Law's journal, December 22, 2009.
Setelah kejadian sepele bulan lalu dimana aku mengobati lukanya itu, aku merasa ada perubahan dalam hubungan kami. Aku bahkan tak tahu perubahan ini bisa dianggap perubahan bagus atau buruk. Yang aku tahu hanya banyak hal yang berubah. Kami masih tidur di kamar terpisah seperti biasa. Kami juga masih sibuk dengan instrumen masing-masing seperti biasa. Tapi, entah ini hanya aku yang menyadari atau dia juga, kami makin jarang bertengkar yang disebabkan oleh hal-hal remeh, kami hanya bicara dengan satu sama lain seperlunya, walaupun sekarang aku menyuruhnya untuk pergi dan pulang kampus bersamaku, menghindari 'teman-teman' Luffy yang suka memukul itu. Dan perubahan yang paling mencolok dari semua itu adalah, kami tak pernah menatap mata satu sama lain lagi.
Itulah kesalahan keenamnya yang takkan pernah bisa kulupakan. Ha, aku juga sebenarnya tak tahu kenapa itu bisa menjadi kesalahan keenamnya, tapi aku hanya sedang ingin menyalahkan seseorang. Dan satu-satunya yang bisa kusalahkan hanya Si Bodoh itu.
Dan ketika aku sudah mulai menikmati perubahan-perubahan itu, seseorang datang, dan membuatnya kembali ke semula, bahkan lebih parah. Terima kasih banyak pada orang sialan itu.
…
❨ Law ❩
Law memainkan grand piano putih barunya yang ia letakkan di ruang tengah. Ya, ia baru saja membeli piano mewah itu sebagai hadiah natal lebih awal untuk dirinya sendiri, membuatnya punya dua piano di dalam apartemennya. Ia juga membeli biola putih yang warnanya senada dengan pianonya untuk Luffy, membuat pemuda itu girang luar biasa. Biola lamanya memang masih bagus, tapi tak ada salahnya kan punya dua biola. Dan Law senang karena ia berinisiatif membelikan biola itu untuk Luffy. Si bodoh itu sekarang lebih sering berada di kamarnya atau di teras, untuk memainkan biolanya dengan lagu favoritnya, Canon. Jadi instensitas gangguan yang ditimbulkan di rumah lebih sedikit.
Law menekan tuts-tuts pianonya dengan lembut, memainkan lagu buatannya yang pada September lalu berhasil menarik perhatian Mr. Shanks. Bahkan sebelum liburan natal tiba dua hari lalu, Mr. Shanks menuntutnya segera memberi judul untuk lagu itu. Ia memang belum menemukan judul yang tepat karena ia masih ingin memperbaiki beberapa bagian yang kurang pada lagunya.
Law baru saja mengakhiri lagunya ketika Luffy berlari masuk ke dalam apartemen bersama Sunny. Biola putihnya masih ditentengnya, daritadi dia memang bermain biola di teras. Ia terengah-engah dan menatap Law, atau lebih tepatnya menatap tangan Law, dengan ekspresi horor. Law balas menatap rambut hitam Luffy sambil mengernyit.
"Ada apa?"
Luffy menunjuk ke arah teras, yang lebih tepat disebut sebagai balkon luas itu, dengan penggesek biolanya. Sungguh petunjuk yang sangat tidak jelas.
Law bangkit berdiri dan berjalan ke arah teras, ia melongok ke bawah dari sana, ke arah halaman berumput tempat Luffy dan Sunny biasa main lempar tangkap freesbe, dan mata hitamnya membulat. Sebuah mobil hitam terparkir di bawah sana. Itu adalah mobil keluarganya.
Law langsung menghambur masuk ke dalam rumah, menghampiri Luffy yang masih terpaku di ruang tengah. "Siapa yang keluar dari mobil itu?" tuntut Law. Ya, bahkan di saat seperti ini Law tetap tak bisa memandang mata Luffy. Dan ia tak ingin mencoba.
Luffy membuka mulut hendak menjawab ketika terdengar suara bel dari arah pintu depan. Law memandang pintu apartemennya dengan tatapan tajam, tapi toh ia tetap berjalan dengan tenang ke arahnya, dan memutar kenopnya. Dan ia sedikit tersentak ketika mendapati Gol D. Ace berdiri di hadapannya dalam setelah polo shirt abu-abu dan celana jeans yang senada, dan sebuah koper kecil di kakinya.
