggak berwawasan."
Kaisarmemegang robot –atau action figure, mainan, terserah yang mana–, laluberjalan menuju lantai dua. Aku bisa mendengar dia agak terpekik di ujungtangga, mungkin karena melihat bingkai fotonya yang kucopot semalam. Tapisetelah itu, aku tidak mendengar apapun selain keheningan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di sinilah kalian akan kuperkenalkan dengan laki-laki ketiga. Aku menyebutnya Lini Hutan. Garis Tengah Hutan.
Penampilan fisiknya luar biasa, tapi lebih luar biasa lagi jika kau bisa mendengar apa yang keluar dari mulutnya. Kupikir Lude's Cave dan orang berpenampilan seperti gembel bernama Kaisar adalah hal yang paling kubenci yang bisa kutemui sepanjang hidupku. Tapi waktu bertemu dia, laki-laki ketiga ini, aku tahu bahwa aku bisa lebih membenci lagi.
Aku tidak pernah menemukan orang yang berlidah lebih tajam dariku maupun Kino. Aku dan Kino sering kali disamakan dengan sepasang stiletto. Kami tinggi dan tajam. Tapi orang ini berada pada level yang berbeda.
Kadang-kadang dia berpikir dan berbicara secara adagio, kadang-kadang secara andante, kadang-kadang alegreto. Tapi dia lebih sering berpikir secara alegro dan berbicara dengan cara crescendo. Jika dia musik, maka dia adalah musik yang tidak ingin didengar oleh siapapun.
Tapi, begitu kamu mendengarkan dengan seksama, kamu akan bisa menikmati semua nadanya sambil menganggukkan kepala.
Hari itu, di hari yang sama dengan Kaisar membawa mainannya ke lantai dua, dia datang ke Lude's Cave tanpa pemberitahuan. Aku masih membersihkan kaca-kaca jendela di luar dari debu yang sepertinya sudah ada di sana sejak Gajah Mada mengumumkan Sumpah Palapa-nya waktu melihat sosoknya memasuki meja pemesanan. Aku langsung berlari masuk untuk menghampiri.
"Siapa kamu?" Dia berbalik mendengar suaraku dan tersenyum ramah. Aku menyipitkan mata dan bertanya dengan ragu, "Kaisar?"
"Kaisar?"
Tubuhku menegang. Tidak. Bukan Kaisar. Walaupun baru dua kali bertemu dengan laki-laki itu, aku tahu bahwa Kaisar tidak memiliki rasa percaya diri dalam suaranya. Laki-laki ini punya. Kecurigaanku terhadap tempat ini menjadi satu level lebih tinggi.