Bagian 10

738 89 21
                                        

Law's Journal, December 31, 2009
Hari-hari yang kulalui hanya bersama Luffy dan Sunny sudah cukup buruk. Tak pernah sekalipun terlintas di pikiranku, bahkan di imajinasiku yang paling liar, kalau akan ada kedatangan seorang Ace juga. Sekarang hidupku benar-benar buruk. Sudah sepuluh hari Ace menetap di apartemenku, dan ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulang ke Jerman. Entah apa yang mencegahnya. Firasatku mengatakan dia menantikan sesuatu dan dia takkan pergi sampai yang dinantikannya itu tiba.
Ide untuk mengusirnya selalu terlintas berkali-berkali. Tapi seperti kata Ace, percuma saja mengusirnya sekarang. Ia pasti akan menemukanku lagi, dan malah membuatku makin kesal. Jadi satu-satunya cara adalah menunggunya pulang dengan sendirinya. Seandainya saja Ace lebih terbuka dan memberitahuku apa yang dinantikannya sehingga aku bisa membantunya, untuk pulang lebih cepat tentunya.
Mungkin ia jatuh cinta dengan wanita Amerika? Haha. Aku terlalu stress sehingga bahkan pikiranku melantur.
Tapi keberadaan Ace benar-benar membuatku jengah, bahkan Luffy terlihat sangat tidak nyaman. Satu-satunya yang menikmati kehadiran Ace hanya Sunny, karena anjing itu akrab sekali dengannya.
Luffy pernah bilang pada suatu malam sebelum kami pergi tidur (hei, jangan salahkan aku dengan adanya adegan seperti ini, Ace membuat kami harus tidur sekamar, ingat?) kalau ia bertemu Ace dalam keadaan tidak begini, tidak menjadi suamiku maksudnya, mungkin ia akan sangat menyukainya, karena meskipun usianya lebih muda dariku, tapi sosoknya sangat dewasa. Benar-benar figur seorang adik yang baik. Tapi aku, ia menatapku sinis ketika mengatakan ini, membuat segalanya tampak lebih buruk.
Aku hanya menggumamkan 'ya' dan memejamkan mata untuk tidur.
Intinya, Ace benar-benar menguras waktu dan tenagaku. Setiap dia ada, aku harus berpura-pura mesra dengan Luffy, menggenggam tangannya, mencium puncak kepalanya, merangkulnya, tidur seranjang dengannya setiap malam. Astaga, benar-benar derita batin.
Dan aku sama sekali belum menemukan judul yang tepat untuk laguku. Ace merusak inspirasi. Aku baru saja menyadari kalau aku lebih membenci Ace daripada Luffy, dan itulah kesalahan yang masih kuhitung sebagai kesalahan keenam Luffy. Dia bisa menjadi jauh lebih baik, jauh lebih baik daripada keluargaku.

...

Luffy menguap dan meregangkan otot-otot tubuhnya. Ia memutar posisi tubuhnya di kasur sehingga tidak lagi menghadap tembok, dan langsung mengerjap kaget. Wajah tidur Law hanya berada beberapa inchi dari wajahnya sendiri. Nafas Law yang teratur tampak begitu tenang dan damai. Ia benar-benar tengah tertidur lelap. Luffy mendudukkan dirinya dan mengernyit memandang Law. Lengan kiri pemuda stoic itu menutupi matanya sementara tangan kanannya tergeletak di atas perutnya. Dadanya bergerak naik turun seirama dengan napasnya. Luffy mengangkat alis. Ia tahu Law sangat jaim ketika dia sadar, tapi ia tak pernah menyangka kalau 'suami'-nya itu juga bisa terlihat keren waktu tidur, bahkan dengan gaya yang sederhana seperti itu. Kalau dirinya sih, sudah tidak usah diragukan lagi. Air liur di mana-mana dalam posisi tubuh yang tidak elit.
Luffy mendengus geli dengan pemikirannya barusan dan turun dari tempat tidur sepelan mungkin agar tidak membangunkan Law. Ia keluar dari kamar dan langsung melenggang ke dapur, dimana Sunny biasa tidur. Tapi Ace sudah ada di sana.
"Oh, eh, hai, pagi..." sapa Luffy canggung. Ace sudah lebih dari seminggu di sini tapi kehadirannya tetap membuat Luffy jengah.
Ace yang sedang berjongkok di depan Sunny yang sudah diberinya sarapan, mendongak dan tersenyum pada kakak iparnya. "Pagi," balasnya. "Kau tidak usah repot membuat sarapan seperti biasanya. Semuanya sudah kusiapkan di meja makan."
Mulut Luffy membulat membentuk huruf 'o' sementara matanya memandang ke arah meja makan yang sudah tertata rapi. Beberapa saat kemudian sesosok dalam balutan boxer biru dan kaus putih polos berjalan melewatinya dan langsung mendudukkan diri di meja makan.
Luffy mencibir ke arah Law yang sudah memakan telur dadarnya tanpa basa-basi, ia menoleh ke arah Ace, "Ayo sarapan, Ace," tawarnya, dan mendudukkan diri di sebelah Law.
Ace mengangguk pada Luffy dan menatap pasangan itu. Luffy meletakkan semua sayurannya di piring Law dan nyengir lebar. Law menatap Luffy dan mengacak rambut hitam pemuda itu. Ace tersenyum. 'Sedikit lagi'.

After Kiss Goodbye (REMAKE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang