12

332 42 10
                                    

Hari ini sangat cerah sekali, banyak orang berlalu lalang. Di hari yang cerah pada musim semi begini, banyak pasangan-pasangan yang bertemu untuk saling memadu kasih. Namun beda halnya dengan keadaan Taehyung saat ini. Laki-laki itu mendegus kesal di dalam mobilnya, karena ia harus terjebak di dalam mobilnya dengan pakaian yang cukup tebal dan dengan penyamaran yang cukup ketat di hari yang cerah ini.

"Kenapa susah sekali ketika hanya ingin membeli segelas kopi saja." Decak Taehyung. Ia lantas keluar dari mobilnya dan beranjak menuju kedai kopi langganannya. Taehyung bsru saja ingin membuka pintu kedai kopi, ketika seseorang tak sengaja menabraknya.

Bruk!

"Ah! Jweseonghamnida!" Ucap gadis yang baru saja menabraknya itu. Gadis itu membungkuk sebentar dan kembali berlari sebelum akhirnya Taehyung menahan lengan gadis itu.

"Yewon-ssi?" Gadis yang merasa di panggil namanya itu membeku. Ia terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa.

"Ah, benar! Kau Kim Yewon! Apa yang sedang kau lakukan disini?" Decak Taehyung senang karena berhasil mengenali gadis di depannya itu. Namun gadis di depannya itu malah semakin menundukkan kepalanya. Taehyung melihat pundak Yewon semakin bergetar. Ia lantas berjongkok untuk melihat wajah Yewon yang terus ia sembunyikan dari tadi. Namun betapa terkejutnya Taehyung ketika melihat air mata yang berlinang diwajah gadis itu.

"K-kau kenapa?" Ucap Taehyung khawatir.

"Ayo masuk ke mobilku!" Melihat Umji menangis semakin kencang, Taehyung langsung menarik Umji dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.

"Tunggu di sini sebentar, aku akan membelikanmu minum terlebih dahulu." Taehyung lantas segera masuk ke dalam cafe. Tak lama kemudian Taehyung kembali ke mobilnya sambil membawa dua buah gelas di tangannya. Ia meletakkan dua buah gelas tadi di dashboardnya terlebih dahulu dan kemudian melajukan mobilnya pergi dari depan coffe shop. Ia menghentikan mobilnya ketika mereka akhirnya sampai di pinggiran Sungai Han. Sepanjang perjalanan, Umji yang sejak tadi duduk di sebelahnya itu terlihat menangis dalam diam.

"Kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Taehyung berhati-hati. Ia kemudian menyodorkan selembar tissu pada Umji.

"Terima kasih." Ucap Umji.

"Ini, minumlah dulu." Taehyung menyerahkan sebuahbgelas berisi Cappucino yang masih hangat pada Umji.

"Bagaimana, sudah merasa lebih tenang?" Tamya Taehyung. Umji mengangguk menjawab.

"Maaf, aku tadi tidak sengaja menabrakmu. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Umji.

"Aniyo, gwenchana. Lagipula aku baik-baik saja. Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Apakah kau baik-baik saja?" Umji tersenyum getir.

"Apakah aku boleh bertanya apa yang terjadi?" Tanya Taehyung berhati-hati. Mata Umji kembali berair ketika Taehyung bertanya padanya.

****

Yoo Jung sedang menata isi koper Jungkook. Ia mengemas segala kebutuhan yang mungkin akan dibutuhkan suaminya itu untuk 3 hari kedepan. Ia benar-benar sibuk menata dan menyiapkan segala kebutuhan Jungkook, dari pakaian, obat, sampai makanan ringan harus ia yang menyiapkannya karena Jungkook tidak mau ada barang yang tertinggal.

"Cha!" Jungkook datang ke kamar mereka sambil membawa koper besar.

"Apa lagi ini? Kau mau pergi sebulan memangnya?" Tanya Yoo Jung bingung, padahal ia sudah mengambil koper dan sedang menatanya sekarang.

"Sepertinya kau akan muat dalam koper ini." Ucap Jungkook. Yoo Jung menatapnya tak percaya.

"Kau sudah gila rupanya." Decak Yoo Jung. Ia meneruskan kembali kegiatannya mengepak koper Jungkook. Namun tiba-tiba saja tubuh Yoo Jung melayang di udara, dan Jungkook menjatuhkannya ke dalam koper besar yang tadi ia bawa.

"Astaga! Apa yang kau lakukan sebenarnya?" Pekik Yoo Jung kesal. Ia segera keluar dari koper sebelum Jungkook berhasil menutupnya.

"Lihat, kau bahkan muat di dalamnya." Ucap Jungkook dengan wajah tanpa ekspresinya.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan sih?" Ucap Yoo Jung mulai jengkel karena Jungkook menganggunya sejak tadi.

"Aku sedang berpikir bagaimana caranya membawamu ikut denganku tanpa ketahuan." Yoo Jung menghela nafasnya kesal.

"Berhentilah mengangguku, atau kopermu tidak akan siap malam ini." Ancam Yoo Jung. Jungkook mendecak kesal, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

"Kenapa kau tidak bisa ikut bersamaku kali ini? Apa yang akan kulakukan selama 3 hari di Jepang nanti?" Erangnya kesal. Jungkook akan pergi ke Jepang untuk acara festival musik selama 3 hari kedepan. Dan jadilah sekarang Yoo Jung harus menyiapkan semua perlengkapan Jungkook.

"Aku ada pertemuan dengan Jung PD-nim lusa, mana bisa aku ikut bersamamu? Dan lagi kalau aku ikut bagaimana dengan semua pekerjaanku?" Ucap Yoo Jung.

"Ah! Menyebalkan!" Erang Jungkook.

"Cha! Sudah siap!" Yoo Jung selesai menata dan menutup koper Jungkook.

"Pasang gemboknya dengan password ulang tahunmu!" Perintah Jungkook.

"Memangnya kau ingat?" Tanya Yoo Jung.

"Kau pikir aku ini apa?" Yoo Jung mengendikan bahunya dan memasang password koper Jungkook dengan tanggal ulang tahunnya.

"Cepat kemari kalau sudah!" Ucap Jungkook sambil menepuk-nepuk bantal di sebelahnya.

"Iya, kau itu cerewet sekali sih dari tadi!" Decak Yoo Jung kesal. Setelah menepikan koper Jungkook, Yoo Jung langsung menjatuhkan tubuhnya di sebelah Jungkook, suaminya itu langsung menariknya dalam dekapannya.

"Bagaimana kalau aku tidak bisa tidur selama di Jepang?" Keluh Jungkook.

"Astaga, kita kan masih bisa video call. Dan lagi, kau ini seperti baru pertama kali perjalanan jauh saja. Kenapa kau selalu saja merengek setiap kali ada tur?" Kesal Yoo Jung. Jungkook membenamkan dirinya di ceruk leher Yoo Jung dan memeluknya erat-erat.

"Karena kau tidak akan ikut bersamaku." Kesal Jungkook. Yoo Jung heran bagaimana pria di depannya itu bisa menyembunyikan sikap manjanya ini dan bersikap seperti orang yang pendiam dan dingin ketika di luar sana. Nyatanya Jungkook hanyalah bayi perengek yang suka sekali menyusahkan Yoo Jung.

"Tentu saja, bagaimana bisa aku ikut denganmu. Status kita kan di rahasiakan, kau mau aku dimakan hidup-hidup di luar sana?"

"Sudah, berhentilah merengek dan cepat tidur! Oke!" Kesal Yoo Jung.

"Kau tidak akan menyusulku?" Tanya Jungkook.

"Tidak." Jawab Yoo Jung tegas.

"Kenapa? Kemarin saat ke Busan saja kau menyusulku." Rengek Jungkook lagi. Astaga, Yoo Jung bisa gila lama-lama jika seperti ini terus.

"Jungkook sayang, Busan dan Jepang itu berbeda. Dan lagi pula kau hanya ke Jepang selama 3 hari, buang-buang uang jika aku kesana hanya untuk melihatmu saja."

"Kan aku yang bayar."

"Tetap tidak."

"Ah, Wae? Kau-"

"Kau mau tidur sekarang atau aku pindah tidur ke kamar sebelah?" Ancam Yoo Jung. Ia sudah mengantuk sejak tadi, tapi Jungkook masih saja merengek padanya.

"Aish! Iya iya, aku tidur sekarang!" Decak Jungkook kesal, ia semakin merapatkan pelukannya pada Yoo Jung.

Cup!

Ia mengecup bibir Yoo Jung sebelum akhirnya menutup matanya.

"Selamat tidur!" Ucap Yoo Jung.

"Hmm." Gumam Jungkook, Yoo Jung terkekeh mendapati respon Jungkook yang tampak marah padanya.

"Jangan pindah ke kamar sebelah!"

Tbc....

Perhaps Love (Sedang Direvisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang