16

177 10 0
                                    

Dua tahun selepas kepergian Taehyung, Jungkook semakin terpuruk. Selalu memporsir tubuhnya, menyibukan diri dengan segala pekerjaannya sampai lupa waktu. Hingga kini yang terlihat hanya mata panda diwajahnya dan tulang selangka yang semakin menonjol. Enam bulan semenjak kepergian Taehyung juga Jungkook memaksa Jimin untuk pindah dari apartementnya dengan alasan agar bisa melupakan semua kenangannya bersama masa lalunya. Jimin tidak bisa berbuat banyak. Dia hancur melihat Jungkooknya semakin terpuruk. Jimin hanya bisa mengikuti kemauannya, karena percuma dengan kata pemaksaanpun Jungkook tetap kokoh pada pendiriannya.

Seperti sekarang, setiap akhir pekan Jungkook selalu berakhir dipinggiran sungai Han dengan terdiam. Tak ada sepatah katapun yang keluar kecuali jika Jimin bertanya.

"Kookie, mari kita pulang. Hari sudah gelap. Cuacanya tidak bagus untuk kesehatanmu." Jungkook hanya menuruti perintah Jimin.

Setelah malam tiba, Jimin selalu mengecek keberadaan namja manis itu dikamarnya takut takut Jungkook menyakiti dirinya sendiri.

Ceklek.....

Diliatnya namja manis itu sudah bergelung dalam selimutnya dengan kening berkerut menandakan banyaknya masalah yang ia alami. Jungkook tidur dengan peluh yang menetes di dahinya.

"Apa dia bermimpi buruk lagi?" Gumam Jimin

Semenjak kepergian Taehyung pun Jungkook sering terjaga di sepertiga malam meneriakan nama Taehyung, dan berakhir pemuda park yang selalu menenangkan dengan menemaninya tidur.

Jimin menghampiri Jungkook guna membenarkan selimutnya. Sebelum mematikan lampu tidur Jimin selalu mengelus dahi namja manis tersebut lalu mengecupnya.

"Kookie, aku tahu semua ini berat untukmu. Tapi kumohon jangan seperti ini, kesehatanmu lebih penting. Tae sudah bahagia disana jika kau seperti ini terus dia pun akan sedih melihatmu seperti ini. Kookie seandainya kau mau mencoba membuka hatimu untukku sedikit saja, akan selalu kujaga amanat dari Tae untuk selalu menjagamu hingga akhir hayatku. Semoga kau mengerti Kookie. Selamat malam, sayang."

Setelah itu Jimin mencium dahi namja manis tersebut dan setelahnya mematikan lampu. Saat berbalik badan, lengannya ditarik-----











Sreeeeet.....









Greb!









Jimin jatuh diatas badan Jungkook.




"Jangan pergi Hyung, jangan tinggalkan Kookie, kumohon sebentar saja seperti ini." Jungkook bergumam dengan mata tertutup.

Jimin sontak melongo dengan kejadian ini. Telak Jimin jatuh lagi kepada Jungkook. Jimin pun membalas pelukan Jungkook bahkan menciumi seluruh bagian wajah namja manis tersebut.

"Kookie, tenang sayang Hyung selalu disini. Ini semua sudah tugas Hyung untuk menjagamu sayang."

Jungkook membuka matanya menatap Jimin sayup. Dengan lembut Jimin meraup bibir semerah chery itu. Dilumatnya halus tanpa nafsu.

Sangat manis.

"Kookie, mau kah engkau membuka hatimu untuk hyung? Memulai semuanya dari awal, dan menjalankan semua amanat dari Taehyungmu? Hyung mencintaimu, dan ingin selalu menjagamu sayang."

Jungkook menjawab hanya dengan tiga kali anggukan. Selanjutnya Jimin tersenyum dan langsung meraup bibir itu melumat halus.

Mesra

Basah

Hingga hanya bunyi kecipak yang  terdengar dan semakin lama menuntut meminta lebih. Dengan pukulan pelan dari Jungkook pada lengannya, Jimin paham harus segera melepaskannya.

Jatuh Hati Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang