Bagian 8

689 89 10
                                        

Luffy ❩
Luffy mengakhiri permainan biolanya, membuka mata hitamnya lagi. Ia tersenyum pada dirinya sendiri dan meletakkan biola kesayangannya itu di pangkuannya. Ia menelusuri salah satu senarnya dengan jari telunjuknya, mengabaikan rasa sakit yang menusuk-nusuk setiap inchi tubuhnya. Ia sudah terlalu terbiasa dengan rasa sakit ini. Dan ia bersyukur masih memiliki Nami, wanita yang sangat dicintainya, untuk menemaninya menghadapi semua rasa sakitnya. Yah... walaupun ia mungkin hanya membuat Nami menderita, melelahkan wanita itu untuk selalu merawatnya setiap saat.
Luffy kembali memandang keluar jendela, tapi tatapannya tidak terfokus pada apapun, pikirannya melayang ke Nami. Sejak ia divonis mengidap kanker ganas, Luffy sudah berkali-kali meminta Nami untuk meninggalkannya saja. Tidak ada gunanya memiliki suami yang hanya bisa menghabiskan hidupnya di ranjang rumah sakit. Tapi gadis itu bersikeras akan selalu menemani Luffy, sampai kapanpun.
Luffy memandang cincin pernikahannya dengan Nami. Itulah alasan kenapa dia mencintai Nami. Dia adalah wanita tegar yang berkemauan keras. Cenderung keras kepala kadang-kadang. Ia masih ingat, kali pertama ia bertemu dengan Nami delapan tahun yang lalu. Rentang waktu yang cukup lama. Nami adalah mahasiswi baru JSA. Berusia dua puluh tahun, cantik, menarik, dan cerdas. Kilau yang selalu diperlihatkan mata nya kepada semua orang yang menarik perhatian Luffy, juga kilau yang tak pernah Luffy lihat lagi sejak enam bulan lalu. Luffy mendengus geli. Nyaris semua mahasiswa JSA tertarik pada kepribadian Nami, termasuk sahabat dekatnya, Sanji, tapi Luffy senang ia yang berhasil memenangkan hati gadis itu.
Dan sekarang pikiran Luffy kembali melayang ke buku harian Law. Apakah bijaksana memperlihatkan buku harian itu kepada Nami? Luffy menghela napas. Ia sudah terlalu lama menyembunyikan rahasia ini. Ia hanya ingin Nami, wanita yang sangat ia sayangi, mengetahuinya. Setidaknya sebelum ajal menjemputnya. Ia tahu Nami pasti akan sakit hati, tapi ia sendiri tak sanggup memberitahukannya secara lisan dan gamblang kepada Nami. Dan ia sadar bukan respon Nami-lah yang ditakutinya ketika rahasia ini terkuak, ketika kenangan akan Law kembali padanya...

...

Law's journal, November 5, 2009
Sebenarnya ini sudah berlangsung lama, tapi baru sekarang menjadi masalah bagiku. Aku sendiri tak tahu kenapa aku menjadikannya masalah untukku, seakan aku tidak ada masalah lain untuk diurusi. Ck, sangat merepotkan. Dan hal inilah yang menjadi kesalahan kelimanya yang tak bisa kulupakan seumur hidupku.
Dia membuatku khawatir.
Sial, akhirnya aku mengakuinya. Yah, walaupun lebih tepat disebut mengkhawatirkan daripada membuatku khawatir. Ah, atau pengertiannya sama saja? Masa bodohlah. Tapi sudah sembilan bulan aku bersamanya dan sulit untuk tidak mengkhawatirkan orang macam dia. Orang yang nyaris hanya makan daging setiap hari. Orang yang berusaha mengajari cara membaca not balok pada Sunny. Orang yang bisa memainkan biolanya dengan cara yang tak bisa dilakukan orang lain. Dan orang yang selalu tertawa lebar walaupun ia pulang dengan sekujur tubuh penuh lebam dan luka.
Hal terakhir itulah yang kumaksud. Hal itu bermula setelah dua bulan pernikahan kami berlangsung. Luffy pulang dalam keadaan tidak berbentuk. Ia menyeret kaki kirinya sepanjang lantai linoleum apartemenku, mengangguku yang sedang menggubah lagu. Ketika aku keluar dari kamarku untuk menyentaknya, yang bisa kulakukan hanya mengernyit melihat kondisinya dan senyum lebarnya seakan ia pulang sambil membawa sekantung uang emas. Mata kanannya memar, ujung bibir kirinya robek, bajunya berantakan dan celana jeans-nya sobek di lutut kirinya dan berdarah, membuatnya terpaksa berjalan dengan menyeret kakinya. Aku sangat yakin dia habis dipukuli, tapi dia hanya bilang dia habis jatuh dari tangga kampus dan sambil berjalan tertatih-tatih melewatiku, ia mengucapkan permintaan maafnya karena telah mengangguku sambil berlalu.
Aku tidak menanyainya lebih lanjut karena aku merasa tak punya hak untuk memaksanya, lagipula dia juga tidak terlalu mempermasalahkannya. Aku tidak terlalu suka ikut campur masalah orang lain. Dia hanya mengambil kotak P3K dari dapur dan mengobati luka-lukanya di teras bersama Sunny. Dan aku mulai berlatih untuk tidak mempedulikan dari mana yang mendapat semua luka itu, walaupun kejadian itu tidak hanya berlangsung sekali itu. Ia sering sekali pulang dalam keadaan babak belur, dan aku tidak pernah berkomentar atau menaruh perhatian khusus. Tapi kali ini lain...

After Kiss Goodbye (REMAKE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang