Bab 2 Leo vs Parti

903 15 0
                                        

#Tantangan AprilForsen
#IntrikBab2
Total 1083 words
.
.

INTRIK

Bab 2
Leo vs Parti
.
.
"Makanan apa ini?" Leo mendorong piringnya.

"Kenapa lagi?" tanya Farah, enggan. Sarapan pertamanya di rumah baru, tidak bisakah Leo membiarkannya makan dengan tenang?

"Hambar," tukas Leo.

Farah menyendok tumis kangkung ala Parti yang ada di piringnya. Masih hangat. Asap tipis masih mengepul. Setelah mencicipi, ia terdiam.

"See?" Leo mengangkat sebelah alis.

Parti datang sambil menenteng nampan putih berisi secangkir kopi panas untuk Leo dan segelas teh manis hangat untuk Farah. Jantungnya langsung mau copot melihat tatapan tajam Leo.

"Mbak Parti, sayurnya apa lupa diberi garam?" tanya Farah.

"I-itu ... Tuan kemarin bilang masakan saya terlalu asin. Ja-jadi hari ini tidak saya beri garam, Nyah." Parti tergagap.

Dengusan terdengar dari arah Leo. "Sudahlah. Parti, besok kau boleh pulang ke kampung."

Wajah Parti langsung memucat. "A-apa saya dipecat, Tuan?"

"Ya." Leo menjawab singkat, lugas.

Kini wajah Parti seputih kertas. Tangannya yang memegang nampan bergetar. Kopi panas yang jadi beriak terpercik ke tangan kanannya.

Parti menjerit dan melepaskan pegangan tangan kanannya pada nampan. Cangkir kopi dan gelas teh pun terguling, meluncur jatuh membentur lantai. Pekikan Parti membahana sementara ART yang masih belia itu melompat menghindari cipratan kopi dan teh panas.

"Astaghfirullah." Farah meletakkan sendok dan berdiri dari kursi. Sementara Leo memandang ART mereka dengan ekspresi cemberut.

"Mbak Parti nggak apa-apa?" tanya Farah, menyentuh lengan Parti.

"Besok aku minta Pak Rozaq mencari ART lain saja," tukas Leo, kesal.

Parti menatapnya dengan panik. "Jangan, Tuan." Ia nyaris menyambar tangan Leo untuk digenggam. "Tolong, jangan. Bapak saya sakit, Tuan. Keluarga saya hanya bergantung kepada saya untuk makan. Adik-adik saya masih sekolah, masih kecil-kecil. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini."

Leo menyandarkan punggung. "Maaf, Parti, tapi kinerjamu tidak memuaskan bagi saya."

"Saya mohon maaf, Tuan." Bulir bening kini mengalir di pipinya yang berjerawat. "Biarkan saya tetap bekerja di sini, Tuan. Hanya saya tumpuan mereka." Parti terisak.

"Iya, sudah. Nggak apa-apa, Mbak Parti." Farah menepuk bahu sang ART lembut. Leo langsung melotot ke arahnya. "Tolong diberesin, ya, pecahan cangkir dan gelasnya. Hati-hati, jangan sampai terluka. Apa mau saya bantu?"

"Tidak usah, Nyah. Biar Parti saja." Parti buru-buru mencegah saat Farah hendak berjongkok. "Jadi, saya tidak jadi dipecat ya, Nyah?" Mata basahnya menatap dengan pandangan memohon.

Farah mengangguk sambil tersenyum, disambut embusan napas lega sang ART. Parti mengusap pipi dan hidungnya yang berair lalu berjongkok, mulai mengumpulkan pecahan cangkir dan gelas.

Di ujung meja, bola mata Leo yang kecokelatan semakin tajam menatap Farah. Berani sekali wanita ini menentangnya.

***

"Kenapa kau menentang keputusanku?" tegur Leo dengan suara galak. Lelaki itu melipat lengan di depan dada, menyandarkan bahu kanan ke ambang pintu kamar Farah.

"Tolong pelankan suaramu. Nanti Mbak Parti dengar." Farah meletakkan telunjuk di depan bibir. Ia batal melepaskan jilbab karena ternyata Leo mengekor mengikutinya ke kamar. Sebenarnya sih, tak masalah. Di mata hukum dan agama, Leo adalah suaminya. Namun, ia belum merasa nyaman dengan lelaki ini. Orang ini masih terasa begitu asing. Galak pula.

"Tak masalah dia dengar. Kerjanya tidak becus. Dia harus diganti."

"Apa Mas Leo tak dengar dia bilang bapaknya sakit?"

"Itu bukan alasan untuk mempertahankan orang yang tidak kompeten. Kalau seorang karyawan tidak memenuhi standar, tentu harus diganti dengan orang yang lebih mumpuni."

"Tidak ada salahnya memberinya waktu berlatih dan beradaptasi." Mata hitam Farah tak gentar menabrak tatapan tajam Leo.

Leo mendengus. "Kau tak punya bakat jadi majikan."

"Dan Mas Leo perlu belajar tentang perikemanusiaan."

Leo bangkit dari posisi bersandarnya, menegakkan badan, terlihat marah. Mata kecokelatannya berkilat, tetapi bibirnya terkatup dengan rahang yang mengeras. Tampak kehilangan kata, tak menyangka bahwa wanita di hadapannya ini sangat tegas dan lancang.

Parti datang tergopoh. "Tuan, Nyonya, ada tuan besar. Beliau dan nyonya besar menunggu di ruang tengah."

Pak Atmaja tampak duduk di sofa ruang tengah dengan wajah tertekuk. Sedangkan Bu Atmaja langsung berdiri dan memeluk Leo berlama-lama, mengusap punggung anak kesayangannya.

Farah menyapa sopan saat sang Ibu mertua memeluknya sekilas.

"Apa benar kalian berdua tidur terpisah?"

Pertanyaan Papi Leo itu membuat keduanya terkejut dan salah tingkah. Bagaimana beliau bisa tahu?

Leo agak tergagap. "Tentang itu ...."

Pak Atmaja melemparkan pandangan menusuk kepada sang putra, menunggu penjelasan. Wajah bulatnya yang bagi Farah biasanya tampak ramah kini terlipat.

Leo melirik Farah sekilas. "Bagaimana Papi tahu kalau kami menempati kamar yang berbeda?"

"Itu bukan masalah utamanya, Leo." Pak Atmaja setengah menghardik putranya, tampak kesal. Namun, beliau telah cukup ahli dalam mengendalikan emosi. "Kalian sudah menikah. Suami istri. Tidak seharusnya tidur terpisah. Tampaknya Papi masih kurang baik dalam mendidikmu." Helaan napas pria sepuh itu terdengar cukup jelas di dalam keheningan.

"Parti," Leo menggumam, lantas menoleh menatap asisten rumah tangga yang sedang mengelap meja makan.

"Jangan salahkan dia," ujar Pak Atmaja. "Parti cuma menjawab pertanyaan Papi."

Kerutan muncul di tengah dahi Leo. Ia semakin tak menyukai si pembantu. Ternyata kini papinya memanfaatkan Parti untuk menjadi mata-mata di dalam rumahnya.

"Kalian belum berbulan madu, kan?" Pak Atmaja ganti memasang suara riang saat menoleh ke arah Farah, tersenyum ramah. "Farah ingin berlibur ke mana? Paris, mungkin? Atau Jepang?"

Farah menggeleng sopan. "Tidak, Pi. Farah tidak ada keinginan pergi ke mana-mana. Lagi pula, dua minggu lagi murid-murid Farah mau ulangan akhir semester." Farah bekerja sebagai seorang guru di SDIT Insan Amanah. Saat ini, ia menjadi wali kelas 2A.

"Leo juga banyak kerjaan, Pi. Nggak bisa ditinggal lama," Leo menimpali. "Ada proyek perumahan cluster Orchid."

"Proyeknya sudah jalan, kan? Untuk pengawasan, serahkan dulu kepada manajer dan mandor sementara kamu pergi."

"Ada persiapan tender departemen store juga."

"Tendernya kan masih empat bulan lagi. Masih ada waktu." Pak Atmaja menatap putranya dengan pandangan menegur. "Pekerjaan kantor memang penting, Leo. Tapi sesekali luangkan waktu untuk keluarga. Menyenangkan istri dan mengusahakan cucu untuk Papi sekaligus penerus perusahaan Atmaja tidak kalah pentingnya."

"Betul sekali itu." Bu Atmaja yang sejak tadi hanya duduk di sebelah suaminya, memandangi putra dan menantunya, ikut bersuara. "Keluarga kita sangat sepi. Kau dan papimu sibuk terus di kantor. Kehadiran bocah kecil pasti menyenangkan." Wanita paruh baya yang modis itu tertawa renyah. Rambutnya yang disemir warna cokelat tua untuk menutupi uban digelung rapi nan elegan. Penampilan Ibu mertua Farah ini begitu anggun dalam balutan gaun sutra biru laut. Tubuhnya yang tinggi semampai sedikit kontras dengan sang suami yang berpostur gemuk subur.

Leo dan Farah saling mencuri pandang dengan resah. Mereka berdua tak menyukai ide tentang cucu ini. Sungguh.

"Biar Pak Rozaq yang mencarikan tiket. Farah ingin ke mana?" Pak Atmaja tersenyum antusias, tak peduli dengan ekspresi kecut wajah anak dan menantunya.

BERSAMBUNG
.
.
Boleh di-share 😍
Tak boleh di-copas 😭

INTRIK (SUDAH TERBIT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang