#IntrikBab4
INTRIK
Oleh : Triana Kumalasari
Bab 4
Stevani Armeda
.
.
Bila Leo mengatakan tipenya seperti Nia Ramadhani, maka tipe Farah adalah Yudha.
Sorot matanya yang hangat, sikapnya yang dewasa, tutur kata yang lembut, juga kesabarannya, telah menggetarkan relung hati Farah. Akan tetapi, sayang, sepasang mata Yudha yang berwarna gelap ia dapati sering memperhatikan anak PMR itu, seorang gadis berwajah sedih.
Farah menghela napas pelan. Dalam dada terasa agak sesak. Menjadi seorang secret admirer terkadang memang berat. Namun, Farah yakin, jikalau Allah tidak menakdirkan seseorang yang ia sebut dalam doa untuk menjadi miliknya, maka Allah akan mengganti dengan jodoh yang terbaik baginya.
Jadi, Leokah jodoh terbaik itu?
“Atau idol Korea, Black Pink.” Suara Leo kembali terdengar.
Farah mencibir sebal. “Mas Leo juga bukan tipeku.”
Leo memajukan tubuh. “Oh ya? Padahal banyak wanita yang mengatakan bahwa aku ganteng. Memang seperti apa tipemu?”
Yang ditanya melirik. Memang sih, secara penampilan, Leo bisa dibilang di atas rata-rata. Berkulit putih dengan rambut cokelat lebat. Mata kecokelatannya mungkin bisa membuat banyak wanita jatuh hati, tetapi tidak berlaku bagi Farah. Mata cokelat itu begitu tajam dan dingin, membuatnya bergidik. Aura mendominasi yang terpancar dari lelaki ini membuatnya tidak nyaman.
Mungkin cukup sebanding bila Leo mengharapkan wanita mirip artis. Dan itu jelas bukan dirinya. Dengan kulit sawo matang dan hidung agak minimalis, memang ia tak secantik artis. Akan tetapi, Farah pun bukan wanita pemuja fisik. “Aku menyukai pria yang baik hati,” tandasnya.
“Dalam dunia bisnis, mana ada orang yang pure baik, Farah.” Leo berdecak. “Kau terlalu naif.”
“Aku juga tak ingin suami yang berkecimpung dalam intrik dunia bisnis,” tukas Farah. “Aku … lebih menyukai lelaki biasa saja. Tak mengapa bila profesinya sederhana.”
“Itu aneh. Biasanya para wanita pada materialis. Mencari suami pengusaha sukses.” Mata cokelat Leo menelusuri wajah Farah.
“Wanita-wanita dalam pergaulanmu barangkali yang materialis. Tidak semua wanita matrelah.”
Leo mengusap-usap dagunya yang berbekas cukuran, menelengkan kepala sedikit, mengamati Farah yang masih sibuk menata baju. “Ayahmu pengusaha juga kan, Farah? Aku tahu ayahmu punya CV, bergerak di bidang material bahan bangunan.”
“Iya.”
“Dibesarkan oleh orang tua yang berkecimpung di bidang bisnis, kenapa jalan pikiranmu bisa demikian konservatif?”
“Mas Leo salah.” Farah menutup kopernya dan duduk di atas ranjang, membalas tatapan Leo. “Aku dibesarkan oleh kakek dan nenekku di Malang, jauh dari ingar bingar dunia bisnis.”
“Oh?”
“Sejak bayi, setelah Mama meninggal saat melahirkan aku, aku tinggal bersama Kakek dan Nenek. Saat kuliah baru tinggal bersama Papa di Jakarta.”
“I see.”
Hening merayap tatkala keduanya membisu dalam pikiran masing-masing. Farah melemparkan pandangan ke luar pintu kaca yang tertutup, sementara Leo duduk bersandar di sofa dengan lengan terlipat di depan dada.
Setelah berdiam diri cukup lama, Farah berdiri. “Aku ingin jalan-jalan di sekitar sini.”
Leo ikut bangkit dari sofa. “Baiklah. Ayo. Kita jalan-jalan sore, sekalian nanti cari makan malam.”
Melewati lorong panjang menuju lift untuk turun ke lobi, keduanya tak banyak bicara. Beberapa turis asing berkulit pucat dan bermata biru berpapasan dengan mereka di dalam lift. Farah yang mengenakan gamis toska dan jilbab warna senada terlihat sangat kontras dengan para bule yang memakai tank top hitam dan biru dongker.
Pintu lift terbuka di lantai dua. Seorang wanita muda berkulit kuning langsat melangkah masuk ke dalam lift. Ia tampak terkejut saat melihat Leo, sekaligus gembira. Leo juga melempar senyum.
“Sedang ada proyek di Bali?” tanya wanita yang mengenakan blus putih dan celana panjang katun berwarna cokelat susu itu. High heels cokelat tua menyempurnakan keanggunannya.
“Tidak,” jawab Leo. Lantas, sembari berdeham, ia menjawab canggung, “Bulan madu.”
Wanita itu menaikkan kedua alisnya, melirik ke arah Farah yang berdiri di samping Leo, lantas manggut-manggut kecil.
Pintu lift terbuka dan mereka semua melangkah keluar, termasuk bule-bule yang ada di dalam lift.
“Ngobrol dululah, Leo. Aku traktir kalian minum.” Wanita itu melenggang dengan luwes. Rambutnya yang disemir cokelat terang dan dikucir ekor kuda bergoyang saat ia berjalan. Leo mengikutinya. Farah juga, terpaksa.
Memasuki kafe yang cozy, mereka memilih meja di tepi ruangan. Warna keemasan yang mendominasi memberikan kesan hangat.
Leo memesan ice blend coffee, Farah memilih chocolate milkshake, sementara wanita itu memesan sarsaparilla.
“Kenalkan, istriku.” Leo mengarahkan tangan kanannya pada Farah. Wanita itu memandang Farah, matanya seakan meneliti.
Farah mengulurkan tangan, tersenyum. “Hai, aku Farah.”
Wanita itu menjabat mantap tangan Farah. Jemarinya yang berkuteks merah pada setiap kuku terasa lembut. “Aku Stevani Nathania Armeda. Kamu Farah siapa?”
“Eh? Oh, Farah Maheswari Dinata.” Biasanya, Farah tidak merasa perlu menyebutkan nama lengkap bila berkenalan. Stevani tampaknya berpendapat lain.
“Dinata?” Stevani menoleh ke arah Leo, seraya mengangkat sebelah alisnya yang terukir apik ala Korea.
“CV Dinata Material,” jawab Leo.
“Aah.” Stevani manggut-manggut. “Masih ada hubungannya dengan konstruksi, ya. Pantas saja.” Wanita elegan tersebut meneguk pelan isi gelasnya. “By the way, rasanya pernah tahu Dinata yang lain. Laki-laki.”
“Fahri Dinata,” ucap Leo. “Kita pernah bertemu dan berkenalan dengannya sepintas lalu saat pesta pernikahan Edward setahun yang lalu. Dia kakak Farah.”
“Pantas saja aku seperti pernah melihat wajah seperti Farah sebelumnya. Kau sangat mirip dengan kakakmu, Farah.”
Istri Leo mengangguk seraya tersenyum. Telah banyak komentar orang tentang kemiripannya dengan sang kakak. Dan baginya, ini menyenangkan. Meski dibesarkan terpisah, ia di Malang dan kakaknya di Jakarta, tetapi dirinya dan Fahri saling menyayangi.
Farah menyedot chocolate milkshake-nya. Mmm, manis dan dingin.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini, Stevy?” tanya Leo, meletakkan ice blend coffee-nya ke meja. “Pindah tugas mengawasi hotel kalian yang di Bali? Tapi, ini bukan Hotel Armeda. Lupa dengan hotelmu sendirikah?”
Tawa Stevani membahana. Meski demikian, suara tawa yang elegan. Wanita itu menutupi bibir dengan satu tangan saat tertawa.
“Enggak. Aku meeting dengan pemilik hotel ini. Satu jam lagi aku terbang kembali ke Jakarta. Tak kusangka akan bertemu denganmu di sini.” Wanita itu melirik Farah sembari menggoyang pelan gelas berisi sarsaparilla. “I’m so sorry, Leo. Aku tidak datang ke resepsi pernikahanmu. Terus terang, papimu tiba-tiba mundur dari rencana perjodohan kita agak membuatku … hmm … you know … heartbroken.” Ia tertawa getir.
Farah berhenti menyedot chocolate milkshake-nya. Ternyata wanita ini pernah ada hal istimewa dengan suaminya.
BERSAMBUNG
KAMU SEDANG MEMBACA
INTRIK (SUDAH TERBIT)
RomansaRanking #1 Tender (16 Oktober 2022) (1 Desember 2022) (31 Oktober 2024) (8 Desember 2024) Ranking #1 Forsen (5 September 2023) (12 April 2024) (13 April 2024) (8 Desember 2024) 🦁🦁🦁 BLURB INTRIK Kisah dua hati yang diikat demi kepentingan perusa...
