"Appa, sebaiknya appa bicara pada Yoongi."
"Apa Yoongi tetap tidak mau mendengar nasehatmu?"
"Sepertinya begitu. Karena Yoongi hanya diam saja"
"Mungkin Yoongi masih butuh waktu untuk menerima keputusan Seokjin. Kau tahu sendiri bagaimana adikmu itu"
"Aku mengerti, appa. Tapi, ini sudah hampir dua minggu. Aku kasihan pada Seokjin. Padahal ia sudah berusaha mengikuti ujian masuk Universitas. Meski aku tidak tahu, kenapa Yoongi marah dengan keputusan anaknya"
-
-
-
"Jin. Jangan melamun terus"
"Hyung...apakah sebaiknya --- aku mengambil kuliah di Seoul saja?"
"Kau ini bagaimana sih? Kita berdua sudah membayar sewa apartemen di sana."
"Aku tahu... Tapi aku membuat appa kecewa"
"Jadi mau mu seperti apa?"
"Aku ingin sekali kuliah di sana. Dan aku juga berhasil masuk di jurusan yang aku inginkan."
"Pikirkan baik-baik, sebelum kau memutuskannya, Jin. Jangan plin-plan"
-
-
-
"Kalian berdua tetap di sini. Appa dan yang lain pergi untuk membeli perlengkapan untuk makan malam kita"
"Kenapa tidak Namjoon saja yang menggantikan ku?"
"Aku ingin mencari sesuatu bersama anakku. Lagi pula, bukankah kau suka memancing?"
"Seokjin juga suka memancing" timpal Namjoon.
"Kau ajarkan Seokjin cara memancing yang benar. Kami pergi dulu"
-
-
-
Seokjin melirik ayahnya yang terlihat melamun memandangi pancingannya. Sudah hampir dua jam berlalu. Yoongi masih betah mengacuhkan anaknya.
Seokjin hanya mendesah pasrah. Ia juga masih belum memiliki keberanian untuk mengajak ayahnya bicara.
Yoongi beranjak dari kursi dan meninggalkan Seokjin. Ia berpikir bahwa ayahnya sengaja meninggalkannya. Namun tidak sampai lima menit, Yoongi menghampiri Seokjin, dan menyodorkan softdrink padanya tanpa mengatakan sepatah katapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
"Uljima" (Complete)
FanfictionKisah sebuah keluarga, di mana seorang ayah yang membesarkan kedua anaknya setelah isterinya tiada. Karena didikannya yang keras, hingga menyebabkan anak sulungnya memiliki hati yang keras, dan sering kali berbuat ulah di sekolah, hingga sang ay...
