17. Aku kesel

8.9K 777 8
                                        

Pagiku cerah matahari bersinar

Ku gendong tas merahku dipundak

Selamat pagi semuaa....

"Harus banget lagunya begitu?" tanyaku ketus. "Kaya anak paud!"

Mas Bian tersenyum mengejek lalu mematikan musik. Di perjalanan menuju kampus lagi-lagi aku teringat kejadian pagi tadi, malu banget!

"Saya kan emang lagi nganter anak paud sekolah," ucapan mas Bian tentu saja membuat mataku memicing kesal, mana dia malah tertawa. "Soal tadi pagi say—"

"Gak usah dibahas."

Kejadian tadi pagi benar-benar membuatku malu, sampai berangkat ke kampus saja aku hampir naik  gojek jika saja mas Bian tidak melarang.

Lagian bloon banget, astaga!

Pagi tadi seperti biasa aku mandi, tapi tidak menggunakan kamar mandi dikamar karna ada mas Bian, jadi kamar mandi belakang solusinya.

Saat hendak masuk kamar lagi, aku kira mas Bian gak ada didalam kamar mandi, gak ada suara apa-apa dari kamar mandi dan sudah balik kekamar satunya—baju dia kan disana semua.

Dan kamar mandi cuma ada dua, dikamar yang aku tempati dan dibelakang. Dan dengan pedenya aku membuka handuk lebar-lebar, berniat membenarkan lilitannya yang kurang nyaman.

Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka, dengan keadaan tanganku yang membuka handuk lebar-lebar.

Demi sempak firaun!

tete sama anu aku keliatan astaga!

"MAS!"

Refleks aku memegang handukku.

Mas Bian bahkan sampai membatu cukup lama, aku rasa dia sama terkejutnya. Tapi yang paling dirugikan aku.

"MAS BIANNNN!"

Sejak pagi tadi sudah aku bulatkan untuk tidak mengajak masi Bian berbicara, tapi ternyata susah ada saja hal yang harus dikomentari.

"Saya bakal riset kejadian tadi pagi, bisa gak kamu jangan jutek-jutek gitu, sepet mata saya liatnya gak ada adem-ademnya."

Aku menghela napas kasar, menyilangkan tangan didepan dada bersandar pada jendela mobil. Pokonya aku gak mau bicara sama mas Bian!

Sampai tiba didepan kampus, aku hanya menyalami tangannya lalu buru-buru melarikan diri, pliss ... aku malu malas lama-lama bersama mas Bian.

"Quin!"

Panggilan itu membuatku menolah ke belakang ada Rania—kami tak sengaja berkenalan, Rania ini orangnya ramah dan asli yogyakarta.

"Nia, naik apa kamu?"

Rania mengangkat tangannya seolah tengah menarik gas motor. "Biasa naik si beti, eh itu yang nganterin kamu siapa?"

Ouh itu.

"Su—"

"Gak usah bilang saya suami kamu, bilang aja saya mas kamu okey?"

Aku mengerutkan dahi. "Kenapa?"

"Nurut aja."

Tiba-tiba saja ucapan mas Bian saat itu terlintas diingatanku, membuat aku mengurungkan untuk menyebut mas Bian itu suamiku.

"Su apa, In?"

"Bukan su," elakku. "Mas aku itu," ucapku lalu tertawa jaim.

Rania hanya percaya saja. "Gak kerasa kita hari terakhir kita make baju putih item, muak tau aku," ucap Rania, dia tampak manis dengan rambut panjang sedikit ikalnya. "Kaya taik cicak."

MWMB (MARRIED SERIES)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang