Perjalanan ini sangat menyenangkan. Terlebih kami diberikan kamar dengan pemandangan langsung ke arah pantai. Aku pun tak ingin melewatkan setiap detik keindahan Bali yang membangkitkan kembali gairah travellingku.
Aku segera membersihkan diri, dan ku biarkan Angga terlelap sejenak. Sambil merasakan kehangatan air di kamar mandi hotel, aku kembali terusik dengan Rian yang baru saja aku lihat di resepsionis. Karena terburu buru menuju kamar, aku mengurungkan niat untuk menyapanya. Mungkin saja dia memang sedang melakukan perjalanan Dinas disini, gumamku dalam hati.
Angga masih saja terlelap, tak ingin membangunkannya, aku pun mengirim pesan melalui whatssap, bahwa aku keluar berjalan-jalan di pinggir pantai untuk menikmati sore. Aku yakin setelah terbangun dia pasti akan mengecek hp nya karena mencariku.
Setelah berjalan tak seberapa jauh, aku pun terkejut melihat Rian sedang memotret dua orang gadis, mereka terlihat begitu seksi, tampak Rian seperti sudah sangat profesional bak fotografer mengarahkan gaya kedua gadis itu. Merasa dirinya aku perhatikan tak jauh dari tempatnya, Rian pun mengarahkan kameranya kepadaku lalu memotret aku yang sedang berdiri. Aku pun terkejut dengan tingkah Rian, mendadak aku menjadi salah tingkah. Rian pun berlari ke arahku, nampak senyum manisnya seakan menggoda kebingunganku.
"Hey Girl", Rian menyapaku yang masih salah tingkah.
"Ya hai", jawabku seadanya.
"Cie, lagi nungguin sunset atau nyariin aku".
Aku pun semakin salah tingkah dengan Rian. Seketika aku pun tersadar bahwa aku tidak ingin terbawa perasaan dengan pria ini.
"Kamu bisa aja", balasku, karena aku bingung harus memberikan jawaban seperti apa.
"Jalan bareng yuk",
"Loh, kamu ngga lanjut moto cewek-cewek itu lagi", tanyaku
"Enggak ah, kan udah ada kamu", Rian pun langsung memegang tanganku dan menarik mengajakku berjalan setengah berlari mengikuti langkahnya. Aku yang kebingungan, tak dapat berbuat apa-apa.
Rian masih saja memegang tanganku. Aku yang merasa tak nyaman, mencoba melepaskan genggamannya. Tetapi Rian dengan sigap mengalihkan perhatian dengan mengajakku berbicara.
"Bali bahaya lo, kalau kamu enggak pegangan dengan erat, kamu bisa ilang".
Aku yang mulai terbawa perasaan pun, seakan terlupa bahwa aku adalah seorang istri dan seorang Ibu. Bukankah Rian mengetahui bahwa aku sudah mempunyai seorang suami dan anak, lalu mengapa Ia memperlakukan aku seperti seorang gadis yang selama ini seolah sedang Ia nantikan kehadirannya.
Tiba-tiba saja, sunset yang indah hadir tepat dihadapan kami berdua. Sambil melihat sunset, sesekali aku melihat tangannya yang masih saja menggenggam tanganku seraya berkata didalam hati "Kenapa pria ini, hadir dalam hidupku, begitu saja, tak pernah aku bayangkan sebelumnya, dan membuat perasaan yang berbeda hadir didalam hatiku. Keindahan ini tak pernah aku rasakan ketika bersama Angga".
Karena hari sudah mulai gelap, aku pun mendapat alasan untuk beranjak meninggalkan Rian.
"Aku ada makan malam dengan suami", kataku dengan agak sedikit sinis kepada Rian.
"Oke, sampai ketemu besok ya, semoga makan malamnya menyenangkan", jawab Rian sambil mengedipkan matanya padaku.
Aku hanya berlalu menyisakan seribu tanya di kepala.
Tibanya dikamar hotel, aku melihat Angga sudah rapi dengan kemeja abu-abu andalan pemberian sahabatnya tahun lalu. Dia nampak begitu tampan malam ini. Aku tak bisa menahan untuk tidak mendekat dan memeluk tubuhnya. Lama sudah aku seperti kehilangan rasa padanya. Namun, melihat penampilan dan bau parfumnya aku pun tergoda. Aku tak bisa bohong bahwa sekarang aku sedang merasakan kebahagian yang lama sudah tidak aku rasakan. Entah karena liburan ini, kebaikan Angga, atau seorang Rian. Aku masih bingung merasakan perasaanku. Yang jelas saat ini aku merasa sangat bahagia, sama bahagianya seperti pertama kali Angga melamarku. Tiba-tiba terbesit dipikiran bagaimana mungkin aku bisa menghianati cinta Angga yang begitu terasa tulus padaku. Aku tidak akan pernah tega.
Malam ini benar-benar malam terindah di Bali bersama Angga. Makan malam bersama yang tidak begitu mewah namun terkesan sangat istemewa bagiku. Aku kemudian terusik oleh pikiranku yang selalu teringat oleh sikap Rian, dia pastilah hanya sebuah ketidaksengajaan, sementara aku yakin waktu secara perlahan pun akan membuatnya menjauh dari hidupku. Aku tak mau tahu lagi apapun tentangnya. Aku harus menghilangkan Rian sesegera mungkin dari alam pikiranku. Meski sempat terpiki olehku untuk mendapat kebahagian dari laki-laki lain. Namun malam ini, sosok pria yang berada dihadapanku ini begitu lembut dan tak pernah membuat hatiku terluka, bagaimana mungkin aku bisa menghianati cintanya.
"Diandra," suara lembut Angga memecah lamunan setengah sadarku.
"Iya sayang" jawabku
"Aku ingin bercerai".
Aku hanya terdiam mendengar perkataan Angga. Sebuah kata yang bagiku tak mungkin terucap dari bibirnya. Aku gugup, kepalaku terasa sakit, dadaku berdebar dengan sangat kencang, kenapa dia begitu tega mengeluarkan kata kata seperti itu ditengah kebahagianku. Tidak mungkin!

KAMU SEDANG MEMBACA
The Wedding
RomanceKarena mahar yang kau berikan padaku, telah aku nodai. dan hatimu telah aku lukai.