BAB SEMBILAN

32.9K 1.6K 10
                                        

Assalamu'alaikum..

Sebelumnya aku mau cerita, aku ragu banget buat publish belakangan ini, karena entah kenapa mendadak imajinasi aku ga selancar biasanya :( jadi takut malah kalian gak suka ):

So ya, cuma mau bilang, maaf kalo misal ga sebagus cerita2 lain, dan semoga kalian masih semangat nunggu cerita iniii❤️❤️❤️

Okey! Hepi riding!!

---

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

---

Langkah kakinya membawa Maira ke dalam ruang guru yang sudah terlihat sepi. Jam istirahat sedang berlangsung hingga tiga puluh menit ke depan dan kemungkinan beberapa guru sudah pergi lebih dulu untuk makan di luar.

Maira baru selesai mengajar di kelasnya. Ia merasa begitu lelah. Selain karena tugas murid-muridnya yang semakin menumpuk dan menunggu untuk dinilai, tadi baru saja datang masalah antara dua orangtua siswanya yang terlibat perkelahian dan masing-masing dari mereka tidak mau mengalah, karena menganggap anak mereka lah yang benar.

Sebelum menjadi guru, Maira sudah bisa menebak apa saja resiko yang akan dihadapinya dan Maira sudah siap untuk menghadapinya. Hanya saja untuk hari ini, Maira merasa lengah. Gadis itu merasa harinya belakangan ini terasa begitu berat.

Dua Minggu sudah setelah kejadian dimana Azzam melamarnya dengan tiba-tiba. Dan selama itu pula pikiran Maira benar-benar tersita karenanya. Bukan karena Azzam, lebih tepatnya dua lelaki yang melamarnya dalam waktu berdekatan. Hal itu membuat Maira cukup kewalahan untuk menemukan jawaban yang tepat.

Setibanya di kursi tempatnya bekerja, gadis itu langsung mendudukkan dirinya dan meletakkan beberapa buku yang dibawanya untuk mengajar.

Ia menelungkupkan kepalanya pada kedua tangannya yang terlipat diatas meja. Memejamkan matanya berharap agar rasa pening yang ia rasakan bisa hilang.

Istirahatnya tidak teratur. Jam tidurnya berantakan, bahkan makan pun ia masa bodoh karena memikirkan masalah lamaran Azzam dan Hafidz.

Maira takut ia salah langkah, jika ia tidak memilih keduanya, ia takut mengecewakan kedua lelaki itu. Jika ia memilih salah satu diantara keduanya, berarti harus ada satu hati yang tersakiti, jika ia memilih Azzam, maka pinangan Hafidz harus ia tolak dan akan mengecewakan Abah, karena Abah lah yang memilihkan Hafidz untuk menjadi suaminya.

Ia tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya. Mereka sudah terlalu baik untuk mengasuhnya sejak kedua orangtua kandungnya meninggal. Yang Maira ingin lakukan sekarang adalah membalas kebaikan Abah dan Ummi meski ia tahu bahwa itu semua tidak sebanding dengan pengorbanan orangtua angkatnya itu.

Pilihan satu-satunya, ia harus memilih Hafidz. Lelaki pilihan Abah yang Insha Allah akan menjadi pilihan terbaiknya. Alasannya cukup masuk akal, ia tidak mengenal Azzam dan Hafidz adalah pilihan Abah. Berasal dari keluarga yang terhormat dan menganut agama Islam yang sangat erat.

Tapi ada satu hal yang membuat sisi lain hatinya menolak.

Allah, bahkan dalam keadaan memejam pun, bayang-bayang yang dua Minggu belakangan ini selalu memenuhi pikirannya, masih saja terlintas di pikirannya.

Kepala yang terasa pening bukannya berkurang justru semakin bertambah.

Dalam telungkupnya, gadis itu menarik napasnya dalam, menenangkan diri dan berusaha melupakan masalah yang entah kenapa menjadi beban beratnya.

Assalamu'alaikum Kekasih HalalkuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang