anthony gak perlu snooze alarm kayak biasa, dia lagi mood pagi ini. bangun, yang dituju lemari dan ambil satu kaos polos, pinjam. habisnya dia lupa taruh baju dimana semalam.
dia pergi ke dapur, ambil dua bungkus mie instan dan nyalain kompor. cuma ini yang anthony bisa, masak mie. atau goreng telur, jelas. kalau yang lain, anthony malas belajar masak. dia bisa beli, atau mending makan di luar.
"bikin apa?" kursi bar ditarik, anthony nengok. cowoknya yang masih top-less dan cuma pakai boxer duduk disitu. dia ganti ucapan selamat pagi pakai senyum.
"biasa."
"mie lagi?"
"bikin nasi goreng juga kata kamu gak enak." anthony mendecak, "mau makan ini gak?"
"iya, iya."
anthony balik memasak. matikan kompornya waktu dirasa sudah matang, sedikit kerepotan buat tuangin ke mangkuk.
"dimakan, ya?" anthony taruh satu mangkuk didepan cowoknya.
"pasti!"
anthony terkikik, duduk dan juga makan mie buatannya sendiri. ya, seenggaknya cowoknya sarapan.
"thon," panggil cowoknya setelah memakan dua sendok.
"ya?"
"kayaknya kamu harus ambil kelas masak, deh."
anthony berhenti makan, letakkan sumpit yang tadi dipegang dan tatap pacarnya gak percaya.
"kenapa? se-enggak enak itu emang?"
"bukan gitu. aku pengen kamu punya kerjaan yang serius," katanya, kedengerannya pelan. tapi ini menyinggung anthony.
anthony menghela napas, sama sekali nggak pengin lanjutin makan lagi. pembahasan kayak gini udah berkali-kali terjadi, dan tahu, bakal akhirnya gak baik. dia sebetulnya capek.
"viktorㅡaku punya kerjaan."
"aku tau. tapi kamu gak pernah serius,"
"kenapa, sih?"
"pekerjaan kamu gak pernah bertahan lama."
sebetulnya, ini satu-satunya keraguan di hidupnya. iya, anthony tahu ada yang salah. masalah pekerjaan, masa depannyaㅡ
ㅡkecuali masalah asmara, dia yakin viktor baik-baik saja. viktor jelas-jelas sayang dan selalu melindungi anthony, kecuali ragu akan masa depannya. viktor cuma khawatir, sepertinya.
cuma masalah pekerjaan. anthony terlalu gak peduli, dia yakin nantinya bisa dapat pekerjaan yang memang cocok. kalau saat ini, beberapa pekerjaan sebelumnya buat dia gak nyaman. anthony gak suka, dia butuh kenyamanan.
menurutnya, semua yang dilakukan bakal berhasil baik kalo dirinya nyaman, kan?
dan lagian, ini masalah sepeleㅡ
"thon, kita putus aja."
ㅡnggak. ternyata, bukan lagi sepele. kalau viktor sampai begini, artinya viktor nggak tahan sama anthony yang gak konsisten, kan?
anthony lihat viktor yang tatap dia serius, matanya isyaratkan kelelahan. apa, sih? beneran cuma gara-gara ini?
"apa?"
"putus, kayaknya kita harus putus." katanya lagi, diperjelas.
"cuma karena masalah ini?" nada bicara anthony naik. dia nggak ingin ini terjadi.
viktor mendorong maju mangkuk mie-nya sedikit, sisain ruang, disitu dia taruh lengannya. artinya, pembicaraan ini betul-betul serius. viktor sampai hela napasnya lagi dalam-dalam.
se-merepotkan itu anthony?
se-berantakan itu hidup anthony?
jauh-jauh sebelumnya, anthony sebetulnya tau. iyaㅡdia sadar, dari semua masalah, keseriusan dia buat ambil langkah berkarier emang kacau.
"thon, mulailah serius. aku mulai capek dukung kamu selama ini," viktor memulai, tatap mata anthony berani, "masalah kemarin bikin aku dipandang buruk."
anthony, didepannya, mencoba buat gak nangis. "masalahㅡapa?"
"kenapa gak datang interview? itu kantorku, anthony. aku rekomendasi-kan kamu ke atasanku,"
buat masalah itu, anthony sebetulnya nggak terlalu yakin.
cowoknya usap pelipis dan mengerang, ya, dia ini betulan lelah. anthony gak pernah tahu. tapi kenapa? bukannya viktor pernah bilang kalau dia bakal selalu dukung anthony buat masalah apapun itu?
"viktorㅡ"
"nggak, thon. kamu nggak bisa jatuh dan terus datang ke aku gitu aja tanpa kamu berusaha. kamu gak pernah dewasa, terlalu kekanak-kanakan," katanya, walaupun terdengar sangat keras, viktor coba buat sehalus mungkin bicara.
anthony diam, apakah pacarnya itu benar?
iya,
benar. dia gak pernah dewasa.
"biar aku coba lagi," jawab anthony, akhirnya.
viktor tersenyum kecut, "kamu bilang gitu juga kemaren."
"tapi, aku mau serius cobaㅡ"
"kita putus, anthony."
ㅡditolak. anthony, di lain sisi dia kecewa. emosinya yang ditahan sejak awal, pecah. tapi anthony nggak ingin nangis, nggak didepan viktor.
pikirannya nggak tahu hanyut kemana, terlalu banyak cabang. dia sendiri juga mana bisa kendaliin buat fokus tahan emosi?
"thon,"
"sekarang apa?"
anthony marah.
"kita bisa temenan kan setelah putus?"
anthony melotot gak percaya, "terus apa-apaan semalam? emang temen nge-sex?"
"semalam kita pacar, sekarang kita temen."
anthony pengin lempar pasir ke mata viktor yang menatapnya dengan penuh harap. ini beneran.
ㅡ
one, ya.

KAMU SEDANG MEMBACA
friendzone; local ship
Fanfiction"yaudah, temen." bxb; √jothony √fajri √baysan √marvin √others