Law mengeluarkan glare terbaiknya, walau ia tahu itu takkan mempan pada 'mantan' adiknya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya ketus.
Alih-alih balas menyentak, Ace tersenyum. "Hanya datang berkunjung, Law," jawabnya lembut. Ace memandang melewati bahu Law, ke arah Luffy yang masih berdiri di samping Sunny, tak tahu harus bereaksi bagaimana. Ace tersenyum pada Luffy dan mengangguk sopan. Masih melongo, Luffy balas mengangguk.
"Atas perintah Tuan Roger?" tanya Law, tidak seketus sebelumnya.
Ace menggeleng. "Ayah maupun Ibu sudah tak pernah menyebut namamu. Mereka pun membakar semua barang-barangmu yang tersisa, dan mereka bahkan repot-repot mengadakan pemakaman palsu untukmu agar tersiar kabar di seluruh Eropa kalau putra sulung keluarga Roger telah meninggal karena kecelakaan. Kau harus lihat surat kematian palsumu," jelas Ace panjang lebar, membuat Luffy yang mendengar semua itu melongo makin lebar. Law tetap tanpa ekspresi, namun jauh di lubuk hatinya ia sangat puas. Benar dugaannya, Roger lebih memilih untuk menganggapnya mati daripada mengakui kalau anaknya adalah seorang gay.
"Lalu untuk apa kau kemari?" tuntut Law lagi.
"Sejak kapan dilarang melakukan kunjungan? Toh aku tidak keberatan punya kakak yang orientasinya berbeda dari kebanyakan orang. Aku sudah tahu kau aneh dari dulu."
'Twitch'. Law mengernyit. Aneh? Ingin sekali dia meninju hidung Ace karena mengatainya aneh. Luffy terkikik pelan di belakangnya. Law bersumpah ia akan menghabisi Si bodoh itu begitu ia berhasil mengusir Ace.
"Kau tidak akan membiarkanku masuk?" tanya Ace ketika tak ada respon positif dari Law.
Law mendengus. "Jangan harap. Kau sudah bertemu denganku, kunjunganmu sudah selesai. Sekarang angkat kakimu dari sini dan biarkan aku hidup dengan tenang." Law hendak menutup pintu apartemennya ketika tangan Ace menahannya. Senyum di wajah Ace sama sekali lenyap. Ia memandang kakaknya lekat-lekat.
"Biarkan aku masuk, Law," kata Ace singkat. Law balas menatap mata Ace yang sewarna dengan matanya. Dan dia tahu dia takkan bisa menolak keinginan adiknya. Ace tipe orang yang sangat keras kepala, dan kalau Law mengusirnya hari ini, ia pasti akan kembali dalam waktu dekat, dengan sosok yang lebih menyebalkan dari sekarang. Tak ada pilihan lain selain membiarkannya masuk. Dengan begitu setidaknya ketenangan Law akan terjamin selama beberapa tahun ke depan sementara Ace memutuskan untuk mengadakan waktu kunjungan lainnya.
Law menyingkir dari pintu, memberi jalan pada Ace untuk masuk. Pria itu mengangkat kopernya dan melangkah masuk, dengan senyum lembut yang kembali tersungging di wajahnya, sebenarnya lebih tampak seperti seringai di mata Law.
"Untuk apa koper itu? Kau hanya di sini beberapa jam kan?" celetuk Law sambil menutup pintu apartemennya setelah Ace masuk.
Ace memandang Law dan Luffy bergantian. "Tentu saja aku akan menginap di sini selama beberapa hari," jawabnya ceria.
Baik Law dan Luffy membeku. Dan untuk pertama kali setelah sebulan, mereka menatap mata satu sama lain, walaupun dengan tatapan ngeri. Ace telah menghancurkan perubahan yang membuat Law nyaman, hanya dalam waktu beberapa menit.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Kiss Goodbye (REMAKE)
Fanfiction[ LawLu ] A simple kiss to make this story ends. After kiss, Goodbye.
