2

6K 523 23
                                        

Setiap anak memiliki potensi. Setiap anak ingin diakui oleh ayahnya.

Setiap anak tidak suka jika dibandingkan baik itu orang lain ataupun saudara sendiri.

***

Seokjin beranjak. Ia melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi.

Seokjin mengguyur tubuhnya yang agak hangat karena ia mengalami demam. Tapi ia tidak memedulikannya.

Ia memandangi wajahnya di cermin.

"Kau! Anak yang tidak berguna!"

"Selalu membuatku malu!"

Seokjin tersenyum hambar. "Benar. Aku memang tidak berguna" gumamnya.

"Sepertinya... Jika aku pergi... Appa tetap tidak akan kehilanganku" gumamnya lagi. Ia meratapi dirinya yang terlihat pucat di depan cermin.

-

-

-

Yoongi setiap kali memarahi Seokjin. Ia akan mengurung dirinya di dalam kamar. Ia akan selalu merenungi apa yang sudah ia lakulan pada anak tertuanya.

Yoongi memang terlihat kasar pada anaknya dan berusaha tidak peduli. Tapi...hati seorang ayah; seberapa pun marahnya, akan tetap ada rasa menyesal atas yang dilakukannya pada sang anak. Seperti itu juga yang dirasakan Yoongi saat ini.

Ia duduk di tepi kasur. Manik matanya lekat memandangi kedua tangannya yang telah menyakiti Seokjin.

Pandangannya kosong. Namun setetes air mata berhasil jatuh dan mengenai telapak tangannya.

Maafkan appa, Jin batinnya.

-

-

-

Namjoon menaiki anak tangga. Ia mengunjungi kamar adik sepupunya untuk melihat keadaannya, karena sejak Seokjin pulang, ia tidak sempat menyapanya setelah peristiwa Yoongi yang menampar Seokjin di depannya.

Pintu kamar Seokjin tidak ditutup oleh Jungkook. Sewaktu Namjoon masuk, ia melihat Jungkook duduk termenung, bahkan adik sepupunya itu masih mengenakan seragam sekolahnya.

"Bunny" sapanya, lalu ia duduk di sisi kiri Jungkook.

"Di mana Seokjin?" tanyanya.

"Jin hyung masih di kamar mandi" jawabnya, lalu terdengar helaan napas berat darinya.

"Kau juga terlihat lelah. Sebaiknya kau mandi dulu. Setelah itu baru kemari lagi" saran Namjoon padanya.

Jungkook mengangguk. Ia menurut apa yang dikatakan oleh kakak sepupunya barusan.

Jungkook kembali ke kamarnya, dan meninggalkan Namjoon sendiri di kamar Seokjin.

Sekitar 10 menit berlalu. Seokjin ke luar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya.

Seokjin tertegun saat melihat Namjoon yang tersenyum padanya. Seokjin mengernyitkan keningnya. Ia merasa asing ketika menatapnya.

"Kau siapa?" tanya Seokjin bingung.

"Ternyata kau juga melupakanku, Jinnie" ujar Namjoon seraya beranjak dan mendekatinya.

"Jinnie?" Seokjin berusaha mengingat siapa Namjoon sebenarnya, karena nama yang diucapkan Namjoon barusan adalah nama kecilnya, dan hanya keluarga dekatnya yang memberikan nama tersebut.

Namjoon mengangguk dan tersenyum lebar. Kemudian ia merapikan surai rambut Seokjin yang sedikit menutupi matanya.

"Kau sama saja seperti bunny. Kau melupakan hyung mu yang tampan ini" keluhnya dan mempoutkan bibirnya.

"Uljima" (Complete) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang