pagi itu, kamarnya berantakan. sebetulnya dia baru aja ngeberantakin, karena cari laptop. senin ini ada presentasi dan semua kerjaannya ada di laptop, anthony lupa. di seluruh penjuru kamar, meja kerja, tas laptop, kasur, dibawah atau disisi manapun dia nggak lihat laptopnya.
nah, mungkin ihsan atau kevin yang pinjam. kadang-kadang semua barang mereka jadi satu. anthony merapikan kemeja, lalu keluar kamar dan mengetuk pintu kamar temannya.
"ihsan, san!" sambil terus ketuk, dia teriak-teriak. "ihsaan!"
ihsan buka pintu, merasa pusing. setelah menguap dia bertanya, "apa sih, ny?"
"kamu pinjem laptop? aku ada presentasi."
"nggak," jawab ihsan, segera tutup pintu buat balik tidur tapi anthony cegahㅡ
"ㅡbantu aku cari dulu."
ihsan menggaruk kepalanya, dia betulan masih ngantuk karena anthony nangis semalaman dan harus ihsan yang tenangin.
"bantuin saaan, cariin." pinta anthony.
"duh, ony. aku ngantuk, butuh tidur," tapi ihsan keluar kamar, sama-sama turun tangga dan cari dimana laptop anthony.
mereka berdua menggeledah semua ruangan itu dengan ihsan yang masih protes kenapa anthony harus menyeretnya keluar kamar pagi-pagi, mengatakan kalau ihsan butuh tidur dan salahkan anthony karena terlalu cengeng semalam. juga misuh-misuhin kevin yang suara desahannya terlalu keras.
"aku butuh filenya, san." jawab anthony hampir putus asa, dia lagi nyari di sekitar sofa ruang tv.
"kamu amnesia kali,"
"aku bisa mati kalo gak presentasi," anthony resah, dan itu buat ihsan juga resah.
"kasian, mana masih muda."
"ihsan!"
diruangan itu, laptopnya nggak ada. ihsan beralih cari di dapur, sewaktu melewati bufet meja di lorong, dia melihat sesuatu.
"nyㅡ"
"ketemu, san?!"
"ㅡkamu ngecharger laptop terus tinggalin disini?" ihsan sambil berteriak, berusaha bikin anthony dengar.
anthony buru-buru datang ke ihsan, lihat temannya pegang charger laptop miliknya.
"laptopnya mana?"
ihsan mengedikkan bahu terus menguap, cari laptop anthony lagi disekitaran lorong rumahnya. dan anthony ikut membantu sampai dia sadar akan suatu hal,
"ihsan," panggil anthony lemas, wajahnya pucat. "semalam nggak cuma kita bertiga dirumah ini,"
ihsan berhenti, tersadar dan kaget. "brengsek,"
;
"kamu harus ngundang kevin kesini. hampir tiap malem? duh memang idolaku," dia meminum sisa alkohol di gelas kecil, "idolaku."
"panjiiiㅡ" firman menepuk lengan cowok itu, menegur, "ㅡmereka lagi stress."
"gapapa, man. hiburan," kata ihsan.
anthony yang disampingnya sudah kacau. nggak bisa ketawa, dia justru menuangkan lagi dan minum semuanya secara langsung. ihsan meringis lihat anthony, pasti langsung pening.
"dia bawa cowok tiap malem. beda-beda," anthony meracau.
"bukannya gak aman kalau sampai barang kita hilang?" tambah ihsan. mereka berdua sama-sama kesal.
kemudian anthony cerita tentang siangnya di kantor, bosnya memecat dia. mengatakan kalau ini semua tanggung jawab anthony, katanya pekerjaan ini nggak cocok buat dia dan lebih baik cari pekerjaan lain. di hari ini, anthony kehilangan pekerjaan.
"kenapa gak pindah aja?"
panji mengangguk, setuju sama apa yang firman bilang. "kalian bisa tinggal ditempat kita dulu,"
"gak ada yang salah sama rumahnya, man." anthony merengut, kepalanya pusing buat mikirin ini semua. masalah lagi-lagi datang.
"ny,"
anthony nengok, mengangkat alisnya tanpa bertanya ke ihsan.
"kayaknya kita yang harus usir dia," katanya, sedikit ragu.
"kamu serius?" anthony pun nggak kalah ragu, seenggaknya mereka teman. mereka bertiga.
sebetulnya mereka saling sayang, tapi kalau kejadiannya kayak gini terus, perlu ada satu hal yang diperbaiki.
"nggak cuma satu dua kali kita kayak gini,"
"san, tapiㅡ"
"kita sering bilang tapi kevin nggak berubah, ny."
anthony kayaknya harus setuju sama ihsan. benar, kejadian ini sudah beberapa kali terjadi. dan bukannya mereka membiarkan, anthony dan ihsan berulang kali mencoba menegur kevin dan bilang semuanya. dari pihak kevin, apa yang mereka berdua lihat justru sama sekali nggak ada untuk merubah.
lagian bukannya ini buat kebaikan mereka berdua? mereka yang jadi korban mengapa mereka yang harus keluar?
"kayaknya lebih baik gitu," firman pun setuju, "tapi, bicara baik-baik, ya?"
mereka berdua mengangguk.
"udah, minum gih minum," panji mengangkat gelasnya, ngajakin ketiga temannya buat lupain apa yang terjadi sejenak.
lalu, karena gelas yang dipegang ihsan sampai jatuh dimeja, mereka ketawa. meledeknya, kata panji, ihsan terlalu lemah dan buat ihsan berhasil memukul lengan panji.
"panji!"
mereka berempat menoleh. cowok pakai kaos kuning dan jeans itu datang dan menepuk pundak panji. tangan satunya sibuk bawa gelas.
"eh? ngapain disini?" tanya panji.
"nyuci,"
"serius anjir."
cowok itu ketawa, "habis ada project, jadi gue bawa tim buat ngerayain."
"beneran? gak nyuci, kan?"
"ya lo liat aja gue bawa molto nggak,"
mereka sama-sama ketawa karena panji dan temannya, kemudian sadar kalau mereka belum saling kenal.
"ini ihsan, yang ini anthony," kata panji, mengenalkan. cowok itu mengangguk dan tersenyum, melirik anthony.
"jonatan," kata cowok itu. "sekelas sama panji dulu."
oh, cowok itu anak seni.
"sini jo, duduk." firman menggeser dirinya sedikit, mempersilahkan jonatan buat ikut serta.
"ehㅡnggak apa-apa, man. gue cuma mau nyapa aja,"
"sebentar jo, lama nggak ketemu." kata panji, dan akhirnya jonatan duduk bergabung dengan mereka.
datangnya jonatan, ada cerita dan obrolan baru yang membuat anthony dan ihsan lupa tentang masalahnya. panji dan firman menepati janjinya buat menghibur mereka. yang paling berpengaruh, malam itu anthony lupa dia telah kehilangan viktor, laptop, dan pekerjaannya.
ㅡ

KAMU SEDANG MEMBACA
friendzone; local ship
Fanfiction"yaudah, temen." bxb; √jothony √fajri √baysan √marvin √others