#IntrikPart11
INTRIK
Oleh : Triana Kumalasari
Part 11
Kakak Beradik Dinata
.
.
“Tidak,” jawab Leo, membuka laptop, lalu meneliti bahan presentasi dan rancangan proyek. “Bapak hanya duduk mendengarkan. Saya minta membaca dulu agar sedikit banyak tahu gambaran pembicaraan yang nanti terjadi.”
Fahri mendesah lega, tanpa sadar mengusap dada.
“Jangan cemas, Pak. Pak Leo yang nanti akan bernegosiasi dengan klien. Kita cukup memperhatikan dan membantu bila diperlukan.” Pak Hendy menepuk bahu Fahri. “Selamat bergabung dalam tim, Pak Fahri.”
“Ini akan jadi latihan awal untuk Bapak,” ucap Leo, menatap Fahri dengan matanya yang cokelat tajam. “Mulai sekarang, Pak Fahri akan ikut dalam proyek-poyek PT Atmaja Building. Basic pendidikan Bapak sudah sesuai. Hal-hal yang lain akan di-training oleh Pak Hendy atau saya.”
Wajah kakak Farah kian berseri, sementara Pak Hendy kembali menepuk bahunya sambil tersenyum, mengucapkan selamat.
“Baik, Pak,” jawab Fahri mantap, tersenyum penuh antusias.
💸💸💸
“Benarkah? Mas Fahri sekarang mulai dilibatkan dalam proyek-proyek perusahaan?” Farah berseru senang. “Itu bagus sekali!”
Menyandarkan punggung di sandaran sofa ruang tengah rumahnya, Farah menonton TV santai bersama sang kakak. Benda persegi itu menayangkan sinetron dengan suara kecil. Farah asal menyetelnya. Kakak beradik itu lebih tertarik untuk mengobrol.
“Iya, Dik. Hari ini, Pak Leo bilang begitu.” Fahri mengambil kue lapis yang disodorkan Farah. “Padahal aku sudah deg-degan. Itu orang mau komplain apa lagi?” Fahri menghentikan gigitannya pada kue lapis. “Eh, sorry. Aku lupa. Dia kan suamimu.”
Farah tertawa. “Apa dia menyulitkanmu di kantor, Mas?”
“Ya. Dia seorang atasan yang keras terhadap bawahannya.” Fahri meneguk kopinya, lalu menyandarkan punggungnya yang letih pada sandaran sofa cokelat yang empuk. “Tapi sekarang aku lega. Papa akan senang mendengar aku mulai dilibatkan dalam proyek-proyek penting PT Atmaja dan berhenti merongrongku.”
Farah memandang sang kakak dengan prihatin, mengangsurkan keripik pisang sebagai penghibur. “Apa Papa masih terus menekan dan mengaturmu? Sebenarnya, kapan hari Papa memintaku untuk membujuk Mas Leo agar lebih lunak kepadamu, memintaku membujuk Mas Leo untuk memasukkanmu dalam proyek-proyek penting perusahaan. Juga tender-tendernya.”
Keripik pisang itu berhenti di bibir Fahri. Matanya terbeliak, terluka. “Dan kau melakukan itu?” Suara Fahri terdengar getir. Ekspresi kecewa dalam sekejap mengaliri wajahnya. “Jadi, karena kau bujuk, maka Pak Leo tadi melibatkanku dalam proyeknya?”
Farah menggeleng. “Tidak,” sanggahnya, tersenyum kepada sang kakak. “Aku tidak mengikuti permintaan Papa. Aku tidak melakukan apa-apa. Promosi tadi murni karena kemampuan Mas Fahri.”
“Benarkah?”
Farah mengangguk, senyum manis awet menghias wajahnya, menampakkan lesung pipit di pipi kanan.
“Syukurlah.” Fahri mengembuskan napas lega, mengusap rambut hitamnya yang bergelombang ke belakang. “Papa yang selalu meragukan kemampuanku, dan Pak Leo yang sering mengkritik hasil kerjaku sudah cukup membuatku down. Jangan kau juga.”
“Tidak. Jangan khawatir. Aku tidak mempengaruhi apa-apa. Aku percaya dengan kemampuan Mas Fahri.” Farah menepuk-nepuk lembut bahu kakaknya.
“Kau wanita yang baik, Farah. Seperti Dewi. Dia juga selalu membangkitkan semangatku tiap kali omelan Papa membuatku kehilangan kepercayaan diri.” Fahri membalas tepukan lembut di bahunya dengan mengacak rambut hitam bergelombang sang adik. Rambut yang serupa dengan miliknya.
“Mbak Dewi pasti senang sekali mendengar ceritamu nanti, Mas.”
“Iya, betul. Aku harus segera pulang dan bercerita kepadanya. Semoga martabak di pertigaan buka. Dewi suka martabak itu.”
Farah tersenyum. Fahri selalu berseri bila menyebut tentang istrinya. “Bagaimana kabar kehamilan Mbak Dewi? Sudah masuk sembilan bulan, kan?”
“Iya. Alina akan segera menjadi seorang kakak. Dan aku akan segera memiliki anak kedua. Kali ini laki-laki.” Kebahagiaan membuncah di wajah Fahri.
“Dan aku akan jadi tante dengan dua orang keponakan.” Farah menimpali. “Terima kasih sudah menengokku, Mas. Padahal aku yakin, pulang kantor tadi, sebenarnya Mas Fahri ingin cepat-cepat pulang untuk memberi kabar gembira kepada Mbak Dewi.”
“Aku harus ke sini untuk memastikan keadaanmu.” Fahri memandang wajah Farah, mengamati sekali lagi. “Aku lega kau baik-baik saja, Dik. Andai kau tahu betapa kaget dan khawatirnya aku saat melihat kondisi Pak Leo di kantor tadi. Aku khawatir pada kondisimu. Kau bilang di telepon hanya luka kecil.”
“Benar, kan? Aku memang cuma luka kecil. Mas Leo yang luka parah. Dan, kondisi begitu pun dia masih ke kantor pula.” Wajah Farah tertekuk, tiba-tiba teringat suaminya yang diam-diam menyelinap pergi ke kantor.
“Apa Pak Leo memperlakukanmu dengan baik? Papa menjodohkanmu hanya mempertimbangkan latar belakang keluarganya dan posisinya di dalam perusahaan. Sama sekali tak ada pertimbangan watak. Aku khawatir. Menurutku, pria itu terlalu galak untukmu.”
“Ya, dia memang galak.” Farah mengakui. “Tapi, sebenarnya dia baik, Mas. Mas Leo menolongku meskipun dia sendiri harus terluka.”
“Kalau menurutmu dia baik, syukurlah. Aku merasa lebih tenang.” Fahri mengeluarkan ponsel, kemudian mengetik. “Dewi lebih ingin martabak telur atau martabak manis, ya?”
Farah mengerling ke arah sang kakak. “Aku suka melihat kalian. Kau dan Mbak Dewi. Pasangan yang selalu rukun. Lengkap dengan si cantik Alina yang periang dan sebentar lagi ada tambahan bayi mungil lucu.”
“Mainlah ke rumah sering-sering. Alina kangen Tante Farah, katanya.” Fahri menatap layar ponsel, menunggu jawaban. Wajahnya terlihat sedikit melamun. “Sebenarnya, kami juga tak selalu rukun, Dik. Di masa awal pernikahan, kami sering cekcok.”
“Hm, iya. Aku ingat.”
“Puncaknya saat aku kuliah S2 di Amerika dan meminta dia untuk ikut. Tapi saat itu, Dewi tidak mau ikut denganku. Dia ngotot ingin memegang sendiri bisnis tekstil keluarganya di Indonesia. Ia belum percaya kepada adiknya yang saat itu masih kuliah. Long Distance Marriage membuat kami sering sekali bertengkar di telepon.”
“Kalau sekarang? Aku tak pernah lagi melihat kalian bertengkar.”
“Alhamdulillah tak ada lagi pertengkaran besar. Adik lelaki Dewi sudah lulus dan mengambil alih perusahaan tekstil. Dewi sekarang di rumah mengurus anak kami. Dan, tentunya menemani aku.” Fahri tersenyum bahagia. Ponsel di tangannya berbunyi. Lelaki itu membaca pesan sang istri. “Dia ingin martabak telur. Oke.”
Deru mobil terdengar di halaman.
“Kelihatannya suamimu pulang.” Fahri melirik arlojinya. “Malam juga, ya. Padahal aku yang anak buahnya sudah leyeh-leyeh di sini dari tadi.” Lelaki itu tertawa, memasukkan ponsel ke dalam saku celana dan meraih tas kerjanya.
