11. Poto

9.8K 895 6
                                        

Happy reading.

***
"Kosong banget."

Mataku menelisik setiap setiap ruangan dirumah ini betul kosong tidak ada apa-apa, selain karpet doraemon dan sofa yang masih terbungkus.

"Tiga hari, tahan gak tiga hari tanpa kasur?"

Aku menoleh kearah mas Bian. Bukanya dia banyak uang, tapi kok kita--aku harus nunggu tiga hari tanpa kasur?

Apa jangan-jangan ini alasan dia ngajak aku nikah? karna tampang aku orang susah, jadi mau diajak susah?

Tau sih dia habis dipecat, tapi kan dia punya usaha lain aku dengar dia mengelola cafe dan punya beberapa cabang, tapi kok?

Mas Bian mengehela napa mengusap bahuku. "Sabar."

Aku mencebik kesal. "Mas liat aku kurang sabar apa? pantesan pas itu ngomongin harga bawang."

Berujung dengan aku yang meninggalkannya keluar rumah, di depan rumah terdapat kolam ikan yang tidak ada ikannya.

Aku melamun di depan sana, sebenarnya keputusan aku ini sudah tepat atau malah sesat?

Sampai mahluk menyebalkan itu kembali bersuara, mengajak keluar rumah nanti sambil membeli beberapa perabotan yang mungkin kita butuhkan.

Tapi, bukan kasur karna katanya kasur sudah dibelikan saudaranya dekatnya, Mas Adam makanya harus menunggu tiga hari.

Dasar medit!

***

"Katanya beli perabotan kok kesini Mas?"

Mas Bian menghela napas dalam, pusing mungkin mendengar protesanku dari tadi. "Katanya kalo saya beliin escream tiga mulut kamu bakal diem, mana buktinya? makan sambil nyerocos."

"Tuh mana cemberut gitu lagi. Jelek!"

Sudah berapa kali hari ini aku dimaki jelek. Entah lah, sampai bingung merespon gimana.

Gimana gak kesal mas Bian malah membawaku ketempat photo studio mau apa coba dia ini? mana aku tanya bukanya menjawab malah ngeledek lagi.

Dan berujung aku yang ditarik masuk, Adams studio. Adam? gak asing.

"Widih pengantin baru udah dateng bae inii."

Mas Bian tersenyum masam, lalu aku diajak oleh seseorang perempuan keruang ganti, dan mas Bian yang sibuk bercengkrama dengan temannya itu.

Adam? Dia yang mau ngasih kasur itu kan?

Karna masih kesal dengan mas Bian aku hanya diam saat dituntun masuk, dipoles make up tanpa membuka mulut sedikitpun.

"Halo Quin, aku Andini teman Bian salam kenal ya."

Aku tersenyum, kakak ini ko sudah tau namaku saja ya? mana senyumnya cerah sekali. "Kakak temennya mas Bian?"

Kak Andini mengangguk, tanganya masih sibuk menepuk-nepuk pipiku dengan bedak. "Iya, dari kuliah, nah sudah cantik."

Kak Andini menujukan cermin didepan wajahku, terlihat lebih fresh dari pada sebelumnya seperti mayat hidup. "Dulu Bian itu gitaris band dikampus, percaya gak? Dulu dia agak nakal sering bolos kuliah."

MWMB (MARRIED SERIES)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang