Angkot yang ditumpangi Isah lumayan penuh, meski sebenarnya tidak sesak. Namun Mas Yus duduknya hampir terlalu mepet untuk ukuran bangku untuk 6 yang hanya diduduki 4 orang ini. Modus? Ya biarlah! Isah juga senang kok. Sedikit-sedikit tangan mereka bersentuhan, membuat jantungnya melonjak-lonjak seperti jalannya angkot di jalan yang tak rata.
"Kamu udah sarapan, dek?" Lagi-lagi jantung Isah kelojotan mendengar panggilan itu. 'Dek' aaaahh seneng!
"Udah tadi pagi. Sayur lontong setengah porsi sama nasi uduk sebungkus," jawabnya malu-malu.
"Pake lauknya apa?"
"Tahu isi 2. Tempe 1, mas." Isah nunduk. Kenapa kalo deket Mas Yus rasanya wajahnya terbakar terus ya?
Mas Yus tak meledek nafsu makannya yang melebihi rata-rata perempuan ceking jaman now. Mas Yus malah suka karena artinya Isah mensyukuri pemberian Tuhan. Gitu sih gombalnya dulu. Tapi gak apa-apa biar gombal juga, Isah sukaaa!
Mereka pun tiba di bukit berbunga. Tempat yang indah. Di sana kita slalu datang berdua. Bukit berbunga... (yang bacanya sambil nyanyi, seangkatan dong kita! Yang blm tau, cari di yutub. Itu soundtrack Isah hari ini). Sebenarnya bukitnya sih tidak tinggi, namun jalannya meliuk-liuk, banyak belokan & dipenuhi bunga-bunga berwarna-warni. Isah merasa ini bukan tempat hiking, melainkan tempat kencan. Tapi karena Mas Yus bilangnya hiking, maka dia pun akhirnya persiapan total. Sesaat Isah melihat ke sepatu gunungnya yang mahal & ransel di punggungnya. Berlebihan gak ya?
Namun saat matanya bertumbuk pada topinya, lalu melirik Mas Yus & melihat topi biru di kepalanya, Isah jadi gembira lagi. Teringat waktu tadi pagi dia memberi topi itu, Mas Yus langsung memakainya tanpa protes. Penghargaan kecil namun sangat berarti.
"Yuk dek kita jalan," Mas Yus mengulurkan tangannya menawarkan gandengan. Isah langsung menyambarnya bak elang menyambar anak ayam. Kan tidak nyosor, pikirnya defensif. Ini ditawarin lho.
Perlahan mereka berjalan menaiki bukit berbunga. Tangan Mas Yus agak basah karena keringat. Isah ingin mengelap tangannya namun tak mau melepaskan gandengan yang nanti belum tentu ditawari lagi. Tapi makin lama pegangannya makin licin. Aduuhh bagaimana ini?
...bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Babu-Babu Metropolitan
HumorIjah dan Imah adalah dua orang babu yang dalam kehidupan bermasyarakat dianggap kasta terendah. Namun dalam menjalani kehidupan, mereka suport satu dengan yang lainnya. Ijah tergolong baru di dunia perbabuan. Pengalamannya masih belum bisa dibanding...
