Happy Reading!
****
"Kalian ngapain?"
Aku mendorong tubuh Mas Bian membuat ia terhuyung dan menyenggol vas bunga hingga jatuh, pecah dan berserakan kemana-mana, kami bertiga diam mematung cukup lama.
Mas Bagas yang masih syok melihat kejadian ambigu tadi, Mas Bian juga terkejut aku mendorongnya, dan aku yang menunduk saking bingungnya harus bagaimana.
Aku sangat tak suka berada dalam situasi begini. Rasanya seperti ingin menghilang dari bumi saja!
"Ahh ... eummh Mas---"
Saking bingungnya harus bagaimana aku langsung berjongkok didekat kaki mas Bian berniat memungut salah satu pecahan vas bunga.
"Jangan!"
Tanganku dicekal Mas Bian, kentara sekali dari wajahnya sepertinya ia marah, hadeuuh tak henti-henti didalam hati aku bilang mampus!
Lalu menoleh ke arah Mas Bagas dia terkejut, namun sedetik kemudian wajahnya berubah lega. "Jangan dipungut begitu," lanjutnya.
Aku menggeleng lalu meringis pelan, sekilas aku melihat kaki mas Bian terkena serpihan vas bunga. "Darah," panikku.
Haduuh gawat, gawat!
Mas Bian menghempaskan tanganku begitu saja, berdecak dan pergi tanpa sepatah katapun. Berbeda dengan Mas Bagas. "Eh lo gak papa? Ini darah? Lo berdarah?" Malah dia yang panik, membolak-balik kedua tanganku.
Aku menggeleng. "Mas Bian dia yang kenapa-napa," jawabku penuh rasa sesal. Tentu aku menyesal mau bagaimanapun ini salahku.
"Ouh yang tadi itu Mas salah pa---"
"Udahlah gak usah dibahas." Ia berdiri membuka laci disamping tempat tidurnya. "Ini P3K obatin kakak gue, biar ini gue yang beresin," ucapnya menyerahkan P3K ketanganku.
Jadi tak enak. "Biar aku aja---"
"Luka kalau gak cepet diobatin nanti infeksi, lo mau tanggung jawab?" Aku menggeleng, lalu pergi ke kamar Mas Bian yang dibiarkan terbuka. Aku lihat ia hanya mengelap kakinya yang berdarah dengan tisu, mana bisa begitu.
Aku mengetuk pintu. Ia menoleh, lalu membuang muka ke arah lain. "Biar aku obatin Mas," pintaku lalu duduk didekat kakinya, dan dia duduk diatas ranjang.
Aku kira ia bakal nolak terus ngusir, ternyata enggak. Enggak salah lagi. "Ck! ceroboh banget," kesalnya. "Saya bisa sendiri, keluar!"
Bukanya langsung pergi aku malah menahan P3K yang hendak Mas Bian ambil dari tanganku. "Eumhh ... Anu Mas itu---"
"Lama, mau apa kamu?" Potongnya, sabar dulu kenapa, aku kan sedang mengumpulkan keberanian. "Ck! Kalau gak jadi lebih baik kamu pergi aja, saya malas bicara sama kamu."
Tuh kan, tuh kan. Marah terus.
"Anu---"
"Anu apa?"
"A-- Anu Mas---"
"Anu- anu, anu kamu kenapa memangnya?"
Eh? Anu ku gak papa tuh. "Bukan itu." Aku memainkan ujung rok yang aku kenakan. "Maaf soal tad---"
Lagi-lagi Mas Bian memotong ucapanku. Sabar, gak papa aku ikhlas kok serius. "Ouh ... sekarang baru sadar kalau kamu salah, dari tadi kemana aja? Pakai bilang saya batal nikah segala!"
Beliau ini sangat nyerocos.
"Eumhh itu ...."
Ini aku bego apa gimana susah banget bilang apa yang ada dipikiran, yang terjadi malah eumhh ... eumhh tidak jelas membuat Mas Bian makin kesal saja. Mana dia melotot, dengan halis yang menukik tajam.
"Kamu mau tes kesabaran, atau mau bicara?"
Gak dua-duanya. Dari pada aku dimarahi terus, lebih baik aku mengobati lukanya lalu pergi. "Biar aku obatin luka Mas Bian, abis itu aku pergi," tak ada jawaban Mas Bian diam saja.
Boleh nih aku sentuh? Nanti ngamuk-ngamuk!
"Udah berani yang sekarang?" Nah loh, aku mendongkak, wajahnya sangat tak bersahabat sekali. "Inget posisi kamu itu apa di sini, jangan keluar batas. Saya gak suka yah, saat saya sendiri bahkan seisi rumah ini gak ganggu privasi Bagas, kamu malah main nyelonong. Dengerin saya ngomong!"
Buset galak amat. Rasanya seperti dimarahi oleh Bapak, Bapak yang jarang bicara tapi sekalinya bicara membuat ulu hati sakit. Bedanya Mas Bian mengomel terus, mana sakitnya nyampe ulu hati, nembus ginjal, mentok di usus dua belas jari.
Aku menunduk, lalu membersihkan lukanya dengan antiseptik. Aku emang salah,mau bagaimanapun juga. "Lain kali kalau kamu begitu lagi, mungkin saya ambil tindakan. "Mana kamu sentuh-sentuh saya begini!"
Baru sadar kah, kan tadi udah ijin budeg apa gimana? Oke sabar, sabar. Mungkin kuping Mas Bian banyak kotoranya jadi tersumbat.
"Lupa?" Tanyanya.
Peraturan gaje itu. Mungkin jika ditanya cita-citaku yang paling ingin cepat tercapai sekarang, mungkin membuang peraturan gaje yang dibuat Mas Bian.
"Maafin aku Mas, gara-gara aku Mas Bian jadi begini. Tapi suuer deh aku beneran gak lihat apapun tadi," jelasku tanpa menatap wajahnya, takut tiba-tiba Mas Bian melirik. Seram.
Sepertinya batal nikah membuat emosinya semakin meletup-letup, padahal kemarin ia gak se-sensi ini. Bisa jadi, bisa jadi.
"Ck! Kan saya udah bilang tadi, saya gak suka kamu ganggu privasi, bisa-bisanya kamu alihin---"
Karena terlanjur kesal aku sedikit menekan lukanya dengan kapas yang sudah diberi antiseptik.
"Sebenernya kamu tuh niat ngobatin apa nambah rasa sakit sih?!"
"Dua-duanya," gumamku pelan.
"Apa?" Tanyanya. "Apa? Kamu, tadi bilang apa?"
Hehehe, masalah tadi saja belum tuntas aku dengan tak tau diri nyari masalah lain lagi. Kamu memang hebat Quin, hebat cari gara-gara.
"Ck! Lama-lama saya darah tinggi deket-deket kamu."
Kalau dia darah tinggi bisa jadi aku stroke.
***
Aku tengah menyiapkan sarapan dimeja makan, namun semua anggota keluarga baik Mas Bian pun sudah duduk diatas kursi, nuansa sarapan yang sangat tegang. Aku sibuk menata piring mereka, dan hanya bisa pura-pura tak terlihat saja.
Sampai tiba-tiba Mamah Mas Bian--Nyonya Renata membuka suara. "Bian," panggilan itu membuat satu meja menoleh padanya, termasuk aku. "Mamah kecewa, Mamah harap dalam satu minggu itu kamu gak ingkar janji."
Decakan terdengar cukup keras dari pemilik kursi utama meja makan. Pak Bisma, "jangan dibahas sekarang, fokus makan saja. Ayo semuanya makan."
Saat aku hendak menuangkan air, aku tak sengaja menyenggol gelas itu hingga jatuh tepat pada baju milik Pak Bisma, astaga sudah berapa kali kejadian hari ini terulang? Apa tidak bosen?
"Maaf pak, aduh saya gak sengaja," panikku sampai tak sengaja menyikut Mas Bian yang sepertinya berniat membantu. Ya gusti, kenapa aku selalu ditempatkan di posisi sulit begini, eh mana aku ngeluh terus, maaf.
"Kamu kenapa gak hati-hati!" Nyonya Renata Marah disusul tatapan sinis anak bungsunya, Bella.
Namun saat aku sedang panik-paniknya Mas Bian mencekal tanganku, mengkode agar aku berhenti seperti cacing kepanasan.
"Nama kamu siapa?"
Eh, ini Pak Bisma bukannya marah malah tanya Nama. "Quin Pak. Maaf," ucapku. "Sekali lagi saya minta maaf," lalu menunduk dan melirik Mas Bian sekilas, eh sempat-sempatnya.
Tapi diluar dugaan Pak Bisma malah menepuk pundakku. "Nama yang bagus," ia menatapku, aku balas menatapnya walau sesaat. "Cantik juga cocok di jadikan istri."
Anjir! Tua bangka ini mau jadiin aku istri? Yang benar saja, udah bau tanah juga. Ya kali aku mau sama aki-aki.
"PAPAH!"
Tbc.
Revisi 10 September 2022.
KAMU SEDANG MEMBACA
MWMB (MARRIED SERIES)
HumorDia dengan segala peraturannya. Peraturan pertama: Jangan sentuh Mas Bian baik sengaja maupun tak di sengaja menyentuhnya. Peraturan kedua: Jangan potong ucapan Mas Bian. Baik refleks ataupun bukan, gaji potong lima persen. Peraturan ketiga: Mas B...
