Bab 6 Bocah yang Tenggelam

682 16 0
                                        

#IntrikBab6

INTRIK

Oleh : Triana Kumalasari

Bab 6

Bocah yang Tenggelam
.
.
“Kan sudah, Pa. Farah mengikuti keinginan Papa menikah dengan orang asing demi keuntungan perusahaan.” Suara Farah serak, ia mengerjap, matanya mulai berkaca-kaca. “Farah hanya bisa berkorban sampai di sini saja, Pa. Lagi pula, Mas Leo tidak akan mau Farah atur-atur.”

“Tentu bisa. Seorang istri sangat mungkin untuk mempengaruhi suaminya.”

Farah menggigit bibir. Ambisi sang papa selalu terasa bagai tekanan hidup baginya. Ia benci dengan segala intrik bisnis ini. “Istri yang bagaimana dulu, Pa. Mas Leo dan aku—” Ucapannya terpotong saat manik matanya menangkap sesuatu di kejauhan, di dekat Leo, di pinggir kolam. “Aduh, anak itu ….”

Dilihatnya anak laki-laki bertopi loreng yang tadi bermain bola di ambang pintu kaca sedang berusaha meraih sesuatu yang mengambang di air. Tampaknya bola putihnya masuk ke kolam. Kini tubuh kecilnya terjungkal, masuk ke kolam persegi, kolam yang dalam.

Dari kejauhan, Farah melihat Leo menoleh ke arah suara kecipak air saat anak itu menggerak-gerakkan tangan panik. Namun, Farah tak percaya, ia melihat suaminya itu hanya berdiri diam. Astaga!

“Anak? Anak apa?” Suara Pak Dinata kembali terdengar. “Farah hamil? Itu bagus sekali. Posisimu akan semakin kuat dalam keluarga Atmaja.”

“Pa, Farah harus pergi.” Farah memutus sambungan telepon, lalu berlari ke area kolam.

“Mas Leo! Mas Leo!” Farah berteriak sambil berlari dan melambai-lambaikan tangan. “Anak itu tenggelam! Anak itu! Tolong dia!” jeritnya, menunjuk-nunjuk ke arah bocah yang mulai berkecipak lemah. Namun, Leo bergeming.

Perlahan, tangan itu tak lagi berkecipak, dan mulai tenggelam.

Farah yang telah tiba melempar tas cokelatnya ke lantai begitu saja dan langsung menceburkan diri ke dalam kolam, lengkap dengan gamis, jilbab, dan sepatu sandalnya. Ia berusaha menggapai tubuh kecil yang telah berhenti berkecipak.

Terdengar jeritan-jeritan histeris. Tampaknya sang Ibu telah melepaskan matanya dari layar ponsel dan menyadari bahwa anak lelakinya tercebur ke kolam yang dalam.

Di dalam air, Farah memeluk si bocah. Diusahakannya membalik tubuh gendut yang telungkup itu agar telentang, berusaha membuat wajah anak tersebut berada di atas permukaan air.

Anak itu tak lagi bergerak, lemas tanpa daya. Rasa takut menyergap hati Farah. Sambil menyeret tubuh kecil gendut di permukaan, ia terus menendang-nendangkan kaki di bawah air, berupaya untuk menepi.

Ia hampir mencapai tepian. Akan tetapi, belum sempat tangannya menggapai dinding tepi kolam, Farah terbenam. Tersengal, wanita itu segera menahan napas, berusaha agar air tidak masuk melalui mulut dan hidungnya, sambil susah payah menahan tubuh si anak gendut agar tetap di permukaan. Dadanya mulai sesak, kekurangan oksigen.

Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh meraih bahunya dan menariknya ke atas. Farah muncul dari air sambil terbatuk-batuk. Leo tampak berjongkok di tepi kolam, menatapnya nanar dengan wajah pucat. Tangan kanan lelaki itu mencengkeram bahu istrinya, sedangkan tangan kirinya menggenggam erat besi pegangan tangga yang biasa dipergunakan untuk turun ke kolam renang atau naik ke darat.

Ibu si anak berdiri di sebelah Leo sambil berteriak-teriak panik. Para pegawai hotel berlari mendekat.

Farah mengernyit, cengkeraman Leo di bahunya terlalu kuat. Sakit. “Aduh!”

“Oh, maaf,” ucap Leo, melepaskan bahu Farah dan ganti menarik lengan anak yang pingsan. Tangan kirinya tetap menggenggam pegangan tangga.

Para pegawai hotel membantu Leo menarik ke atas tubuh si anak gendut.

INTRIK (SUDAH TERBIT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang