Bab 3 Bulan Madu yang Terpaksa

813 18 0
                                        

INTRIK

Oleh : Triana Kumalasari

BAB 3

Bulan Madu yang Terpaksa

.
.

“Bapak kok sudah masuk kerja?” Hendy, salah satu manajer di PT Atmaja Building Tbk, bertanya kepada atasannya. “Saya tadi heran saat sekretaris Bapak menelepon, memberitahu bahwa saya dipanggil untuk melapor ke kantor Bapak. Saya kira Bapak sedang cuti menikah.”

“Saya tidak perlu cuti menikah,” sahut Leo. Matanya terus meneliti berkas-berkas yang terhampar di mejanya. “Apa proyek Cluster Orchid berjalan lancar, Pak Hendy? Apa pembangunannya berjalan tepat waktu?”

“Iya, Pak.” Lelaki yang duduk di hadapannya mengangguk. “Pondasi seratus unit rumah untuk blok A sudah selesai dikerjakan. Besok para tukang akan mulai mengerjakan bagian tembok.”

“Material yang dipesan sudah datang semua? Jangan lupa dicek ulang di lapangan dan beri check list di laporan untuk saya.”

“Baik, Pak.”

“Sebenarnya, yang terbaik adalah mengambil material dari toko bahan bangunan terdekat dengan lokasi proyek. Dengan demikian, pengiriman lebih cepat dan kita tidak terkena biaya transportasi.” Leo mengangkat wajah, menatap bawahannya.

Pak Hendy mengangguk setuju.

“Akan tetapi, baru-baru ini, PT Atmaja menandatangani perjanjian dengan CV Dinata Material untuk menjadikan mereka sebagai pemasok tunggal kita.”

“Saya sudah mendengar tentang hal itu, Pak. Jadi, kita akan mengganti supplier untuk proyek ini, Pak?”

“Iya. Tolong Pak Hendy buatkan perincian material, juga alat-alat mekanik dan elektrik yang dibutuhkan. Sisanya akan saya urus dengan pihak CV Dinata.” Leo beralih meneliti kertas perincian RAB (Rencana Anggaran Biaya) proyek perumahan Cluster Orchid.

“Baik, Pak.”

“Oh ya, Manajer baru itu, Pak Fahri Mahesa Dinata, bagaimana menurut Pak Hendy?” tanya Leo, kembali menatap anak buahnya. “Apakah beliau kompeten saat di lapangan?”

“Ah, saudara ipar Bapak. Sesuai perintah Pak Leo, kemarin saya mengajak Pak Fahri meninjau lokasi proyek. Sepengamatan saya, Pak Fahri cukup pintar. Beliau dapat menangkap penjelasan saya dengan baik. Saya lihat Pak Fahri juga memahami struktur bangunan.”

“Bagus kalau begitu.” Leo mendesah lega. Sebelumnya, ia khawatir papinya memasukkan orang yang tidak profesional ke dalam perusahaan hanya karena hubungan keluarga. “Saya harap Pak Fahri juga menguasai manajemen konstruksi. Nanti saya sendiri yang akan mengujinya.”

“Baik, Pak.”

Interkom di meja Leo berbunyi. Leo menekan sebuah tombol. “Ya?”

“Pak Rozaq ingin bertemu Bapak.” Terdengar suara sekretarisnya.

“Persilakan masuk.”

“Baik, Pak.”

Pak Rozaq masuk dan meletakkan dua tiket pesawat di meja Leo. Sang direktur muda melirik tiket tersebut sekilas, lalu memandang pria paruh baya itu, meminta penjelasan.

“Tiket ke Bali, Mas Leo,” kata Pak Rozaq, sambil tersenyum.

Leo mengangkat sebelah alis. “Siapa yang mau ke Bali? Saya tidak ada jadwal ke Bali, Pak Rozaq. Kita sedang tidak ada proyek di Bali.”

Pak Rozaq berdeham. “Tadi siang Pak Atmaja mengunjungi Mbak Farah di rumah, mendesak Mbak Farah untuk memilih tempat bulan madu. Karena Mbak Farah bilang murid-muridnya sebentar lagi ujian akhir semester, sehingga tidak bisa ditinggal lama, maka Mbak Farah memilih yang domestik. Jadi,” Pak Rozaq mengarahkan tangan kanan ke arah tiket di meja, “Bali.”

Senyum pria paruh baya itu mengembang melihat ekspresi Leo yang mulai memberengut. Ia mengenal putra sang bos semenjak masih anak-anak. Pak Rozaq hafal betul tabiat direktur muda ini.

Meski masih berusia dua puluh tujuh tahun, Leo terbilang piawai menjalankan perusahaan. Pekerja keras dan berambisi. Namun, sifat keras kepala dan semaunya sendiri kerap kali masih tampak.

“Sebaiknya Mas Leo tidak mengajukan perdebatan,” saran Pak Rozaq. “Suasana hati Pak Atmaja sedang kurang bagus karena mengetahui bahwa Mas Leo ke kantor, bukannya berada di rumah bersama Mbak Farah.”

Leo membuang napas, menghempaskan punggung ke sandaran kursi, dan menyugar rambut kecokelatannya dengan gerakan kasar. Kemudian, ia memijat dahinya yang tiba-tiba terasa pening.

***

Embusan angin menyambut sepasang suami istri itu begitu keluar dari pintu Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali.

Farah merapatkan jaket hijaunya.

Terhitung mulai hari ini, mereka berdua memulai bulan madu tiga hari di Pulau Dewata. Ya, hanya tiga hari. Farah beralasan bahwa ia hanya bisa mendapatkan cuti sebanyak itu.

Setibanya di Arlon Beach Resort, hotel mewah tempat mereka akan menginap, yang berlokasi di Kuta Selatan, Farah memasuki kamar dengan kecut. Mereka suami istri, tentu sudah sewajarnya berada dalam satu kamar, meski sejujurnya enggan.

Kamar itu luas, bernuansa putih. Sebuah lukisan Tari Kecak berada di atas kepala tempat tidur. Televisi layar datar berukuran besar terpasang di dinding berhadapan dengan ranjang, memungkinkan tamu untuk berbaring santai sambil menonton televisi. Pintu kaca memperlihatkan balkon persegi dengan pagar modern minimalis. Rangkaian kelopak mawar merah yang dibentuk hati tertata manis di atas tempat tidur king size berseprai putih.

Leo mengamati rangkaian mawar itu, lantas menarik sudut kanan bibirnya ke atas sedikit, mendecak. Farah menghampiri dan ikut memperhatikan.

“Requestmu?” tanya Farah. Nada menyangsikan jelas terdengar dalam suaranya.

Leo menghempaskan tubuh ke sofa abu-abu yang terletak di sudut ruangan, lantas menuang air mineral ke dalam gelas kaca yang disediakan hotel. “Bukan. Pak Rozaq yang memesan penginapan untuk kita.”

“Aah … pantas saja.” Farah manggut-manggut. “Pak Rozaq pasti berkata kepada pihak hotel bahwa kita adalah pasangan pengantin baru yang sedang berbulan madu.”

Farah membuka pintu kaca, kemudian berjalan ke balkon. Angin pantai langsung menyambut, mempermainkan ujung-ujung jilbabnya. Dari situ, ia dapat menikmati pemandangan sekitar. Pantai terhampar di depan mata. Meski pantai tersebut berada di luar area hotel, tetapi begitu dekat, hingga ombak yang bergulung-gulung pun terlihat. Masya Allah, indahnya.

Di bawah balkonnya, Farah bisa melihat dua kolam renang yang diperuntukkan untuk umum. Memang tidak semua kamar di Arlon Beach Resort memiliki kolam renang pribadi. Hanya kamar-kamar suite saja. Kamar yang ia tempati memiliki kolam renang dan taman pribadi.

Senyum mengembang di bibir Farah kala memperhatikan anak-anak riang bermain di kolam renang bundar yang terletak di halaman, saling mendorong dan mencipratkan air. Sementara di kolam persegi yang diperuntukkan bagi orang dewasa, tampak seorang pria bule sedang berenang hilir mudik. Dua orang wanita bule dalam bikini duduk di tepian kolam. Sepasang turis lokal terlihat mendekat lalu masuk ke kolam persegi, saling menggoda dan terbahak, sambil berpegangan pada bagian tepi kolam. Sepertinya kolam persegi itu sangat dalam.

Hawa terasa panas. Garangnya terik matahari membuat Farah mengernyit. Diputuskannya untuk kembali masuk ke kamar dan menutup pintu kaca. Meskipun pintu ditutup, asalkan gorden tebal tetap dibuka, pemandangan laut masih terlihat dari dalam kamar. 

Farah membuka koper kecilnya. Peluh mulai muncul di dahi putri Dinata tersebut. Sebenarnya AC sudah menyala, tetapi entah mengapa masih terasa gerah. Cuaca Bali memang sedang super panas. Sang surya bersinar demikian garang. Disekanya bulir keringat dengan jemari dan mengipasi diri dengan ujung jilbab.

“Lepas saja jilbabmu bila gerah. Toh kita berstatus suami istri.” Leo bersuara dari sudut ruangan tempat ia duduk.

Farah menggeleng. Dikeluarkannya pakaian dari dalam koper, mulai menatanya ke dalam lemari bercat tembaga. “Kenapa Mas Leo menyetujui pernikahan ini? Kita bahkan tak saling mengenal.”

Leo menyandarkan punggung ke sofa. “Memang. Kau bahkan bukan tipeku. Sebenarnya, tipeku seperti Nia Ramadhani.”

Farah mendengkus, tersinggung. Kau juga bukan tipeku, batinnya. Lelaki yang kuidamkan untuk menjadi imamku adalah yang seperti dia. Wanita itu mengerjap, hatinya terasa nyeri setiap kali mengingat cintanya kepada laki-laki itu. Ditariknya napas dalam, lalu mulai menata pakaian dengan perlahan sementara angannya melayang kembali ke masa putih abu-abu.

Sebagai sekretaris OSIS yang senantiasa bekerja sama dengan pemimpinnya, Farah telah memendam rasa itu sedemikian lama. Untuk dia, lelaki yang Farah kagumi dalam diam, sang ketua OSIS, Yudha Adi Pradhana.

BERSAMBUNG
.
.

⛔ Dilarang menyalin tempel (copy paste) sebagian maupun seluruh tulisan ini.

Boleh di-share 😍

INTRIK (SUDAH TERBIT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang