Part 13 Alarm Hati

1.3K 22 1
                                        

#IntrikPart13



INTRIK



Oleh : Triana Kumalasari



Part 13



Alarm Hati



.


.



"Perusahaan kita," jawab Leo, yang diikuti senyum semringah Hendy dan Fahri.



Pak Atmaja merentangkan kedua lengan, lantas memeluk putra semata wayangnya, menepuk-nepuk punggungnya dengan bangga. "Bagus, bagus. Kau memang anak yang hebat."



"Bukan hanya aku, Papi. Penawaran kita menang karena desain arsitek kita memang bagus. Desain pasar modern tiga lantai yang efisien. Dan, yang membantuku merancang RAB serta bagian survei, semua orang-orang yang andal." Leo tersenyum senang.



"Oh, iya, maksud Papi, kalian semua memang hebat." Pak Atmaja ganti menepuk-nepuk bahu Hendy dan Fahri.



"Terima kasih, Pak," ucap Hendy dengan wajah berseri. "Rencana pelaksanaan proyek yang disusun Pak Leo memang bagus, Pak. Didukung pula dengan presentasi beliau yang begitu meyakinkan, membuat kita mudah memenangkan tender."



"Iya, itu benar." Fahri menimpali, tak kalah gembira.



"Pak Fahri lihat tidak ekspresi wajah Pak Harjasa dan Pak Wiguna?" tanya Hendy. "Mereka tampak geram."



"Mereka pasti sangat kecewa karena kalah tender dari perusahaan kita," kata Fahri.



"PT Harjasa dan PT Wiguna memang saingan berat kita sejak dulu." Pak Rozaq ikut angkat bicara, setelah memberi selamat kepada Leo dan kedua anak buahnya. "Tadinya, kita dan kedua perusahaan itu bergantian menang. Namun, sejak Mas Leo memimpin masalah tender, perusahaan kita hampir selalu unggul." Pria itu memandang putra bosnya dengan bangga.



"Kabarnya harga saham PT Harjasa mulai turun." Terdengar suara lelaki paruh baya dari bagian keuangan. "Karena kalah tender terus, para pemegang sahamnya mulai menjual saham mereka."



Pak Rozaq menghela napas. "Bisnis kadang memang berat. Begitu merosot, sebuah perusahaan bisa runtuh tak bersisa."



💸💸💸



Ketukan di pintu membuat Farah mengalihkan mata dari buku Tema yang sedang ia pelajari. Wanita itu sedang memikirkan cara mengajarkan teori di dalam buku paket tersebut agar mudah diterima para muridnya.



"Siapa?" tanya Farah. Opsinya ada dua, lelaki galak atau pembantu kikuk. Yang mana?



"Aku." Suara bariton yang dikenalnya menjawab.



Farah meletakkan bukunya di ranjang dan beranjak membuka pintu.



"Kenapa pintunya dikunci?" tanya Leo, melangkah masuk dan duduk di ranjang Farah, melirik sekilas pada buku yang tergeletak di sampingnya.



Farah memilih tetap berdiri. "Agar tidak ada orang yang menyelonong masuk," jawabnya, sambil mengulum senyum, memperhatikan wajah galak itu.



"Maksudmu Parti?" Leo menatapnya tajam.



Farah cuma meringis. Ia merasa diam itu emas. Bila menjawab jujur, bisa jadi akan membangunkan singa tidur.



"Mas Fahri tadi WA aku. Katanya kalian menang tender hari ini. Selamat, ya." Senyum lebar menghiasi wajah manis wanita itu. Lesung pipit di pipi kanannya tak mau ketinggalan unjuk diri.



"Terima kasih," ucap Leo. "Tolong percepat juga tender yang berhubungan denganmu. Aku tidak bisa tenang sebelum mendapatkan jawabanmu. Kuharap kau memberi kabar baik."

INTRIK (SUDAH TERBIT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang