"Kak, saya boleh minta tanda tangannya?"
Sella nekat sekali mendatangi meja yang dipenuhi akan kakak kelas cowok yang terlihat badboy itu. Sella menyerahkan kertas kosongnya kepada cowok yang sibuk dengan ponselnya, yang tak lain adalah kakak kelas SMP Sella dulu, Nava Arduino.
"Lo bisakan cari tanda tangan milik orang lain!"
Terkesan ngegas sekali mas nya. Tapi Sella ya tetep Sella, dia akan perjuangin apa yang menurutnya patas diperjuangkan. Meski melawan rasa takut sendiri pun.
"Tapi aku pengennya minta punya kakak, gimana dong?"
Cika yang melihat tingkah temannya itu, hanya menepuk jidatnya sendiri. Apalagi, semua kakak kelas yang berada di meja itu langsung melihat ke arah gadis yang berani bilang seperti tadi.
"Gue males."
Teman-teman Nava geleng-geleng mendengar jawaban Nava. Biasanya Nava tidak pernah mengabaikan cewek, apalagi perempuan cantik secara fisik seperti sella ini. biasanya Nava terlebih dulu akan mendekati perempuan dengan gombalannya, bahkan dalam satu hari Nava dapat menaklukkan hati lebih dari 4 orang perempuan.
"Udah dek sini minta punya gue aja. Kasian cantik-cantik tapi belum dapet tanda tangan gitu," ujar salah satu teman Nava.
Yunus Yorifo. Ya, nama itu tertera diseragam sekolah teman Nava yang barusan bicara tadi. Sella tersenyum ramah sembari menyerahkan kertasnya kepada Yunus.
"Makasih kak Yunus. Kakak itu kayanya orangnya humoris deh,"
"Taw aja Lo human, haha"
Sella dibuat ngakak oleh Yunus, selain ganteng dan keren, ternyata Yunus juga sangat ramah. Berbeda dengan laki-laki yang tengah duduk sibuk dengan ponselnya itu.
"Nama Lo siapa dek?" Kali ini, yang bertanya kepada Sella adalah Aziz Firmansyah. Jelas cogan juga pastinya.
"Sella Karina kak," Aziz hanya mengangguki jawaban Sella itu.
"Kok temen Lo diem aja dek? Lagi ademsari ya?"
"Sariawan coyy,"
Sella tersenyum sebentar, "Dia malu katanya liat kak Yunus begitu,"
"Anjir lo, bohong kak dia," Cika melotot kepada Sella yang ngawur atas omongannya tadi.
"Wagelaseh. Omongannya,"
;
Sella dan Cika bercanda dengan Yunus, Aziz dan yang lain sembari menunggu semua temannya Nava selesai memberikan tanda tangan kepada mereka berdua.
Cukup lama, akhirnya kertas tersebut tersisi 9 tanda tangan. Cika segera membisiki Sella untuk mengajaknya pergi dari kantin itu, dan mencari tanda tangan kakak kelas yang lain. Namun, Sella menolaknya. Ia melihat Nava yang sibuk dengan ponselnya sedari tadi.
"Kak, tinggal kakak yang belum kasih tanda tangannya,"
Tak ada balasan oleh Nava atas ucapan Sella tadi. Untung Sella masih sabar, bagaimanapun pokoknya Sella harus mendapatkan tanda tangan seorang Nava Arduino.
"Kak Nava!"
Nava melirik sekilas ke arah Sella, Sella sudah terbang dibuatnya. Dia menggigit bibir bawahnya sendiri.
"GUE.MA.LES! Denger gak sih Lo?" Oke, Nava sudah mulai kesal atas tinggal laku adek kelasnya itu.
"Tapi kak, aku butuh tanda tangan kak Nava,"
"Disekolah ini tuh ada ratusan orang kakak tingkat Lo. Jadi Lo bisakan minta sama yang lain!"
"Nggak, aku nggak mau. Aku maunya punya kak Nava,"
"Ngapain sih Lo ngotot banget? Gue males ya males!"
"Kak Nava plis,"
Cika termasuk juga teman-teman Nava dibuat melongo atas tingkah laku Sella yang ngotot minta tanda tangan milik Nava itu.
"Udahlah nav, kasih aja. Orang juga cuma tanda tangan,"
"Iya plis kak Ino,"
Nava menatap mata Sella tajam, bagaimana seorang adek kelas nya itu, tau jika Nava mempunyai panggilan Ino? Sungguh, sekarang Nava sangat membenci panggilan itu.
"Tau apa Lo tentang gue?"
"Nava Arduino, 'Lo bisa bantuin gue kerjain bahasa Inggris? Gue gak bisa nih.' 'stt, diliatin Bu guru tuh'. Udah bisa inget kak?"
Nava diam sejenak. Dia sepertinya pernah mengalami hal itu. Tapi...kapan?
"Udah gak usah diinget-inget kak. Mending tanda tangan aja,"
Nava tidak memperdulikan Sella lagi. Dia memilih pergi dari kantin itu, dan diikuti teman-teman nya.
"Sabar dek. Jangan putus asa, oke!"
Sella tersenyum melihat kak Yunus yang menyemangati nya itu. Andai saja Nava itu seperti kak Yunus. Mungkin Sella gak akan ribet kaya gini.
"Huft,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Lava
Novela JuvenilSEDANG TAHAP REVISI Nava Arduino, seorang kakak kelas yang katanya ganteng banget, gans, keren, pokoknya ga ada obat. Kegantengan Nava ini diibaratkan seperti daya magnet yang luar biasa, tidak hanya temannya, kakak kelasnya, dan adek kelasnya saja...
