Part 14 Harjasa

83 5 0
                                        

#IntrikPart14

INTRIK

Oleh: Triana Kumalasari

Part 14

Harjasa

.
.

“Apa sebelum ke sini kau minum dulu di tempat lain?” tanya Leo, memandang Stevani yang tampak agak pucat dengan mata kemerahan. “Pulang saja, Stev. Tidur. Kau terlihat sedang kacau. Tapi …,” Leo melirik Farah, “kali ini, aku tak bisa mengantar.” Ia beralih memandang Vincent. Yang dipandang mengangguk.

“Aku saja.” Vincent menyahut cepat. “Apartemen Stevy tak jauh dari sini. Kalian tunggu di sini. Aku akan segera kembali. Kau masih tinggal di Apartemen Nirwana kan, Stev?”

“Menyebalkan.” Stevani meniup sejumput rambutnya yang menjuntai kusut di depan wajah. “Kau tahu, pernikahan tanpa cinta dalam dunia bisnis, biasanya akan kandas seketika. Tak perlu menunggu lama.” Ia menghela napas. Ada aroma alkohol yang ikut menguar. “Aku tak tahu, apakah harus menikahi lelaki tengil itu, ataukah menunggumu menjadi duda saja.”

“Astaghfirullah.” Ranti menutup mulut dengan sebelah tangan. Farah tak bersuara, mukanya merah padam.

“Ayolah, Stevy. Leo benar. Kau sedang mabuk. Jadi meracau. Besok lagi saja ngobrolnya. Besok aku masih di Indonesia.” Vincent buru-buru mengajak Stevani bangkit dari kursi.

Stevani menepis tangan Vincent. “Aku bisa jalan sendiri.” Diambilnya tas putih dari meja. Tanpa sengaja, tas tersebut menyenggol minuman di dekatnya, membuat gelas itu terguling dan menumpahkan isinya yang berwarna cokelat kehitaman. Ranti menjerit kecil sambil buru-buru menyelamatkan bagian bawah gamisnya dari cipratan.

“Aku panggil pelayan.” Damar bangkit dan menuju meja layan.

Stevani memandang minumannya yang menetes-netes dari tepian meja, jatuh menggenangi lantai. Wanita itu menghela napas, lalu melempar tatapan tanpa senyum ke arah Leo. “Besok, kan?”

“Ya. Jam sembilan pagi,” jawab Leo. “Jangan terlambat.”

“Okay … kuharap besok aku sudah pulih. Tampaknya besok pagi aku akan sakit kepala.” Wanita cantik itu memegang kepalanya yang terasa berputar. Seraya mencangklong tas putih di bahu kanan, ia berjalan pergi dengan agak sempoyongan. Vincent buru-buru mengekor.

Damar kembali bersama pelayan yang membawa alat pel.

Insiden kecil itu membuat beberapa pengunjung lain menoleh, termasuk di antaranya seorang pria tua gemuk dengan rambut beruban dan acak-acakan yang duduk di tepi ruangan dengan laptop menyala di mejanya. “Leo Atmaja,” cetus bibir sang lelaki tua.

Wanita muda berpenampilan seksi yang duduk di sebelah pria tua tersebut, yang tadinya asyik melihat-lihat tas branded di layar ponsel, ikut mengangkat mata. Diikutinya arah pandang si lelaki tua. “Siapa, Pi? Papi kenal mereka?”

“Leo Atmaja.” Pak Harjasa mengulangi, lalu mendengkus pendek. “Tentu saja kenal. Papi dan adik lelakimu sering bertemu dengannya di ruang tender. Atmaja muda itu mengalahkan proposal-proposal kami, dan karenanya sekarang saham PT Harjasa jadi anjlok.” Pria tua itu memasang lagi kacamata bacanya dan kembali mengamati deretan angka di layar laptop. Tak lama kemudian, tangan gemuknya lagi-lagi mengacak rambut yang sudah semrawut.

“Ada dua pria di meja itu. Yang mana? Kaus hijau berjenggot atau kaus putih jaket jin?”

“Jaket jin,” jawab Pak Harjasa, tanpa melepaskan mata dari deretan angka.

Wanita itu, Fransiska Harjasa, bersiul kecil. “Lumayan … cute.”

Pak Harjasa melirik putrinya dengan pandangan tak suka. “Kau ini, berhentilah bermain-main. Menikahlah dengan pengusaha sukses yang bisa memperkuat perusahaan kita, macam Leo Atmaja itu.”

“Ya sudah. Jodohkan saja aku dengan dia, Papi. Beres masalah.” Fransiska menyahut enteng. “Dari lawan berubah menjadi kawan. Bagus, kan?”

“Ingin Papi juga begitu. Tapi sepertinya Pak Atmaja mencari gadis yang salihah untuk menjadi pendamping putranya. Makanya, perbaiki kelakuanmu, Siska. Berhenti bermain-main, agar Papi lebih mudah mencarikanmu jodoh.” Pak Harjasa menautkan jemari, mata tuanya menatap Leo. “Sayang, Atmaja muda itu sekarang sudah menikah. Papi bahkan datang ke resepsinya. Padahal, pernikahan dengan keluarga Atmaja bisa berdampak bagus bagi PT Harjasa.” Pak Harjasa sedikit menghela napas. “Kau lihat wanita berjilbab krem di sebelahnya? Itu istri pilihan Pak Atmaja.”

Fransiska menegakkan punggung saat matanya menangkap sosok Farah. Sambil mencondongkan tubuh ke depan, ia menyipitkan mata. “Wajah itu … dia sangat mirip dengan seseorang yang pernah aku kenal di Amerika. Seorang laki-laki.”

Pak Harjasa kembali memandang deretan angka di layar laptop. “Siapa? Fahri Dinata? Dia kakak wanita muda itu.”

Fransiska menatap sang papi dengan mata lebar. “Papi kenal Fahri?”

“Kenal langsung sih tidak. Tapi akhir-akhir ini beberapa kali bertemu di ruang tender.”

“Dia ikut tender? Tapi … setahuku keluarganya hanya punya CV material. Seharusnya sih, tidak ikut tender konstruksi.” Fransiska menaikkan sebelah alisnya yang diukir segaris.

“Dia anak buah Leo. Fahri Dinata menjadi salah satu perwakilan PT Atmaja Building, mendampingi Leo.”

“Benarkah?” Putrinya manggut-manggut. “Tampaknya pernikahan adik perempuannya berdampak bagus bagi kariernya.” Fransiska tersenyum miring.

“Begitulah.” Pak Harjasa menyeruput kopinya yang telah dingin. “Ayah mereka pandai memanfaatkan peluang.”

“Papi,” suara Fransiska berubah serius, “kurasa sekarang aku tahu cara untuk mengalahkan Leo Atmaja, dan menyelamatkan perusahaan kita.”

Pak Harjasa menjauhkan sedikit cangkir dari bibirnya, memandang sang putri. “Caranya?”

“Kita bisa menggunakan Fahri Dinata,” Fransiska melanjutkan, setengah berbisik. “Tapi, aku harus menyelidiki dia terlebih dahulu. Kita tidak boleh gegabah. Jangan sampai salah langkah. Aku perlu tahu dulu bagaimana kondisi keluarganya sekarang, dan seberapa banyak wewenang Fahri dalam PT Atmaja. Jadi aku bisa memperkirakan seberapa kuat rahasia yang kupegang tentangnya dapat berpengaruh untuk membuat dia membantu kita mengalahkan Leo.”

Pak Harjasa meletakkan cangkirnya, menatap putrinya dengan mata lebar dari balik kacamata bundar.

Wanita itu meraih Cappuccino-nya dan menyesap perlahan. “Keluarga Atmaja tidak akan cepat waspada. Orang dekat, dapat menjadi pengkhianat yang paling sulit terdeteksi.” Bibir berpoles lipstik nude Fransiska menyunggingkan senyuman. Senyum yang lebih menyerupai seringai licik.

Sementara itu, sepeninggal Stevani dan Vincent, meja sudut yang tengah diawasi Fransiska dan papinya diselimuti aura kikuk. Diam-diam, Farah merasa geram. Stevani terlalu blak-blakan dan melanggar batas etika menurut standarnya.

“Jangan hiraukan Stevani. Dia sedang kusut. Dijodohkan karena bisnis pun, orang yang kukenal ada yang langgeng juga, kok.” Ranti berkata kepada Farah, mencoba mencairkan suasana.

“Apa kalian juga dijodohkan untuk kepentingan perusahaan? Perusahaan kalian bergerak di bidang apa?” tanya Farah, memandang Damar dan Ranti.

Suami istri itu saling memandang. Damar menggaruk jenggot.

“Tidak. Mereka menikah karena cinta.” Akhirnya Leo yang menjawab.

Farah menoleh ke arah sang suami. Hati kecilnya masih kesal dengan kejadian Stevani barusan. “Karena cinta?”

.
.

BERSAMBUNG
.
.

*Part 14 ini merupakan penggalan dari bab 11 versi novel.

Novel INTRIK terdiri dari 33 bab.

Pemesanan PO novel INTRIK, silakan klik wa.me/6287880039311 😊 

.
.

Dilarang copas seluruh maupun sebagian tulisan ini

Dilarang plagiat

Dilarang plagiat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
INTRIK (SUDAH TERBIT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang