Apakah Aku Perempuan Paling Bahagia?
Bukankah kita tidak bahagia karena kurangnya bersyukur?
Lalu, apa definisi bahagia menurutku yang sejatinya sederhana saja. Aku bahkan gagal merasakan kebahagian yang seharusnya sudah jadi milikku. Berapa kali aku gagal mendefinisikan sebuah kebahagian didalam rumah tanggaku. Aku malah menjerumuskan diriku sendiri. Entah apa yang membutakan mata dan hatiku, hingga hilanglah kejernihan pikiran itu.
Apakah aku perempuan paling bahagia?
Ya, tentu saja. Setelah semuanya terjadi, barulah aku menyadari, bahwa betapa beruntungnya aku, menjadi seorang istri sekaligus seorang Ibu. Hampir tidak ada yang perlu aku khawatirkan.
13 Januari 2015, pukul 10.15 Wita, Angga Darmawan Aksara mengusapkan kedua belah tangannya ke wajah sebagai tanda syukur bahwa Ia telah selesai dengan lancar mengakadku. Seketika itu aku menjadi bagian dari dirinya dan dia adalah bagian dari diriku. Kedua keluarga menitikkan air mata tanda kebahagian yang tak terkira sekaligus tersirat harapan agar kedua mempelai dapat hidup bahagia selamanya hingga maut memisahkan.
17 November 2016, Tanisha Mulya Dewita, putri cantikku terlahir menjadi pelengkap kebahagian yang nyaris sempurna. Ia menyempurnakan definisi kebahagian bagi semua orang, tapi tidak bagiku.
***
Angga Darmawan Aksara, suami ku yang romantis dan pengertian. Dia romantis karena dia tak pernah melewatkan hari ulang tahunku tanpa sebuah kejutan, dan kejutan yang terindah adalah ketika Ia melamar diriku di bawah kembang api raksasa yang begitu indah menyala di langit pada malam tahun baru 2015 di Kota kelahiranku Samarinda.
"Aku akan menjadikanmu ratu bagiku dan Ibu bagi anak-anakku, maukah kamu wahai Diandra Calista Anum, menjadi istriku?" Dia berkata sambil menyematkan sebuah cincin emas di jari manis ku.
Aku yang tidak menyangka akan dilamar setelah 2 tahun berpacaran, merasa begitu terharu kala itu. Hanya saja, aku yang terlahir dari keluarga sederhana ini tidak pernah menyangka akan dilamar dengan seromantis itu, bahkan menjadi pacarnya saja aku masih sering bertanya-tanya, kenapa dia tidak memilih perempuan yang lebih cantik dan kaya untuk menjadi pacarnya.
"Kesederhanaanmu Diandra, aku suka caramu bicara, gayamu berpakaian, bulu matamu yang panjang, dan badanmu yang mungil" aku tiba-tiba teringat kata-kata Angga ketika aku menginginkan jawaban saat Ia menyampaikan rasa sukanya padaku dulu di Perpustakaan.
Kami saling kenal dari seorang teman. Kebetulan kami satu kampus di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik tetapi berbeda jurusan. Aku dan sahabatku Wina jurusan Administrasi sedangkan Angga di jurusan Hubungan Internasional.
Saat itu, aku dan Wina sedang makan siang di Rektorat Universitas Mulawarman tempat kami memperoleh gelar Sarjana, tiba-tiba Wina memanggil Angga dan temannya yang sedang sibuk mencari meja kosong untuk mengisi perut mereka yang juga kosong. Melihat dua orang laki-laki mendekat ke arah meja kami, aku pun memperbaiki gaya duduk dan poniku.
"kenalin nih temen satu kelasku, Diandra" Wina sambil meraih tanganku untuk bersalaman dengan Angga yang tampak agak sedikit malu. Aku pun menyalami Angga dan teman disampingnya, Febrian.
"Diandra" kataku sambil memberikan senyum termanis.
Ternyata Wina dan Angga adalah teman waktu SMA dan alumni mereka sering mengadakan reuni agar tidak saling melupakan satu sama lain. Begitu sekilas Wina bercerita padaku
Sambil menunggu pesanan masing-masing datang, Febrianlah satu-satunya orang di meja kami yang paling banyak bicara, sesuai dengan jurusannya Hubungan Internasional, mungkin baginya menjaga hubungan di meja makan sama pentingnya seperti menjaga hubungan antar negara, Dia terus mengoceh soal Raditya Dika sambil sedikit menirukan gaya komika terkenal itu. Berbeda dengan Angga yang sedari tadi ku perhatikan wajahnya merah seperti sedang menahan sesuatu.
Selain romantis, Angga suami yang sangat pengertian. Sejak awal menikah denganya, semua kebutuhanku terpenuhi. Mulai dari tempat tinggal, kami tidak perlu menyewa seperti kebanyakan pasangan yang baru menikah. Orang Tua Angga membelikan kami rumah tipe 58 sebagai hadiah pernikahan. Angga juga tidak pernah menuntutku menjadi seorang istri yang jago masak dan sebagainya. Dia malah membayar seorang asisten Rumah Tangga untuk bekerja dirumah sekaligus menemaniku ketika Dia harus ke luar kota untuk bekerja. Bahkan sampai Tanisha berumur 4 tahun Angga masih memperkerjakan seorang pengasuh, padahal aku tidak ada kegiatan lain selain sebagai Ibu Rumah Tangga.
"Sayang, sekarang, Tanisha udah 3 tahun, aku bisa kok jaga dia dengan baik, lebih dari pengasuh, mending pengasuhnya Tanisha suruh berhenti aja", kataku pada Angga sambil mencium punggung tangannya.
"Aku enggak mau kamu kesepian dirumah kalau aku enggak ada, pengasuh Tanisha enggak papa sampai nanti pas Tanisha ulang tahun ke 4 aja" katanya sambil mencium keningku lalu menuju mobilnya dan berangkat kerja.
***
13 Januari 2020
Aku sedang menonton drama korea yang sedang hangat dibicarakan di twitter dan instagram, Crash Landing On You. Tiba-tiba bibi datang membawakan satu buket bunga dari luar.
"bu, tadi dianter sama kurir, dari Pak Angga bu" .
"Selamat hari pernikahan kita" begitu kurang lebih tulisan yang kutemui dibalik buket cantik yang diisi dengan bunga berwarna-warni itu.
"Astaga, aku aja lupa kalau hari ini, hari pernikahan kami", gumamku dalam hati.
Di tahun ke lima pernikahan ini, hidupku seperti tak berwarna. Rasanya, sangat membosankan menjadi diriku yang sekarang. Aku bosan menunggu Angga pulang kerja. Aku bosan hanya menonton drama korea setiap hari. Aku bosan hanya bermain bersama Tanisha. Aku bosan mendengar cerita cerita Bibi tentang keluaranya di kampung. Aku sangat bosan dengan hidupku. Terlebih ketika bercinta dengan Angga, aku tidak bisa merasakan getaran apapun lagi.
Aku gagal menikmati kebahagian yang kalian ingin rebut dari wanita seperti aku. Aku terjebak dalam sebuah ilusi kebahagiaan yang membodohkan dan menjerumuskan.
Setiap hari tanpa rasa Syukur adalah Kehancuran.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Wedding
RomanceKarena mahar yang kau berikan padaku, telah aku nodai. dan hatimu telah aku lukai.