Sha
Pagi yang mendung untuk Jakarta saat ini saat aku baru saja tiba di kantor. Untungnya saja sudah sampai kantor coba kalau belum bisa kehujanan di jalan.
Agenda kali ini yaitu rapat yang akan diadakan oleh pemimpin redaksi dan semua jurnalis harus mengikutinya termasuk aku. Aku juga penasaran kenapa ada rapat dadakan seperti ini.
Aku telah menempati kursi kosong yang tersedia di ruangan ini. Jujur saja, aku orang yang gampang penasaran tapi mulutku masih enggan bertanya kepada orang disekitarku karna aku tahu orang – orang disini pasti hanya menerka – nerka.
"gue denger – denger pemimpin redaksi bakal ngumumin siapa yang ke Lebanon" bisik Arini saat baru saja mengambil duduk di sampingku. Dia merupakan teman seprofesiku.
Dalam hati aku jadi takut, bagaimana kalau aku dikirim ke Lebanon.
Pemimpin redaksi pun datang dan tanpa basi – basi langsung menyampaikan point dari rapat ini.
"pagi semua. Maaf atas rapat dadakan ini dan langsung to the point saja kalau sebelumnya terdapat beberapa kandidat yang akan ditugaskan ke Lebanon dan kami memutuskan Andi, Sharmila, Feni, Agus untuk sementara waktu ini. Pengumuman selanjutnya menyusul dan terima kasih atas waktunya"
Ketika pemimpin redaksi pergi meninggalkan ruangan aku seperti linglung dan ingin marah. Why me?
Sebenarnya dalam profesiku ini yang notabenya mencari berita dari berbagai tempat bahkan dunia karena aku bekerja di perusahaan media internasional lebih tepatnya WorldWide News atau biasanya disingkat WWN haruslah siap ditugaskan sewaktu – waktu tapi tugas ini terlalu extreme menurutku. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?
"semangat, Sha. I know what's inside you. Balik yuk" ajak Arini menghiburku dan aku menurutinya.
Aku sampai di meja kerjaku dengan pikiran yang kacau tanpa sepatah kata pun. Rasanya tidak bersemangat padhal ini masih pagi.
"Teman – teman gue mau nawarin kalian kerudung nih, mumpung tanggal muda boleh kredit sis"
Aku mendongak ke arah suara tersebut tenyata Riris yang sedang menawarkan dagangannya. Memang kuakui dia pintar mencari peluang.
"ah lo, Ris racun tau gak" celoteh Arini disusul teman – teman yang lain sementara aku diam termenung di meja kerjaku
"eh Sha, diem mulu dari tadi. Semangat dong" celoteh Riris yang kutimpali dengan senyum
"gratis deh buat Sharmila yang satu ini" ucap Riris memberikan aku sebuah kerudung dan aku tahu dagangan Riris ini bukan kerudung biasa melainkan kerudung dari desainer ternama tanah air yang harganya kisaran tiga ratus ribu rupiah. Bukannya aku tidak bisa membeli satu buah kerudung ini di tanggal muda tapi benarkah ini?
"serius lo, Ris? Ini kan mahal banget" ocehku pada Riris
"gue serius lha ngapain juga bohong. Dipake yah waktu siaran nanti. Semangat Shakuuuu" ucap Riris dengan gemas dan memelukku
"eh Sha, lo tau kan kalau di Lebanon itu misi perdamaian dunia?" tanya Arini
"tau lah. Mangkannya gue takut, Rin"
"lo tau kan dalam misi perdamaian dunia itu pasti bakal banyak tentara – tentara gitu yang ganteng – ganteng. Nah, lo kan jomblo sapa tau ada yang nyantol terus setahun kedepan lo udah nyebar undangan ke kita – kita" celoteh Arini
"nah bener tuh, Sha. Sapa tahu aja kan disana ada nyantol sama lo? Lagian lo kan udah 26 tahun, kita aja udah nikah malah Arini udah punya anak. Jodoh kan gak tau dimana, Sha. Bisa aja jodoh lo di Lebanon" celoteh Riris yang mendapat sambutan dari beberapa orang yang mengerubuti meja kerjaku.
"bener tuh, Sha. Udah jangan murung lagi. Setahun gak bakal terasa kok kalau lo udah punya cowok. Cieee" celoteh Lulu
"eh apaan sih lo semua malah ciee ciein gue kayak anak SMA. Tapi makasih yah suportnya. Doaian gue balik ke sini dalam keadaan utuh"
"pastinya dong, Sha. Ah lo ini, gue jadi mewek kan?" ucap Riris dan kutertawai dia.
***
2 bulan kemudian
Kakiku sudah menginjak tanah Lebanon saat ini tepatnya di Beirut. Cuaca yang sangat panas menyambut kedatangan kami disini untuk menunggu jemputan dari markas UNIFIL.
Butuh waktu yang cukup lama untuk sampai di tempat tujuan dimana kami akan tinggal setahun kedepan. Tak terasa perjalanan pun selesai dan kami tiba di tempat tujuan.
Aku melihat beberapa tentara menyambut kami dan ada satu yang menarik perhatianku sehingga aku melupakan rasa takutku untuk menginjakkan kaki di Lebanon.
Ya Tuhan, makhluk apakah dia? Sungguh indah ciptaanmu.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Expected Faith
RomanceBercerita tentang tugas yang diemban oleh kedua insan manusia di negara asing yang mengemban misi perdamaian dunia selama satu tahun hingga hati mereka berdua yang berdamai dengan bersandingnya cinta yang tulus di hati mereka. Sharmila Amalia Kamil...