Bagian 4

887 111 7
                                        

Nami mendongak dari buku harian, memandang Luffy yang masih terbaring lemah. Seulas senyum yang sama sekali tidak bisa ditafsirkan oleh Nami terkembang di wajahnya.
"Luffy... ini..." Nami tak sanggup berkata-kata. Seorang pemuda telah melamar suaminya sepuluh tahun yang lalu dan ia sama sekali tidak pernah tahu tentang hal ini. Luffy memang sudah bersamanya sekarang, tapi tetap saja fakta itu membuatnya shock. Ia terguncang. Luffy menghela napas dan memandang keluar jendela, menatap rinai hujan yang tak kunjung reda.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakan hal sepenting ini padaku, Luffy?" tanya Nami pada akhirnya.
"Aku tidak ingin menyakitimu," jawab Luffy, memandang mata istrinya.
"Dan sekarang kau memilih untuk memberitahuku, dengan cara seperti ini." Nami merasa sangat tersinggung.
"Maafkan aku," kata Luffy. "Selama lima tahun ini aku selalu memikirkan cara untuk memberitahumu, tapi aku tidak punya keberanian. Maafkan aku."
Nami menggigit bibir bawahnya. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Apa ia harus marah? Tapi itu semua sudah berlalu, kejadian sepuluh tahun lalu...
"Apa kau menerimanya?" tanya Nami lagi.
Luffy tertawa lirih. Tawa yang berbeda dari yang selama ini Nami lihat. Luffy tidak pernah tertawa setulus dan selega itu, bahkan di hadapannya. Nami merasa sedikit cemburu pada pria bernama Law ini.
"Aku sudah melupakan detailnya. Tapi aku yakin Torao pasti ingat. Dia memiliki daya ingat yang luar biasa," jawab Luffy, masih tersenyum dan mengeratkan genggamannya pada tangan Nami.
'Torao? Apakah itu sejenis panggilan kesayangan?' Nami tak habis pikir. "Bisa kau lanjutkan ceritanya?"
Nami menatap Luffy. Ia tak yakin ia mau membaca apa yang selanjutnya tertulis di buku harian itu. Mungkin kisah cinta suaminya dengan orang lain... pria lain... ia merasa sangat dikhianati.
"Nami, aku benar-benar minta maaf. Kumohon lanjutkanlah."
Nami kembali menunduk. Di luar semua rasa sakit hatinya, ia memang penasaran akan masa lalu Luffy yang selama ini terlalu abu-abu baginya. Ia sudah lima tahun bersamanya, tapi Luffy terlalu sulit ditebak. Mungkin buku harian itu bisa membantunya. Lagipula membacakan buku harian itu adalah permintaan Luffy, yang tidak pernah meminta apapun padanya selama ini.
Nami menghembuskan napas dan melanjutkan. "Law's Journal, January 25, 2009..."

Law's journal, January 25, 2009
Terlalu mendadak. Aku juga berpikir seperti itu. Aku bahkan baru mengenal pemuda bercodet ini beberapa jam. Dan entah apa yang mendorongku untuk memintanya menikahiku begitu saja, tanpa pemikiran matang. Mungkin aku memang sudah terlalu putus asa. Ha. Ayahku bisa membuatku stress tanpa susah payah.
Jadi, inilah pemikiran konyolku. Aku akan menikahi seorang pemuda Amerika. Aku bisa pindah kewarganegaraan seperti yang kuinginkan, dan jelas ayahku pasti akan mencoretku dari daftar keluarga Gol D. Mungkin ia masih akan menyeret pulang anak yang minggat dari rumahnya dengan cita-cita yang menurutnya tidak jelas, tapi ia takkan mungkin memulangkan seorang gay ke rumahnya. Harga dirinya akan hancur.
Aku cukup puas dengan pemikiranku ini. Tapi memang ada beberapa kendala.
Aku bukan gay. Itu jelas. Dan aku harus memastikan pemuda itu bukan gay juga. Aku tak ingin hubungan ini menjadi berlarut-larut. Setidaknya aku hanya akan mempertahankan pernikahan ini selama dua tahun. Ayahku pasti akan mempunyai dugaan ini adalah pernikahan berkedok, jadi aku harus mempertahankannya cukup lama. Dua tahun. Aku yakin dalam waktu itu aku sudah menjadi pianis seperti yang kuinginkan, dan tak ada lagi alasan bagiku untuk pulang ke kediaman Keluarga Roger.
Berikutnya.
Walaupun pemuda itu bukan gay, itu juga bukan berarti dia mau. Justru yang ada malah dia akan menolak. Ini kendala yang cukup sulit, tapi aku sudah menemukan solusinya. Bagaimanapun aku ini cukup kaya.
Dan apakah rencanaku yang kelihatan hebat ini akan berhasil?

