Part 12 Proyek Istimewa

692 18 0
                                        

#IntrikPart12

INTRIK

Oleh : Triana Kumalasari

Part 12

Proyek Istimewa

.
.

Leo menarik tangan Farah, mendorongnya hingga terduduk di sofa. Lalu, lelaki itu menghempaskan tubuhnya sendiri di samping sang istri. Mata cokelat itu memandang layar TV yang sedang menampilkan film Hollywood sebagai ganti sinetron yang sebelumnya diputar. Seorang pria tampak sedang mengendap-endap sambil membawa pisau. “Kau sedang menonton apa?”

“Tidak ada. Aku setel asal. Tidak ada acara yang menarik,” jawab Farah.

Leo meraih remote TV dan mematikan benda persegi di hadapannya. Kemudian, lelaki itu menyandarkan punggung. Direbahkannya kepala ke sandaran sofa cokelat. “Aku lelah,” keluhnya. Tangan kanannya mengusap dada kiri.

“Siapa suruh pergi ke kantor?” tukas Farah. Rasa kesal yang berbaur dengan cemas kembali lagi. “Badan Mas Leo masih belum pulih. Harusnya tunggu, sabar sedikit.”

Leo meraih dasi biru tua di lehernya, menariknya lepas, dan melemparkannya ke sofa dengan sembarangan. “Hari ini ada meeting dengan klien penting. Sayang kalau proyeknya lepas.” Lelaki itu menoleh, memandang sang istri. “Tapi negosiasinya sudah selesai. Alhamdulillah lancar. Tinggal pelaksanaan proyek. Pembangunan rumah sakit itu selanjutnya bisa di-handle Pak Hendy dan kakakmu.”

“Baguslah,” ujar Farah, lega. “Jadi Mas Leo bisa istirahat. Berhentilah dulu pergi mengurusi proyek rumah sakit, perumahan, dan entah proyek apa lagi untuk sementara waktu. Diam di rumah dulu. Fokus istirahat untuk kesembuhan.”

“Ya. Kupikir sudah waktunya aku mengurus proyek yang satu lagi.”

Farah kontan cemberut. “Proyek yang mana lagi?” Suaranya meninggi. “Aku lelah menjaga pasien yang tidak patuh pada nasihat Dokter. Istirahatlah dulu dan makan makanan yang bergizi. Untuk sementara waktu, berhenti banyak pikiran. Berhentilah dulu pergi ke kantor.”

“Proyeknya di rumah.”

“Oh? Tidak harus meeting ke kantor atau meninjau ke lapangan? Bisa dari rumah? Baguslah. Proyek apa?”

“Proyek anak.”

“Eh?” Manik mata Farah melebar, berkedip sekali, lalu menggeser duduknya, beringsut menjauh.

Leo menatap sang istri, mengamati reaksinya. Farah jadi salah tingkah. Ia melirik ke arah pintu yang menuju bagian belakang rumah, berharap Parti tiba-tiba muncul, menyelamatkannya dari situasi yang canggung ini.

Leo mengubah posisi tubuh, menghadap Farah. “Sekarang, kita sudah cukup saling mengenal untuk bisa memutuskan mau bagaimana selanjutnya,” ucapnya. “Proyek anak tidak bisa ditunda terlalu lama. Papi akan menanyakannya lagi. Lagi pula, memang sudah waktunya.”

“Eemm … me-menurutku, anak tidak seperti proyek konstruksi. Tidak sesimpel membangun gedung.” Farah mengutarakan pendapatnya, agak tergagap. “Kalau tujuannya cuma bikin anak, mungkin simpel. Tapi, aku ingin anakku bahagia. Menurutku, anak akan bahagia bila memiliki orang tua yang saling mencintai. Kita … tidak seperti itu, kan?”

Leo menegakkan duduknya, tanpa melepaskan tatapannya pada wajah sang istri. “Aku menyukaimu. Saat bulan madu kemarin, aku sudah cukup mengenal karaktermu. Dari apa yang kulihat tentangmu, mudah bagiku untuk mencintaimu.”

Farah terkesiap, wajahnya memerah. Lalu, ia menunduk, memainkan ujung jemari. Ini di luar perkiraannya, terlalu tiba-tiba, mengagetkan.

“Kenapa?” tanya Leo. “Jangan bilang kau masih menyukai orang itu.”

“Eh? Kurasa … tidak. Entahlah … ini agak mendadak.”

“Lupakan dia. Sukai aku saja.”

Farah mengangkat wajah, menatap Leo. Mata hitamnya bergerak-gerak ragu. “Beri waktu berpikir?”

Terdengar keluhan dari bibir Leo. “Perlukah?”

“I-iya.”

“Sebetulnya, itu hanya membuang waktu,” ujar Leo, manyun. “Tapi, karena aku tak ingin memaksamu, baiklah. Cuma, jangan terlalu lama.”

“Eng ...,” Farah menggigit bibir bawah, “enam bulan?”

Dahi Leo langsung berkerut. “Lama sekali!” protesnya.

“Kan Mas Leo juga belum sembuh.” Farah mengingatkan, setengah mencari alasan. Detak jantungnya bak deburan ombak yang berkejaran. Kalau bisa, ingin lari saja.

“Aku akan mengikuti saran dokter, meminum obat dan segala vitamin yang diresepkan. Dokter bilang penyembuhanku sekitar tiga sampai delapan minggu, kan? Enam bulan terlalu lama. Sesuaikan dengan kesembuhanku saja. Itu sudah lama,” putus Leo, tegas.

“Jadi ... delapan minggu?” Farah menggigit bibir. Ia tak yakin mampu mempersiapkan hatinya dalam delapan minggu.

“Kan sudah lewat dua minggu.” Alis Leo berkerut. “Kenapa dua minggu yang telah berlalu tidak kau hitung?” Sebenarnya sih, dua minggu kurang tiga hari.

“Jadi, tinggal enam minggu?” Wajah Farah memucat. “Cin-cinta tidak datang secepat itu. Paling tidak, untukku. Aku juga tak ingin ada anak tanpa cinta. Jadi ….”

Leo mendesah. “Ternyata negosiasi yang ini lebih sulit daripada memenangkan tender.” Menatap lekat sang istri, lelaki itu mengembuskan napas. Haruskah ia mengalah? “Tipe seperti apa dia? Orang yang dulu kau sukai itu? Adakah kemiripan denganku?”

“Oh? Eng … tidak ada. Kalian sangat berbeda. Baik secara fisik, apalagi sifat. Dia orang yang sabar, sedangkan Mas Leo galak seperti singa.” Sedetik kemudian, Farah buru-buru menutup mulutnya dengan tangan. “Eh ….”

Lelaki di hadapannya mengernyitkan dahi. Mata cokelat itu menyipit. “Singa?”

Sang istri gelagapan, dalam hati memarahi mulutnya yang terlalu jujur. “Eh ... maksudku ... emm ... singa yang lucu?”

Leo mendengkus. “Lalu, apa aku harus menjadi seperti dia agar bisa memenangkan hatimu?”

Farah tertegun. Apakah ini berarti Leo serius menyukainya?

Seraya menggigit bibir bawah, wanita itu menggeleng. “Tidak. Mas Leo tidak perlu menjadi seperti dia. Tiap orang memiliki kelebihannya sendiri.”

“Baguslah.” Leo tak menyembunyikan kelegaannya. “Dan satu lagi. Berhentilah berkeliaran di dalam rumah mengenakan gamis dan jilbab. Itu menyebalkan.” Diulurkannya tangan, menyentuh rambut hitam Farah yang terurai jatuh pada kaus hijau pupus bertuliskan “Hawaii” yang wanita itu kenakan. “Kemarin-kemarin, aku penasaran, apakah rambutmu cokelat keriting seperti Pak Dinata, atau hitam bergelombang seperti Pak Fahri? Dan, seberapa panjang?” Seulas senyum menghiasi wajah tampan itu. “Sekarang aku tahu jawabannya.”

Farah diam saja, membiarkan Leo bermain-main dengan rambutnya. Diam-diam, ia mengagumi senyum itu. Senyuman itu jarang muncul karena pemiliknya bukan orang yang murah senyum.

Kau juga menarik, bisik Farah dalam hati. Kedua pipinya menghangat. Kau tak perlu menjadi seperti dirinya. Saat tahu dia menyukai gadis lain, aku belajar memupus harapanku kepadanya. Sekarang, akan kucoba membiarkan pesonamu masuk. Kalian sangat berbeda, tapi kau pun punya daya tarik tersendiri.

💸💸💸

Senyum lebar menghiasi wajah Fahri. Lelaki tersebut berjalan gagah di belakang adik ipar sekaligus atasannya, berdampingan dengan Hendy.

Memasuki ruangan Pak Atmaja yang luas dan rapi, ketiga lelaki muda itu disambut oleh wajah tegang Pak Atmaja, Pak Rozaq, dan satu pria paruh baya lain dari bagian keuangan.

“Kalian sudah kembali. Bagaimana tender pasar modernnya?” Pak Atmaja meninggalkan mejanya dan melangkah ke arah Leo. Meski telah lanjut usia, papi Leo dengan tubuh suburnya masih sigap, terutama bila berurusan dengan tender dan profit. “Siapa yang memenangkan tendernya?”

.
.

BERSAMBUNG
.
.

*Part 12 ini merupakan penggalan dari bab 10 versi novel

.
.

Dilarang copas
Dilarang plagiat













INTRIK (SUDAH TERBIT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang