Mendengar penuturan Imah, Ijah jadi menyesal mengambil inisiatif saat kencan kemarin. Harusnya dia menjajaki keseriusan Bang Wis dulu. Apalagi status sosial mereka jauh berbeda. Dia harus yakin kalau Bang Wis memang serius atau hanya main-main.
Sejak mereka dekat, majikannya selalu nyinyir. Entah itu karena dia merasa kalah set, secara dia masih single sementara Ijah malah dapat pacar berkualitas prima, atau memang karena majikannya kurang piknik.
Kemarin saja pulang dari kota tua, majikannya tak menanggapi cerita Bang Wis dengan antusias. Terlihat sekali dia iri pada Ijah yang dipaksa duduk di samping kekasihnya itu, majikannya sibuk melirik secara terang-terangan pada tangan mereka yang seperti dilem aika aibon.
Bang Wis malah barusan minta diambilkan minum sama adik sepupunya itu. Ijah langsung menunduk dalam-dalam, saat sang majikan melemparkan pandangan setajam silet ke arahnya. Tenang... dia gak akan berani ngapa-ngapain... tarik napas... Ijah bermeditasi.
"Kamu suka nggak ke museum kemarin?" Bang Wis bertanya padanya. Hampir setiap hari Bang Wis datang ke rumah ini untunbertemu. Kangen, katanya. Ijah mengangguk sambil berdoa semoga gak ditanya sukanya saat di bagian mana, karena dia sebenarnya gak begitu peduli sama patung-patung & benda kuno itu. Beda dengan Bang Wis yang arkeolog (Ijah juga baru tau apa itu arkeolog, orang yang suka benda purba) Eh, jangan bilang dia suka ama aku karena... Ijah buru-buru menepis pikirannya.
Bang Wis menunjukkan foto-foto selfie mereka. Di museum, es krim ragusa (katanya terkenal, tapi buat Ijah enakan es kenong yang lewat depan rumah), pelabuhan sunda kelapa, naik bis tingkat, bahkan Bang Wis mengajaknya ke perpustakaan nasional yang tinggi itu. Ijah pusing naik lift.
Mereka tampak seperti pasangan serasi. Tidak terlihat seperti majikan & babu (ya, secara teknis sih dia sepupu dari majikannya, tapi sama saja toh?) Bang Wis mengirim foto-foto itu ke hp Ijah.
"Aku boleh posting gak Bang?"
"Tentu saja! Pasang di semua sosmed kamu. Kamu harus pengumuman kalau kamu sudah ada yang punya! Biar gak ada yg deketin kamu lagi."
"Ih, gombal!" Ijah tersipu.
"Aku serius!" Bang Wis mengacak-acak rambut Ijah dengan sayang. Ijah makin berbunga-bunga.
Ini mimpi bukan sih? Kalau iya, dia gak mau bangun. Tak peduli di mimpi itu ada majikannya yang sedang menatap mereka dengan ekspresi ingin muntah.
...bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Babu-Babu Metropolitan
UmorismoIjah dan Imah adalah dua orang babu yang dalam kehidupan bermasyarakat dianggap kasta terendah. Namun dalam menjalani kehidupan, mereka suport satu dengan yang lainnya. Ijah tergolong baru di dunia perbabuan. Pengalamannya masih belum bisa dibanding...
