Note: Aku sarankan untuk mendengarkan lagu-lagu mellow, Bab kali ini lumayan menguras emosi. So, selamat membaca...
.
.
.
October 9th, 2010
Masih di hari yang sama, dengan mood Law yang benar-benar berbeda. Baru beberapa jam lalu ia menerima telepon dari Mr. Shanks kalau dia mungkin akan direkrut oleh komponis ternama, baru beberapa jam lalu dia merasakan euforia yang teramat sangat besar bahwa cita-citanya seumur hidup mungkin akan terwujud hanya dalam hitungan minggu; dia akan merintis karir di dunia profesional.
Dan sekarang dia harus terbangun dengan kenyataan; cita-citanya mungkin akan terwujud sebentar lagi, tapi hasratnya akan kandas begitu saja, bahkan sebelum ia mulai berusaha untuk memenuhinya.
Dan karena itulah sekarang Law memainkan grand piano-nya yang ada di ruang tengah seperti kesetanan, mencoba untuk tidak mengasihani, atau bahkan mengutuk dirinya sendiri. Sementara Luffy yang tentu saja tidak memahami apa yang sedang bergejolak di dada Law, membaca majalah dengan tenang di sofa dalam ruangan yang sama, menganggap Law, yang bahkan tidak memberi jeda untuk permainannnya barang semenit pun itu, sedang terlalu bersemangat untuk latihan karena dirinya bakal segera terjun ke dunia pro.
Law baru saja menyelesaikan Night's Eyes, dan langsung memasuki intro lagu lain.
"Apa judul lagu yang ini?" celetuk Luffy tiba-tiba. Ia mendongak dari majalah yang sedang dibacanya, menatap Law.
Law yang bahkan tidak berhenti bermain saat jam makan malam, membiarkan Luffy makan malam sendiri bersama Sunny, langsung menghentikan tarian jari-jari lincahnya di atas tuts-tuts piano. Ia tidak membalas tatapan Luffy. "Serendipity," jawab Law singkat.
"Hm..." Luffy mengangguk-angguk, sama sekali tidak memberikan komentar lain, kembali menunduk menatap majalahnya.
Law menghela napas, melanjutkan lagunya yang terputus. Ia tak mengerti kenapa ia bisa sefrustasi ini. Ia menganggap dirinya akan baik-baik saja Januari tahun lalu, ketika ia meminta Luffy untuk menikah dengan nya. Ia merasa semuanya akan berjalan lancar sesuai dengan rencananya yang tampak matang. Keluarganya membuangnya, ia bisa menekuni hidupnya sebagai pianis dengan tenang, dan setelah semuanya beres, Law akan berpisah dengan Luffy. Farewell. Sederhana. Tapi pada kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada sesuatu yang lebih kompleks yang bahkan tak bisa Law jelaskan dengan kemampuan otaknya yang di atas rata-rata.
Yang Law paham, ia hanya ingin tetap seperti sekarang ini.
Seperti sekarang, ketika ia bermain piano di ruang tengah di apartemennya di New York.
Seperti sekarang, ketika ia mulai menyadari kalau ia bisa memandang dunia dengan sudut pandang yang lebih baik ketika bersamanya.
Seperti sekarang, ketika ia bersama Luffy.
Secara refleks, Law mendongakkan kepalanya untuk menatap Luffy ketika pikiran tentang pemuda itu melintas di benaknya. Dan saat itulah Law melihat kalau Luffy sama sekali tidak membaca majalahnya. Ia hanya menunduk memandang lembar yang terbuka di atas pahanya, dengan sorot mata yang membuat Law menghentikan gerakkan jemarinya.
Luffy yang tidak protes karena Law berhenti bermain menandakan kalau ia terlalu sibuk dengan pikirannya.
"Luffy-ya," panggil Law. Yang dipanggil tidak menyahut, masih tetap menunduk. "Luffy," panggil Law sekali lagi dengan volume yang lebih keras. Luffy langsung menoleh ke arahnya dengan cepat dan nyengir lebar, menghapus ekspresi ganjil di wajahnya beberapa saat lalu.
"Ya?" tanyanya dengan nada riang.
Law meneliti ekspresi Luffy selama beberapa saat. 'Apa yang tadi dipikirkannya?'
"Torao?" panggil Luffy kali ini, merasa sedang dikerjai Law karena pemuda itu sama sekali tidak menjelaskan kenapa tadi dia memanggilnya.
"Nope," jawab Law dan menggeleng pelan. Luffy memandang Law heran. Tidak biasanya Law membuang-buang kata seperti itu. Law selalu bicara seperlunya.
Law kembali menekan tuts-tuts pianonya, memainkan lagu yang baru ia selesaikan kemarin, If I Could Stop The Time. Seperti keinginan Law sekarang ini. Seandainya kata-kata itu bukan sekadar judul. Seandainya Law benar-benar bisa menghentikan waktu.
"Boleh aku mengakui sesuatu?" ucap Luffy ketika Law mengakhiri If I Could Stop The Time. Rupanya pemuda itu terus mengamati Law sepanjang lagu.
Law langsung mendongak cepat ke arah Luffy, disertai dengan jantungnya yang terasa berdetak berkali-kali lebih cepat. 'Apa yang ingin diakuinya? Oh, ayolah, Law, kau tidak bisa berharap banyak...'
"Hm," tanggap Law, mencoba menenangkan dirinya. Ia menurunkan kedua tangannya dari atas tuts karena takut tergelincir, jari-jarinya gemetar lumayan hebat saat ini, menanti dengan tegang kalimat apa yang akan terlontar dari mulut Luffy.
"Aku tahu ini terdengar konyol," Luffy memulai. "Kita... yah... kita akan berpisah dalam beberapa bulan." Law mencelos. Ternyata bukan hanya dia yang memikirkan tentang itu. Luffy mengangkat bahu dan tertawa getir. "Aku tahu aku sudah membuatmu sangat sebal, aku takkan heran kalau kau ternyata punya catatan tersendiri tentang seberapa besar kau membenciku."
'Oh ya, aku memang punya catatan tersendiri untuk itu.'
"Tapi..." ia melanjutkan, "aku cuma ingin mengakui kalau..." Luffy tampak ragu sesaat, "kalau aku tak ingin kau melupakan ini semua."
Law terkesiap. Luffy juga tampaknya menyesali kalimat terakhirnya.
"Oke, aku tahu aku terdengar amat konyol," Luffy mengakui, terselip nada putus asa dalam kalimat barusan. "Tapi... yah... aku cuma ingin mengakui itu. Kalau semisal kau-"
"I promise not to forget," potong Law, membuat Luffy membelalakkan matanya. Law tersenyum kecil pada Luffy, tak terlalu berharap kalau Luffy menyadari ia sedang tersenyum padanya. Tapi ternyata Luffy juga tersenyum, kemudian terkekeh pelan.
Luffy baru saja meminta Law untuk tidak melupakannya. Oke, konteks kalimatnya memang lain, tapi itulah yang Law tangkap. Luffy tidak ingin ia melupakan dua tahun terakhir bersamanya, Luffy tidak ingin ia melupakannya.
Law menggerak-gerakkan jarinya di atas tuts. "Dan aku juga punya sesuatu untukmu," kata Law lagi. Ia menekan tuts piano-nya dengan perasaan yang sangat berbeda dari beberapa saat lalu, kembali memainkan sebuah lagu hasil aransemennya yang memang sudah cukup lama ia selesaikan, namun sama sekali belum diberinya judul.
Ia sesekali melempar pandang ke arah Luffy di sela-sela permainannya, sementara Luffy duduk diam di sofa, mengamatinya dengan serius dan senyum penuh kekaguman. Atmosfer dalam lagunya yang ini, menurutnya, sangat aneh. Ceria, sekaligus sedikit melankolis di saat bersamaan. Ia belum pernah membuat lagu dengan atmosfer tidak jelas seperti itu sebelumnya.
Law tersenyum kecil ketika melihat sorot mata Luffy yang tampak berbinar di beberapa bagian lagu yang menurutnya sangat indah. Dan ketika Law selesai, Luffy bangkit dari sofa dan bertepuk riuh.
"Aku belum pernah dengar lagumu yang itu sebelumnya!" ucapnya bersemangat.
Law menutup grand piano-nya. "Yang itu tadi hadiah untukmu," tanggapnya seraya bangkit berdiri dari duduknya juga.
Tepukan Luffy berhenti dan ia sedikit melongo. "Untukku? Wow..." gumamnya, merasa tersanjung. "Apa judulnya?" tanyanya dengan senyum lebar.
Law berpikir selama beberapa detik, dan menjawab, "Red and Blue." Ya. Itu judul yang sangat cocok untuk lagu itu.
Luffy memandang Law. "Bukannya merah itu warna favoritku dan biru juga sepertinya adalah warna yang menjadi ciri khasmu walau kau mungkin tidak terlalu menyukainya?" tanya Luffy, sedikit heran dengan judul yang dipilih Law.
Law hanya memandang Luffy dengan sedikit senyum di wajahnya ketika Luffy menanyakan itu. Ia berjalan ke arah kamarnya, namun sebelumnya ia berhenti di hadapan Luffy. "Karena itulah aku memutuskan itu judul yang tepat untuk lagu tadi, Luffy-ya. Red and Blue," jawab Law absurd, mengacak rambut hitam Luffy sekilas sebelum menghilang ke balik pintu kamarnya.
Luffy hanya terbahak mendengar penjelasan Law.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Kiss Goodbye (REMAKE)
Fanfiction[ LawLu ] A simple kiss to make this story ends. After kiss, Goodbye.