“Tampaknya dia tidak pintar menjaga kesehatannya sendiri. Sudah tahu masih sakit juga,” keluh Farah. Wajah manisnya berubah masam. Wanita itu bangkit dari sofa untuk mengantar sang kakak.
Leo yang baru masuk dengan wajah letih agak terkejut melihat kehadiran Fahri. “Oh, Pak Fahri di sini. Maksudku, Mas Fahri.” Leo menyunggingkan senyum sapaan dan Fahri tercengang. Rasanya ia tak pernah melihat senyum ini selama di kantor. Biasanya wajah itu selalu serius dan ketus.
“Iya, Pak Leo. Saya sudah dari tadi di sini. Sekarang sudah mau pamit.”
“Kenapa Mas Fahri selalu menyebut Mas Leo dengan panggilan ‘Pak Leo’, padahal di sini kan Mas Leo adik ipar Mas Fahri?” celetuk Farah.
“Karena rasanya sulit untuk tiba-tiba memanggil nama saja atau ‘Dik' setelah setiap harinya, seharian, memanggil ‘Pak Leo' terus.” Fahri meringis, mengacak rambut adiknya.
Leo menanggapi dengan seulas senyum tipis. Matanya mengamati Farah.
Fahri mengulurkan tangan dan bersalaman dengan Leo, berpamitan.
Farah merangkul sang kakak sejenak. “Sampaikan salamku untuk Mbak Dewi. Peluk cium untuk si cantik Alina.”
“Oke,” jawab Fahri, lalu beranjak pergi.
Sepeninggal Fahri, tinggallah sepasang suami istri itu berdiri berhadapan. Wajah ramah Farah untuk Fahri tadi berubah masam. Tangannya diangkat dan dilipat di depan dada. “Dokter kan bilang kau perlu banyak istirahat dulu sampai benar-benar sembuh. Mas Leo tak dengar waktu Dokter bilang begitu?”
“Dengar.”
“Tadi pagi aku juga sudah melarangmu ke kantor. Ternyata saat aku pulang mengajar, kau sudah hilang. Mbak Parti bilang kau buru-buru pergi setelah aku berangkat. Dari baju yang digambarkan oleh Mbak Parti, aku langsung tahu Mas Leo memakai setelan kantor.” Farah melengkungkan bibirnya dengan sudut-sudut ke bawah. “Tampaknya kau susah diatur. Bahkan oleh pesan Dokter sekalipun. Mengesalkan sekali. Aku kesal! Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Pecat saja Parti.”
“Lho? Kenapa jadi Mbak Parti yang dipecat?”
“Dia suka mengadukan aku.”
Farah mendengkus keras.
“Ternyata rambutmu sepunggung, berwarna hitam, dan bergelombang.”
Ekspresi masam Farah memudar. Tangannya yang terlipat terurai dan diturunkan. Ia baru tersadar. Saat bersama Fahri tadi, ia memakai kaus lengan pendek dan celana tiga perempat. Bukan kostum kebesarannya, gamis. Berarti … sekarang pun masih demikian.
Farah berjalan hendak ke kamar, tetapi Leo menangkap tangannya. “Mau ke mana?”
“Ganti baju,” jawab Farah, mencoba menarik tangannya dari genggaman sang suami.
“Tidak usah. Bersamaku, kau selalu memakai gamis dan jilbab. Tapi bersama Pak Fahri tidak.” Leo memberengut, tidak melepas cekalannya pada tangan Farah.
“Apa yang Mas Leo ributkan? Wajar aku tidak memakai jilbab di depan Mas Fahri. Dia kan kakak kandungku.”
“Sedangkan aku suamimu.”
“Oh … iya … lupa.”
.
.
BERSAMBUNG
.
.
*Part 11 ini merupakan penggalan dari bab 9 versi novel.
.
.
Dilarang copas
Dilarang plagiat
KAMU SEDANG MEMBACA
INTRIK (SUDAH TERBIT)
Lãng mạnRanking #1 Tender (16 Oktober 2022) (1 Desember 2022) (31 Oktober 2024) (8 Desember 2024) Ranking #1 Forsen (5 September 2023) (12 April 2024) (13 April 2024) (8 Desember 2024) 🦁🦁🦁 BLURB INTRIK Kisah dua hati yang diikat demi kepentingan perusa...
