Law hanya melirik Luffy yang sudah duduk manis di lantai sambil meringis kesakitan dan memegangi pantatnya.
"Aish~" keluhnya. Ia mengelus-elus pantatnya yang baru saja menghantam lantai. "Kau serius? Kita akan menikah dalam waktu kurang dari dua minggu?"
"Ya."
"Secepat itu?"
"Ya."
"Bagaimana persiapannya? Gerejanya? Cincinnya? Tuxedo -nya? Tamu undangannya? Dan siapa yang akan memakai gaun?"
Law memutar bola matanya. Ia sangat tidak menyukai pertanyaan beruntun seperti itu. "Itu semua bisa diatur. Dan takkan ada yang memakai gaun. Itu sangat konyol. Sekarang keluar dari kabinku. Aku butuh istirahat."
Luffy bangkit berdiri sambil mencibir. "Ternyata benar kata Usopp, kau menyebalkan," katanya sebelum membanting pintu menutup.
Law menghela napas dan kembali menenggelamkan dirinya dalam rangkaian not balok yang sedang dibacanya.
…
Malam itu, setelah makan malam, Law menemui Miss Robin yang bertugas mengatur semua administrasi charity concert untuk mengecek jadwal.
"Miss Robin," panggil Law, menghampiri wanita berpenampilan eksentrik yang sedang duduk di lobi depan Star Cruiser.
"Ya?" tanggapnya, mendongak dari sekumpulan arsip yang sedang ditekuninya.
"Berapa lama charity concert di Swedia?" tanya Law langsung pada intinya.
"Satu minggu," jawab Miss Robin. "Tapi untuk divisi musik hanya berlangsung tiga hari, dan giliran kelompokmu hanya di hari pertama."
Law mengangguk paham. "Miss, bisa saya minta tolong?"
Miss Robin menatap Law dengan senyum penuh tanya.
"Tolong hubungi kantor catatan sipil Swedia dan juga tanyakan gereja mana di Swedia yang bisa digunakan untuk upacara pernikahan dalam tenggang waktu selama JSA mengadakan charity concert di sana. Dan kalau bisa, tolong buatkan undangan pernikahan sebanyak tiga ratus lima puluh," kata Law.
Miss Robin mengernyit mendengar permintaan tolong yang diajukan Law. "Tunggu, memangnya siapa yang mau menikah?"
"Saya, dan Monkey D. Luffy."
Law tidak akan pernah melupakan ekspresi Miss Robin begitu mendengar jawabannya.
…
Luffy kembali memojokkan Law di koridor sepi keesokan harinya seusai mereka latihan. Tampangnya benar-benar marah. Dan kali ini Law tahu penyebabnya.
"Kupikir pernikahan palsu kita dirahasiakan dari publik," geram Luffy. Tangan kanannya mengepal di sisi tubuhnya, kelihatan sekali dia sekuat tenaga menahan diri untuk tidak meninju wajah datar Law.
Law sama sekali tidak memandang wajah Luffy. "Memang dirahasiakan," jawabnya enteng.
"Dirahasiakan your ass! Semua orang di sini sudah tahu! Bahkan Mr. Shanks!" serunya emosi, tepat ke wajah lelaki yang lebih tinggi darinya.
Law memandang mata hitam Luffy kali ini, tetap tanpa ekspresi. "Pernikahan palsu kita memang dirahasiakan. Yang orang-orang tahu adalah kita benar-benar akan menikah. Right?"
Luffy menggeram dan melepaskan tinjunya ke dinding di belakang Law, tapi Law sama sekali tidak berjengit. "Apa itu masalah bagimu?" tanya Law.
"Tentu saja itu masalah! Sialan kau!" seru Luffy sebagai jawaban. "Berita menggemparkan itu mempengaruhi harga diriku!"
"Maaf," tanggap Law. Tidak, bukan hanya Luffy yang kaget mendengar itu, bahkan Law sendiri juga terkejut ketika menyadari kata 'maaf' telah meluncur keluar dari mulutnya dengan sangat mudah. Ia tak tahu apa yang membuatnya begitu.
"Eh?" emosi Luffy langsung surut. Mata hitamnya sedikit melebar. Sama sekali tidak menyangka Law bakal menanggapi amarahnya dengan cara seperti itu. Ia memang belum lama mengenal Law, tapi menurut penilaiannya selama ini, tipe orang macam Law pasti bakal langsung membabatnya dengan kata-kata sinis kalau dia berani protes tentang keputusannya.
Law menghela napas. "Maaf, tapi aku benar-benar butuh alibi untuk pernikahan ini. Kalau tidak ada saksi, Ayahku takkan percaya padaku semudah itu."
Luffy menurunkan tangannya yang selama ini masih menempel di dinding. "Eh, yah... aku mengerti sih... tapi tetap saja kan... harga diriku sebagai seorang pria..."
"Harga dirimu sudah kusewa selama dua tahun," ucap Law, kembali ke sikap angkuhnya yang biasa, membuat mata Luffy membelalak makin lebar. "Kalau kau tidak terima, kau bisa mundur sekarang, dan biayai hidupmu sendiri. Toh aku bisa mencari penggantimu, tapi belum tentu kau bisa mencari sumber uang semudah ini. Lagipula aku masih sanggup bertahan sebagai buron. Dan..." Law berhenti, menambah nada sinis dalam suaranya untuk menutupi sikapnya beberapa detik lalu yang menurutnya kelewat lembut, "apa kau masih sanggup bertahan dari krisis finansialmu lebih lama dari ini?"
Law menabrak bahu Luffy dengan keras dan sengaja sebelum ia pergi meninggalkan koridor kosong itu. "Biaya hidup di Amerika tidak murah, bahkan kalau kau mendapat beasiswa penuh untuk kuliahmu," kata Law, melangkah pergi meninggalkan Luffy.
Luffy menatap Law murka. "Idiot sialan berkepribadian ganda!" teriaknya kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Kiss Goodbye (REMAKE)
Fanfiction[ LawLu ] A simple kiss to make this story ends. After kiss, Goodbye.
