Aku tak bisa tidur dengan nyaman. Rasanya seperti ada ribuan jarum yang menghantamku berulang di sekujur tubuh. Dengan tubuh yang bermandikan keringat, aku mencoba bangkit dan duduk bersandar. Pandanganku menerawang, mengingat kembali apa saja yang sudah terjadi hari ini.
Aku masih berada di Rumahsakit dengan selang infus yang menempel di punggung tanganku. Tidak ada siapapun di ruangan VIP ini selain aku dan Mbok Asih. Ardan pergi bersama Celine. Tepatnya pukul sepuluh pagi tadi Celine memaksa Ardan untuk ikut bersamanya. Pria itu tentu saja menurut. Dan sayangnya aku tidak bisa melakukan apa-apa.
Suara knop pintu terbuka menampilkan sosok cantik berbalut dres ketat biru senada dengan sepatu high heelsnya. Pakaian yang sangat tidak cocok dipakai di malam hari. Terutama di rumah sakit yang suhu udaranya malah lebih dingin.
Celine.
Dia sendirian. Maksudku, aku menunggu siapa yang datang bersamanya. Namun ternyata tidak ada Ardan atau siapapun yang mengikutinya, hanya Celine.
"H-hai," sapaku singkat.
"Hm, apa aku.. boleh masuk?"
Aku mengangguk. Celine menghampiri kursi kecil dekat Mbok Asih yang sedang tertidur pulas di sofa, lalu memindahkan kursi itu ke dekatku.
"Kamu nggak bareng Ar--"
"Ardan, dia lagi beres-beres di Apartemennya. Aku kesini cuma mau ngasih tau kamu. Karena mungkin Ardan nggak ada waktu lagi untuk bilang kalo besok kami akan pergi ke rumah orangtua Ardan di Singapura, mungkin selama seminggu, atau bahkan bisa sampe sebulan di sana," jelas Celine. "Kamu tau, kan? Masalah pertunangan aku dan Ardan."
Tenggorokanku tercekat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Celine. Dia dan Ardan akan bertunangan? Kenapa Celine yang memberitahu hal sepenting ini padaku, dan bukannya Ardan.
Perlahan aku mengerti keadaannya. Wajar saja jika akhirnya Ardan akan meninggalkanku setelah mengetahui penyakit yang sebenarnya kualami. Bodoh sekali karena sudah menganggap dia benar-benar peduli. Sahabat macam apa dia itu?
"Oh, selamat." Ucapku tak bersemangat.
"Baiklah, aku cuma mau bilang itu. Selebihnya, cepat sembuh, ya. Agar aku bisa mengundangmu ke acara pernikahan kami nanti."
Bodoh! Bodoh sekali! Malam ini, hubungan persahabatan antara aku dan Ardan lenyap sudah.
***
Pagi-pagi sekali aku bangun lalu membersihkan diri. Kugosok perlahan sebagian lenganku karena selang infus yang sedikit mengganggu. Kulihat Mbok Asih sudah membereskan tempat tidur yang sebelumnya berantakan akibat frustasiku semalaman.
Dinginnya air membasahi wajahku yang sedikit kaku. Mataku sudah tidak terlalu bengkak. Tapi rasanya kata-kata Celine masih berputar di kepalaku sampai membuatku mual. Seminggu lagi adalah waktu kemoterapi pertamaku. Aku sudah tidak peduli apakah Ardan akan bersamaku atau tidak. Aku hanya mati rasa.
Bosan dengan segala pemandangan isi rumahsakit yang mengerikan. Kuputuskan untuk berjalan-jalan tanpa selang infus melekat di punggung tanganku. Tidak ada Ardan, tidak ada Mbok Asih, tidak ada siapapun. Hanya aku. Berada di tengah-tengah rooftop rumahsakit yang tingginya tak bisa kukira.
Aku seperti terbang. Seakan tanganku mampu mencapai awan-awan di atasku. Gedung-gedung yang tak kalah tingginya membuatku kagum dan berpikir. Jika aku berada di rooftop gedung itu, apa rasanya juga akan seperti ini?
Tubuhku otomatis bergerak. Mengikuti irama hati yang tidak bisa di dengar oleh siapapun kecuali aku sendiri. Kakiku berjinjit dengan kedua lengan yang kurentangkan bak berdansa dengan angin.
Jika melakukan tarian konyol seperti ini di keramaian, mungkin aku sudah dianggap orang gila oleh semua orang. Tapi di sini aku merasa bebas. Bebas untuk membuang setidaknya sebagian dari beban fikiranku, sejenak melupakan apa yang kualami dan yang sudah terjadi padaku.
Andai mama dan papa di sini, melihatku berputar lalu merentangkan tangan, melihatku melakukan tarian seperti orang gila, melihatku tertawa lalu sesekali aku mengaduh karena perutku sakit. Andai mereka ada di sini, melihatku yang sedang membuktikan bahwa selama ini aku bahagia tanpa mereka.
Mataku kembali terasa panas. Aku terduduk sambil memeluk lutut, mengeluarkan semua airmata sisa semalaman menangisi kepayahan. Namun sialnya tak ada air mata yang keluar. Seolah mengerti apa yang kurasakan, awan kelabu perlahan berdatangan. Tidak ada hujan, hanya awan kelabu
Kuputuskan untuk duduk di pinggiran rooftop, tak banyak yang aku lakukan selain menggerak-gerakkan kakiku yang menggantung jauh dengan daratan sambil berpikir, jika aku melompat dari atas sini, apa yang akan terjadi?
Ada suatu saat dimana ketika aku melihat sekeliling dan mataku tertuju pada banyak hal tapi pikiranku melayang tanpa arah. Aku bahkan tak mengerti apa yang kupikirkan sekarang selain terus menyuruhku untuk melompat dari sini.
Kilat dan petir serta gemuruh kencang berulang kali bermunculan di langit. Sekuat mungkin aku menahan rasa takut itu, rasa sakitku sudah melebihi apa yang aku takutkan. Tapi tetap saja, siapa yang peduli padaku? Orang tuaku memang hebat karena sudah melahirkan anak tidak berguna sepertiku.
Keinginan untuk berteriak ternyata sudah mengumpul di tenggorokanku. Masa bodo untuk semua orang yang menganggapku gila, aku sudah gila sejak dibuang orangtuaku.
"Mau lompat ya lompat aja, gak usah teriak-teriak,"
Aku langsung refleks memegang pengait di sebelahku karena terkejut dan hampir saja membuat tubuhku terbang bebas. Itu memang sesuai niatku, namun entah bagaimana tiba-tiba aku takut jika harus mati.
Pria yang mengenakan pakaian yang sama denganku itu langsung duduk di sampingku tanpa takut akan terjatuh. "Kenalin, Arkan Axelle. lo?"
Aku memalingkan wajahku, lebih menarik memperhatikan lalu lintas yang terlihat mengecil daripada mempedulikan orang ini.
Pria itu berdecak lalu mengomeli dirinya sendiri yang tak berhasil dengan usahanya, mungkin merasa kesal karena kuabaikan. Dalam hati aku tertawa, persis seperti Ardan saat marah.
"Lo punya penyakit apa?" tanya pria itu meski sebelumnya terdengar ragu. Dengan cepat aku menoleh kearahnya dengan tatapan tajam. "Ups, gue salah ngomong, ya. Kalo gitu lo udah berapa hari dirawat di sini? Lo-- DARAH!"
Suara yang terakhir kudengar adalah saat Arkan berteriak sebelum kegelapan memenuhi seluruh penglihatanku.
***
POV 3
Dini hari Khalisa terbangun dari pingsannya. Perlahan ia mendudukkan tubuhnya seraya mengucek pelan mata yang masih remang akan pencahayaan. Gadis itu menyadari dirinya sudah berada di ruangan VIP dengan selang infus yang terpasang di punggung tangan.
Diliriknya Mbok Asih yang terlelap bersama mimpinya. Entah sudah berapa lama dirinya pingsan. Tatapannya lalu beralih menuju sesuatu di atas meja kecil dekat tempat tidurnya. Hatinya langsung mencelos melihat beberapa tangkai Dandelion yang tersimpan rapi di vas transparan. Siapa yang mengirim bunga ini?
Pikirannya langsung tertuju pada satu nama. Arkan?
~ 🎬 ~
Akhir Desember, 2011.
Surat untuk Dandelion.
Hai Dandelion. Aku minta maaf ya, karena seharian ini kita nggak bisa main. Soalnya aku disuruh mama beres-beres untuk pindah rumah ke jakarta. Aku sedih kita nggak bisa main lagi. Tapi aku harap kita bisa bertemu lagi nanti. Bye, Dandelion!
Primrose.
[TO BE CONTINUE]
👑👑
Assalamualaikum:)
Maaf ini update emang nyelow gini yak! #otaknyangebul
Semoga masih suka baca-baca di lapak ini:)
Kalo ceritanya menarik, add ke library kalian ya:)
⚠️Jangan lupa Voment⚠️
Follow IG:
@salsabilaaryn_
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Behind You
RomantizmBagaimana perasaanmu ketika kamu mengetahui tentang batas waktu hidupmu? Apa yang akan kamu lakukan jika tau bahwa kamu sudah kehabisan waktu untuk mewujudkan impianmu? Bagi sebagian orang, bunuh diri mungkin solusi tercepat untuk menghilang dari ma...
