rumah

104 7 2
                                        

sesekali ia mengerang
menghela napas sembarang
memori masa lalu kian menerjang
gerogoti pikirannya dengan berang

sesekali ia mengaduh
memori itu tertawa dengan gaduh
ia perintah hatinya agar tak acuh
sial—sang hati berlagak tak patuh

yang ia cari hanya jalan pulang
ke tempat peraduan;
tapi, kemana?

— 17.28, tak punya tujuan

aksara tanpa suaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang