9

70 6 0
                                    

Yudha

Tidak bisa tidur setelah tahajud bukanlah masalah untukku lagi pula sekalian menunggu sholat subuh. Kulirik jam di ponselku, pasti saat ini pukul delapan pagi di Indonesia. Kuputuskan keluar dari barak agar tidak mengganggu rekan – rekan yang lainnya yang sedang tidur.

Aku menelpon adikku. Dia sedang menjalani skripsi saat ini.

"Assalamualaikum Mas Yudha" sapanya disana

"waalaikumsalam Syah"

"disana masih jam tiga malem loh, Mas"

"jam tiga pagi, Syah. Salah kamu"

"yadeh, aku salah. Mas Yudha kok udah bangun? Pasti tahajud minta jodoh ya?" tebaknya dengan terkekeh

"salah satunya sih"

"Mas harus janji pokoknya, nanti pas aku wisuda, Mas datang bawain kakak ipar buat aku"

"gak segampang itu, Syah. Ada – ada aja kamu itu" kekehku kepada adikku sendiri. Kadang yang diminta itu aneh – aneh

"Mas kan udah tua, masak belum nikah juga"

"Mas belum empat puluh tahun, Syah. Enak aja ngatain tua" omelku pada adikku

"Mas tau kan aku udah dilamar. Mami gak mau aku ngelangkahin Mas"

Aku ikut berpikir juga kali ini. kasihan juga adikku kalau gak nikah – nikah cuman gara – gara aku.

"tapi aku gak mau Mas nikah sama Mbak Karina. Auto tolak Mas" ucapnya dan aku terkekeh. Aku ingat betul kalau adikku – Aisyah sangat tidak menyukai Karina karena menurut dia Karina itu rempong dan sok pintar

"terus kamu maunya Mas cari perempuan yang kayak gimana?" godaku pada adikku

"pokoknya jangan kayak Mbak Karina, Mas. Sebel aku lihat mukanya. Gitu Mas dulu cinta banget sama dia. Heran aku"

"kan Mas sama Karina udah putus. Udah dong, jangan jutek mulu" hiburku pada adikku

"untuk yang satu ini aku lega tapi Mas cariin aku kakak cewek dong. Nanti aku ajak tidur bareng, masak bareng, apa lagi yah? Belanja bareng mungkin" ucap Aisyah sambil berhayal layaknya anak kecil

Adikku ini sudah dewasa bahkan dia sudah dilamar oleh kekasihnya tapi anehnya dia itu manja sekali.

"yang penting sholehah, Syah" ucapku singkat

"nah, point utama tuh"

"Mas sehat kan disana? Aku kangen" ucapnya manja

"Mas juga kangen kamu, mami, sama papi kok"

"Mas cepet pulang yah. Diajain latihan pancak silat mulu sama Dhenis"

"iya – iya. Kamu juga semangat ngerjain skripsi biar tuntas terus cepet nikah"

"dan ngikutin jejak mami" ucapnya antusias

"iya – iya calon ibu persit. Ibu persit gak boleh manja" ucapku gemas pada adikku

"enak aja ngatain aku manja" omelnya dan aku terkekeh

"yaudah, Syah. Ms mau tidur lagi. Ngantuk juga dengerin suara kamu"

"Mas kira aku dongeng apa. Yaudah deh, assalamualaikum"

"waalaikumsalam"

Tak kusangka mendengar suara adikku – Aisyah ternyata membuatku cepat mengantuk lagi. Aku kembali tidur sebelum waktu subuh.

***

Sebagai komandan kompi A aku harus selalu dituntut waspada dengan ancaman sekitar karena Lebanon merupakan daerah konflik dan banyak kelompok – kelompok di negara ini yang ingin memegang kekuasaan.

The Expected FaithTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang