"Sudah kubilang jangan menyentuhnya" Winwin tiba-tiba datang, menyentak tangan Jun yang memeluk Elsa, hingga kedua lawan jenis itu terpisah. Elsa hampir jatuh, namun Winwin sigap menahan tubuhnya lalu menarik istrinya itu ke belakang tubuhnya. "Kau bahkan membuatnya menangis begini. Ini juga bukan bagian dari kesepakatan kita" protesnya tidak terima.
"Maaf" Jun merunduk, membiarkan air matanya jatuh mengenai sepatunya sendiri. Bagaimanapun juga, perasaannya juga ikut tersakiti disini, bahkan terlalu banyak rasa sakit yang harus di alaminya dari waktu ke waktu tanpa bisa disembuhkan dengan mudahnya.
"Ck, sudahi saja sampai disini. Kesepakatan kita batal. Aku akan pulang sekarang dengan istriku" Winwin berbalik, menggenggam tangan Elsa dan menariknya pergi seiring langkahnya yang turut berjalan menjauhi Jun yang masih terpaku.
Tak disangka, Elsa malah berontak, berusaha melepaskan tautan tangannya dengam suaminya itu. "Dari tadi kamu menyebut kesepakatan. Memangnya kesepakatan apa yang kalian buat?" tanya Elsa menuntut.
"Dia meminta padaku agar memberinya waktu seharian ini untuk menghabiskan hari bersamamu, dengan syarat tidak ada kontak fisik, berbuat tidak mengenakkan padamu, dan hal lainnya" Winwin menghela nafas kasar, "Tapi belum sejam sejak kalian pergi, dia sudah membuatmu menangis dan memelukmu. Dia melanggar kesepakatan" tambahnya murka.
Kali ini Jun mendongak, matanya menatap lurus Winwin yang balas menatapnya tajam, "Kau juga melanggar kesepakatan. Kau menyusul kemari padahal aku juga meminta agar kau jangan ikut campur hari ini"
Winwin berdecih, "Bagaimana mungkin aku bisa mempercayakan keadaan Elsa pada orang gangguan jiwa sepertimu? Aku tidak tenang, dia istriku, dan ada buah hati kami dalam kandungannya"
Merasa tidak terima atas perkataan kasar Winwin padanya, Jun mencengkram kerah setelan mahal Winwin. Matanya yang masih merah karena tangis menatap Winwin tak kalah tajam.
"Nah kan, liat kelakuanmu. Aku tak akan bisa diam saja melihat istriku sedang bersama denganmu. Kau kasar, emosian, tidak ada perubahan sama sekali"
"Sudah hentikan" lerai Elsa lemah, ia menyeruak di tengah-tengah Winwin dan Jun yang saling melempar tatapan permusuhan. Dan ajaibnya kedua lelaki itu langsung beralih menatapnya hangat dan penuh sayang, tidak terlihat adanya gejolak api di mata kedua lelaki yang tengah berseteru itu. Semua lenyap hanya dengan ucapannya barusan.
Winwin tersadar lebih dahulu ketika Elsa mengerling padanya, mengisyaratkan dirinya agar meminta maaf atas perkataan kasarnya pada Jun. "Maaf, ge. Aku terlalu khawatir padanya, maka nya aku mengikuti kalian diam-diam. Aku kesal saat kau memeluknya, itulah alasan aku langsung menghampiri kalian. Memeluk istri orang itu tindakan yang salah, meskipun niat mu baik dan hendak menenangkannya. Maaf juga atas kata-kata kasar ku tadi, aku menyesal mengatakan itu hanya karena emosi semata"
Bukannya merespon, Jun malah tersenyum sinis. Seketika wajah penyesalan Winwin hilang ketika melihat gelagat aneh Jun. Ia menatap lelaki jangkung itu agak was-was. Dan sekarang tatapan Jun mengarah padaㅡAh, Elsa. Belum sempat Winwin menarik Elsa menjauh, Jun sudah terlebih dahulu mengeluarkan benda tipis mengkilat dari saku celananya.
Elsa yang juga melihat itu jadi melebarkan matanya.
Itu...
Pisau lipat!
Waktu terasa melambat ketika Jun mengayunkan pisau tersebut ke arah perut Elsa yang sedang hamil.
"ELSA!"
JLEB
CROTTT
![Life After Married [NCT]](https://img.wattpad.com/cover/154153208-64-k323017.jpg)