Pemuda itu mengerjap. Sekali. Dua kali. Sangat ajaib ia sama sekali tidak menjatuhkan gelasnya ke laut.
"Kau mabuk?" ia balik bertanya setelah tiga menit membisu, hanya menatap Law dengan tatapan bingung.
Law mendengus tertawa dan menggeleng. "Tidak. Segelas champaign tidak cukup untuk membuatku mabuk."
Pemuda itu menunduk menatap laut di bawahnya. Ia mengacak rambut revannya. "Aish~ aku harusnya tahu sejak awal..."
Law mengernyit. "Tahu apa?"
"Kau gay."
Law nyaris tersedak liurnya sendiri mendengar jawaban yang sangat gamblang itu.
"Harusnya aku bisa menduganya! Kau yang selalu menolak cewek... jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku tadi... aish~"
"Tunggu, aku bukan gay. Aku sama lurusnya denganmu," Law membela diri.
Pemuda itu kembali menatapnya, lebih bingung dari sebelumnya. "Lalu ajakan untuk menikah tadi...?" Mata hitamnya membulat.
Law menghela napas. "Sebenarnya alasannya agak rumit, Luffy-ya..."
Pemuda itu menyandarkan tubuhnya ke railing dan membuat dirinya menghadap Law. "Jelaskan saja. Kau harus bertanggung jawab karena telah membuatku nyaris kena penyakit jantung."
"Begini... Luffy-ya," Law memulai. "Sebenarnya namaku Gol D. Law, untuk sekarang aku menggunakan magra Trafalgar, marga mendiang ibuku, karena akan sangat berresiko jika aku tetap menggunakan marga milik keluargaku." Ia sama sekali tidak menyangka ia akan mengatakannya semudah itu pada orang yang baru saja dikenalnya. Dan belum tentu juga Luffy akan setuju untuk menikahinya setelah ia bercerita panjang lebar. Tapi entah kenapa Law sudah tidak bisa menahan diri. Semua sumber kefrustasiannya selama lima bulan terakhir ini harus dikeluarkan dan Usopp, Sanji maupun Zoro bukan tipe orang yang cocok. Sebenarnya Luffy juga, tapi Luffy benar. Ia harus bertanggung jawab karena telah membuatnya nyaris kena penyakit jantung.
"Oh, kenapa kau merahasiakannya?"
Law memberi Luffy tatapan sinis, menahan diri untuk tidak mengatakan, "Jangan sela aku, Sialan." Untungnya Luffy memahami arti glare Law.
"Aku anak sulung dari keluarga  Gol D. Keluarga yang sangat berpengaruh di Jerman maupun Eropa. Tapi beberapa bulan lalu aku bentrok dengan ayahku. Dia sama sekali tidak menyetujui kenginanku untuk menjadi pianis. Karena itu, bisa dibilang, aku minggat ke New York dan menempuh pendidikan di JSA. Tapi ayahku tidak gampang menyerah. Ia akan menyeretku pulang dan tidak akan membiarkan aku hidup tenang sampai aku pulang ke Jerman" Law berhenti sejenak, menunggu reaksi Luffy, ia paham atau tidak.
"Aku mengerti," kata Luffy. "Tapi apa hubungannya antara masalahmu itu dengan mengajakku menikah?" tanyanya, berjengit sedikit ketika mengutarakan pertanyaannya.
"Aku sudah memutuskan untuk membuat ayahku berhenti menggerecokiku lagi. Dan cara termudah adalah mengganti kewarganegaraanku. Dan cara paling simpel untuk itu adalah menikahi warga negara Amerika."
Luffy berdecak. "Lalu kenapa aku, Torao? Banyak cewek diluar sana yang mau kau nikahi!"
Law menggeleng. "Menikahi wanita terlalu berisiko. Bagaimana kalau setelah aku menikah ayahku malah merestui hubunganku dan masih akan tetap menggerecokiku? Aku ingin lepas dari titel Gol D. Dan tentu saja ayahku akan melupakanku begitu ia tahu aku gay, walaupun itu cuma pura-pura."
Luffy membelalak mendengar penjelasan panjang lebar Law. "Tapi bagaimana kalau ayahmu itu tahu ini semua cuma pura-pura?"
"Dengar," Law melanjutkan. "Dia takkan tahu. Rencanaku, kalau kau menyetujuinya tentu saja, pernikahan ini hanya akan berlangsung selama kira-kira dua tahun. Setelah itu kau bebas. Kupastikan aku sudah meraih cita-citaku dalam kurun waktu tersebut, dan ayahku takkan menggubrisku lagi."
Luffy memandang Law, sangsi.
Law membalas tatapan Luffy, mencoba membuatnya yakin.
Tapi setelah tiga menit berlalu, Luffy masih tidak mengatakan apapun. Law menghela napas.
"Aku juga tidak terlalu berharap kau menyetujui rencana konyol ini. Aku mau tidur. Selamat malam."
Law berbalik, meletakkan gelas kosongnya di atas tumpukan kotak kayu dan kembali ke kabinnya. Sejak semula ia sudah tahu rencananya yang hebat itu tidak akan semudah kelihatannya. Apa ia harus benar-benar menikah dan berpura-pura menjadi seorang gay?

After Kiss Goodbye (REMAKE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang