****
"Saya serius, kamu bilang mau tau kan pendirian saya? Saya mau berjuang untuk hal yang menurut saya layak, dan itu kamu."
"Arghhh!" Semalaman aku gak bisa tidur gara-gara Mas Bian. Bahkan saat mengemasi pakaian pun aku masih terngiang-ngiang ucapannya tadi malam.
Bahkan Mbak Emi yang membantuku berkemas terkejut saat aku tiba-tiba teriak, air matanya yang tak henti turun terjeda karena terkejut.
"In, pasti kamu sedih yah mau pulang, kamu sih nakal kan jadi dipulangin, sroot..." Dan dia buang ingus disalah satu bajuku, sabar. "Mas Bian bilang apa aja semalam? Pasti bikin kamu sakit hati yah, jangan diinget-inget, In!"
Tapi kalo diingat-ingat responku semalam juga gak salah kan yah?
"Mas salah minum obat? Habis kepentok tembok, apa? Arghh gak mungkin. Mas mabuk?"
Mas Bian tersenyum. "Enggak. Coba kamu pikirin lagi baik-baik yah!" Setelah itu dia pergi dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa.
"Arghhh!"
"Ada apa sih kamu jerit-jerit mulu? Kaget tau!" Protes Mbak Emi dengan kedua tangan yang menutup telinga.
Aku mengelus bahuku, lalu menunjuk lenganku pada mbak Emi. "Mbak aku merinding, liat nih. Ngeri banget Mbak."
Tangisan Mbak Emi semakin keras. "Ka--kamu habis liat penampakan yah?" Dia menangkup wajahku. "Kantong mata kamu item, pasti begadang karena kaget yah? In maaf Mbak gak bisa bantu." Di akhiri dengan pelukan.
Haduh, Mbak Emi ada-ada saja. Semua pakaianku sudah masuk kedalam tas, rencana aku pulang sekarang juga agar sampai rumah lebih cepat, itupun malam hari.
rasanya tidak kuat berlama-lama disini, apalagi mengingat kejadian semalam. Mas Bian benar benar serius apa bercanda? gak masuk akal!
handphone ku berdering, nama ibu tertera disana. Aku buru buru menangkat panggilan tersebut, menarik napas dalam menyiapkan diri.
"Halo, Assalamualaikum bu?"
"Neng? ibu udah dikabarin sama bu Renata, gapapa itu bukan salah kamu pulang aja nanti malam ya? biar dijalan sekalian istirahat."
Sudah aku duga ibu pasti tidak akan marah sedikitpun. Tapi, bagaimana kedepannya siapa yang bisa mencari nafkah?
Setelah panggilan berakhir, aku hanya sibuk mengurung diri dikamar sampai malam tiba. Toh aku sudah diberhentikan hari ini, gaji terakhir juga sudah aku dapat tadi pagi.
tinggal menunggu malam saja aku pergi ke terminal bus, dan selama itu juga aku belum bertemu dengam mas Bian ada rasa lega dan perasaan yang entah aku saja tak mengerti.
"Peduli apa juga mas Bian?" gumamku sembari mengikat rambut dan berjalan keluar kamar.
tepat saat membuka pintu aku terkejut dengan mas Bagas berada tepat dihadapan pintu. Ini orang ngapain coba?
"Mas, kaget tauuu!"
Entah kenapa wajah mas Bagas masam saat ini. "Lo ko ga bilang pulang malem ini?" tanyanya dengan nada pelan.
Ah, iya aku lupa bilang pasti dia tau dari mbak Emi. Ember banget mulutnya, padahal aku sengaja tidak memberitahu mas Bagas.
"Hehe... Itu loh mas---"
"Gue mau cerita," potongnya. Seketika aku penasaran, dan berujung kami yang berakhir di dapur belakang.
"Mas Bian semalam bicara sama mamah, ngomongin pernikahan." Tepat setalah ucapan mas Bagas itu, entah angin dari mana nyonya Renata datang kedapur belakang, yang sama sekali tak pernah ia kunjungi selama aku kerja disini.
KAMU SEDANG MEMBACA
MWMB (MARRIED SERIES)
HumorDia dengan segala peraturannya. Peraturan pertama: Jangan sentuh Mas Bian baik sengaja maupun tak di sengaja menyentuhnya. Peraturan kedua: Jangan potong ucapan Mas Bian. Baik refleks ataupun bukan, gaji potong lima persen. Peraturan ketiga: Mas B...
