Si Burung Hantu

286 43 24
                                    

"Ini, minum dulu. Siapa tahu bisa membantumu tidur." Ucap Jimin menyerahkan susu hangat pada pria berwajah dingin di hadapannya. Pria itu menatap Jimin.

"Kau pikir aku anak kecil?"

"Coba saja minum, menurut artikel yang aku baca di internet, susu hangat bisa membantu cepat tidur." Ucap Jimin.

"Tidak mau. Kau saja yang minum." Ucap Jungkook.

Jeon Jungkook. Penyanyi, Musisi, Produser, Penulis, Pengarang lagu, Model, dan masih banyak sekali profesi yang di jalaninya. Sebut saja ia seorang Selebritas yang sangat multitalenta. Namanya terpampang di setiap album artis-artis besar. Fotonya juga sering dipajang di sampul-sampul majalah, namanya bisa di sandingkan dengan boyband-boyband papan atas. Di umurnya yang baru 26 tahun, ratusan karya yang sudah ia terbitkan menjadi perbincangan semua orang. Ia mendapatkan julukan si Jenius yang berwajah Dingin berkat kemapuan dan sifatnya.

"Lalu katakan padaku apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu tidur? Aku benar-benar ingin membantumu." Ucap Jimin putus asa.

Park Jimjn. Manager pribadi Jungkook. Ia sudah bekerja dengan Jungkook sejak 2 tahun yang lalu. Dan sejak saat itu lah dia mengetahui rahasia besar di musisi jenius yang tidak diketahui orang lain selain agensinya. Sang musisi tampan ini tidak pernah tidur. Bukan hanya sekedar penyakit susah tidur ataupun insomnia, tapi ini tidak bisa tidur. Sejak Jungkook berumur 10 tahun, ia tak pernah bisa lagi tidur dengan tenang. Jika di hitung mungkin sudah 15 tahun ia tak pernah tidur lebih dari 2 jam sehari. Yang Jimin bingung bagaimana bisa lelaki itu bertahan selama itu tanpa tidur selama bertahun-tahun. Untungnya laki-laki di depannya itu masih sehat sampai sekarang, ia rajin olahraga supaya tubuhnya tidak mudah sakit. Namun melihatnya wajah Jungkook, Jimin benar-benar merasa lelaki itu sebenarnya menderita karena penyakitnya. Ia mencoba berbagai macam cara, berbagai macam minuman, dan berbagai macam metode untuk membantu Jungkook tidur, tapi tidak berhasil. Paling lama pria itu tertidur hanya selama dua jam. Jungkook lebih memilih untuk terjaga dari pada harus terlelap lagi.

"Tidak usah. Terima kasih. Aku baik-baik saja. Terima kasih untuk niat baikmu." Ucap Jungkook tulus.

"Apa jadwalku setelah ini?" Tanya Jungkook.

"Tidak ada, aku sudah mengatur janji temu dengan psikiater nanti. Aku akan tetap berusaha membuatmu bisa tidur." Ucap Jimin tidak menyerah. Jungkook menghela nafasnya, manager yang sudah ia anggap seperti kawan dan kakaknya itu benar-benar mengkhawatirkannya.

"Baiklah, baiklah. Terserah kau saja."

"Aku mau beli makan malam. Kau mau aku belikan apa?" Tanya Jimin.

"Apa saja, terserah kau saja."

"Baiklah. Habiskan susunya selagi aku pergi, oke. Awas saja kalo aku kembali dan susu itu belum habis." Ancam Jimin.

"Selagi aku pergi, jika kau merasa ngantuk, coba pejamkan saja matamu, oke." Tambahnya.

"Iya-iya. Sudah sana pergi."

"Aku akan segera kembali. Dah." Jimin langsung berlalu dari ruang tunggu Jungkook. Setelah Jimin pergi, Jungkook merebahkan dirinya di sofa, ia menyenderkan tubuhnya dan mencoba untuk memejamkan matanya sejenak. Tapi ia langsung membuka matanya lagi, Jungkook mengusap wajahnya dan menundukkan kepalanya.

"Siapa kau? Dan sejak kapan kau disini?" Tiba-tiba saja pintu ruang tunggunya di buka oleh seorang gadis dengan penampilan kucel. Jungkook menatap gadis itu.

"Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau mau marah padaku juga?" Tanya gadis itu kesal.

"Kenapa sih semua orang memarahiku? Aku hanya merasa selalu mengantuk dan butuh tidur. Aku hanya butuh tidur, hanya itu saja. Apakah itu salah, apakah itu dosa?" Gadis itu mengomel entah pada siapa. Jungkook hanya diam menatap gadis itu yang masih saja mengomel.

"Memangnya kalian pikir aku mau seperti ini? Kalian pikir aku tidak lelah? Aku sendiri ingin bisa terjaga seharian, melakukan hal-hal yang biasa dilakukan orang lain." Gadis itu beberapa kali terantuk daun pintu, matanya terlihat hampir terpejam tetapi mulutnya tidak berhenti mengoceh. Ia terlihat sangat mengantuk sepertinya. Jungkook tetap diam sambil memandang gadis itu.

"Aku hanya ingin hidup normal seperti yang lain juga." Lirih gadis itu.

"Tidurlah, aku tidak akan melarangmu tidur." Ucap Jungkook akhirnya bersuara. Gadis itu sedikit terkejut mendengar suara Jungkook, tapi gadis itu akhirnya tetap melangkahkan kakinya menuju sofa tempat Jungkook duduk, namun mungkin karena sudah kelewat mengantuk, tanpa sengaja ia tersandung oleh kakinya sendiri. Dan....

Brak!

❣️❣️❣️

Cekrek!

Cekrek!

Cekrek!

Jungkook membuka matanya perlahan, yang pertama kali matanya tangkap adalah wajah Jimin yang tersenyum senang menatapnya. Ia menoleh ke sekelilingnya dan mendapati bahwa ia berada di kamar apartemennya.

"Hai!" Sapa Jimin.

"Say Cheese!" Jimin lantas memfoto Jungkook yang masih berusaha menyesuaikan penglihatannya.

"Coba lihat, ini wajahmu ketika bangun tidur. Benar-benar terlihat segar bukan?" Jimin menunjukkan foto yang baru saja ia ambil tadi.

"Tunggu! Apa? Bangun tidur? Sudah berapa lama aku tidur?" Tanya Jungkook. Ia menatap keluar jendela dan melihat matahari sudah bersinar cerah di luar.

"Iya. Kau tahu aku sangat senang sekali. Ku pikir tadi malam kau hanya tertidur sebentar di mobil. Tapi sampai kita sampai di apartemenmu pun, kau masih saja tertidur pulas. Jadi aku langsung membawamu naik ke apartemenmu." Ucap Jimin. Jungkook mencoba mencermati dan mencerna perkataan Jimin baik-baik.

"Aku mencoba menunggu sebentar, takut jika kau tiba-tiba terbangun. Namun setelah hampir 2 jam lebih aku menunggu kau malah tidak terbangun sama sekali. Jadi tadi malam aku memutuskan untuk tidur di kamar tamu. Namun tadi pagi saat aku mengecekmu, kau masih tertidur dengan pulas dan bahkan belum mengganti pakaianmu sejak kemarin. Dan voila, lihatlah, kau akhirnya baru bangun sekarang." Ucap Jimin menceritakan dengan penuh semangat.

"Coba katakan padaku, kemarin apa yang kau lakukan sebelum akhirnya tiba-tiba kau memaksa untuk pulang cepat? Kau bahkan membereskan sendiri barang-barang mu dan tidak membiarkan aku mengecek ruang tunggu." Tanya Jimin penasaran.

"Ah, kemarin. Tidak ada." Ucap Jungkook.

"Apa mungkin karena kemarin kau meminum susu yang aku bawakan? Ah tapi tidak mungkin, kemarin kau bahkan hanya meminum setengahnya. Apa mungkin karena kemarin kau kelelahan? Tapi biasanya juga jadwalmu lebih padat dari kemarin. Jadwalmu kemarin bahkan hanya setengah dari biasanya. Lalu apa yang membuatmu bisa tidur pulas hingga seperti ini? Kau tidak terbayang apapun tentang kemarin? Mungkin apa yang kau makan atau yang kau minum begitu?" Tanya Jimin. Ia sejak tadi berbicara sendiri dengan antusias karena akhirnya ia bisa melihat Jungkook tertidur dengan pulas.

"Tidak tahu," Ucap Jungkook asal. Karena Jimin mengungkit kejadian semalam, ia akhirnya mengingat apa yang terjadi saat di ruang tunggu tadi malam. Tapi ia tak bisa menceritakannya pada Jimin yang terlihat bersemangat sekali setelah melihatnya bisa tertidur dengan pulas.

"Ah yang benar? Aneh sekali? Kau tidak ingat apa yang kau makan atau minum sebelum kau tertidur? Atau apa yang kau lakukan sebelum kau tertidur?" Tanya Jimin lagi.

"Tidak tahu, aku tidak ingat. Sudah aku mau mandi!" Jungkook langsung melarikan diri ke kamar mandi sebelum Jimin bertanya lagi.

"Hei, tunggu dulu! Aku belum selesai menginterogasimu!" Pekik Jimin.

TBC...,

Perhaps Love (Sedang Direvisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang