13. Rumah

9.6K 778 4
                                        

Happy reading!

***
Benar saja hari ini kasur datang membuat aku melotot kesal karena mas Bian lagi-lagi membahas apa yang terjadi dipasar, bisa tolong lupakan soal itu?

Aku muak.

Pulang-pulang dari pasar langsung aku buang obat itu ke tong sampah. Tau sih ucapan mas Bian itu cuma bercanda, tapi kesel aja.

Pasalnya hari ini benar-benar sibuk barang-barang yang dipesan dari toko perabotan berdatangan hari ini, kasur yang sudah datang duluan bersama album dan juga Mas Adam yang ikut membantu kami membereskan rumah.

Dan siangnya datang kak Andini bersama dua anak kembarnya, Anura dan Anira.

"Liat posisinya udah pas belum?" Mas adam menyipitkan mata memundurkan tubuhnya. "Lama amat Dam."

Aku yang tak sengaja lewat ikut memperhatian poto yang dicetak besar dan tengah mas Bian pasang diruang tamu. Aku yang tersenyum sambil menggandeng tangan mas Bian.

Sayang banget, cuma boongan.

Aku melamun cukup lama memandang poto itu, sampai kakiku ditubruk oleh salah satu anak kembar kak Andini. "Kaget tau," protesku lalu berjongkok menyamakan tingginya denganku.  "Anira yaa?"

Gadis kecil berkepang dua itu menggeleng, wajahnya kesal, berarti salah dong. Aku tertawa lalu mencubit pelan pipinya. "Aku Nura ih!"

"Iya, iya salah maaf," ucapku dengan bibir dimajukan.

"Wah jangan dimaafin, ra," celetuk mas Bian yang tiba-tiba nongol saja.

"Apasih mas Bian kompor banget!"

Hampir saja menjadi debat yang panjang jika saja Kak Andini tak datang dan menengahi menyuruh kami makan siang, karna sebetulnya aku dan kak Andini memang sibuk didapur dari tadi.

Setelah makan siang aku dan Kak Andini membereskan piring kotor, padahal kan biar aku saja yang bereskan. Sedangkan mas Bian dan mas Adam tengah duduk lesehan diruang tengah, mengasuh dua bocil perempuan yang banyak bertanya.

Tadi saja Anira menanyakan asa muasal Ayam yang dia makan, dan jawaban ajaib mas Adam membuat gadis itu berhenti bertanya.

"Pah, Asal Ayam ini dali mana? Telul dulu ayam dulu?"

"Telul dulu," jawab mas Bian menirukan Anira yang tidak bisa menyebut huruf 'r' dengan benar. "Telul- telul, Telur!" Tegas Mas Bian

Pokonya jawaban dari Mas Bian sama sekali tak dihiraukan Anira, anak itu benar-benar menatap mas Bian  seperti musuh kadang dia bicara saja diabaikan bocil itu.

"Pah? Mana dulu Ayam dulu telul dulu?"

Mas Adam tanpa bingung dan ragu menjawab. "Makan dulu."

Karena kesal, gadis kecil itu hanya mecibir pelan dan memilih melanjutkan makan.

"Anira lucu banget ya kak?" Aku meminta persetujuan pada kak Andini. "Semua dia tanyain."

Kak Andini tersenyum masam. "Lucu karna kamu baru tau sehari, kalo udah tau dari orok sampe segede gitu kadang lucu tapi banyakan pengen jitak palanya." Kak Andini tertawa sesaat lalu kembali fokus pada piring ditangannya.

"Aku bisa sendiri loh kak, kalo cuci piring mah gak dibantu juga gapapa."

"Cape lah kalo kamu apa-apa sendiri, masak aja kita tadi bareng-bareng."

Aku tersenyum sungkan. "Aku udah biasa kak, cuci piring segini mah gak banyak dulu aku art dirumahnya mas Bian," ucapku tanpa beban.

Tapi, hampir saja piring ditangan Kak Andini terjatuh. Eh, aku kira mas Bian udah bilang? loh belum?

"Berarti kamu anak kecil yang sering Bian ceritain dulu ya?"

Cerita?

"Cerita apa kak?"

"Cer---"

"Sayang ayo pulang."

***

Kalian tau hal apa yang harus disyukuri didunia? Sepertinya terlahir kaya raya, anak pengusaha yang hartanya gak akan habis tujuh turunan meski  borosnya luar biasa.

"Kalo mas punya uang sampe beli mobil baru, kenapa gak dari awal beli kasur?"

Lihat saja kelakuan mas Bian ini, aku dibuat heran saat tiba-tiba mobil baru diantar atas nama Bian Albar, mas Bian tersenyum tanpa henti mengelus mobil barunya itu.

Keluaran terbaru katanya.

"Hadiah."

"Dari?"

"Sepupu jauh saya."

"Atas dasar apa?"

Mas Bian menatapku tajam, kesal mungkin aku banyak tanya. Salah siapa ngasih tau setengah-setengah. "Hadiah pernikahan, sepupu saya semuanya pada tau, soalnya saya dikick dari grup keluarga mungkin papah ngasih tau saya kawin lari."

Aku menyipitkan mata curiga. "Bukan saya kok yang ngasih tau, hadiah juga sepupu saya yang tanya mumpung ditanya ya jawab aja."

"Tapi ini mobil loh mas."

"Ya, emangnya kenapa?"

Aku menghela napas dalam, jangan lupa sepupu mas Bian juga dari keluarga tajir melintir mengeluarkan uang ratusan juta mungkin hanya setara seribu rupiah bagi mereka.

"Nella ..." panggil mas Bian lirih, perasaanku gak enak kalo sudah dipanggil pakai nama itu. "Nanti malam siap-siap ya, Mamah saya nyuruh kita kerumah."

Boleh tidak kalo aku ngilang sebentar, part paling tidak mau aku lewati akhirnya tiba juga mau tak mau aku mengangguk.

"Saya pastiin kamu gak akan ditampar mamah, tapi kalo misal mamah ngemaki kamu saya harap kamu tutup telinga, saya usahain mulut mamah gak bisa ngemaki kamu sedikitpun."

***

B

enar saja sekarang aku dan mas Bian berada didepan pintu kediaman Albar, baru menarik napas dalam mas Bian malah menarik tanganku duluan dan membuka pintu.


Astaga, gak bisa sabar dulu apa?!

"Duduk," tentu saja itu perintah Nyon—ouh iya aku bukan lagi artnya, perintah mamah mas Bian."Cepet!"

Kami duduk genggaman tangan mas Bian belum dilepas, hingga mataku melihat sekitar tidak ada Papah mas Bian, hanya ada Mamah Mas Bian, bahkan adik-adiknya pun tak ada.

Lama aku gak melihat mas Bagas.

Ibu Renata—Mamah mas Bian menarik napas dalam, mengalihkan pandangan secara bergantiaj pada aku dan mas Bian. "Mamah gak habis pikir kamu bener-bener ngelakuin apa yang kamu bilang waktu itu, Bian."

"Kamu tau semurka apa Papah kamu? Dan kamu nyerah begitu aja soal perusahaan? Sedangkan mamah mati-matian jodohin kamu agar perusahaan jelas nantinya kamu yang jalanin setalah Papah. Kamu kan juga tau syarat dipinta papah Kamu menikah, Bian."

Mas Bian mengehela napas, menatap mamahnya. "Maaf kalo kedatangan Bian kesini sangat tidak diharapkan mamah, Bian sudah kabulkan untuk permintaan mamah menikah," Mas Bian menoleh padaku tersenyum begitu teduh lalu menyelipkan rambutku keujung telinga. "Soal perusahaan atau warisan Bian gak begitu tertarik."

Merangkul bahuku. "Bian rasa, Bian sudah dapat apa yang lebih dari sekedar harta."

Mas Bian mengecup keningku tepat dihadapan mamahnya. Ini sangat tidak romantasi, apalagi melihat tatapan Ibu Renata seolah siap memakanku.

Hahaha ... Mas Bian sialan!

Tbc.

MWMB (MARRIED SERIES)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang