16. Si bocah rese

9.5K 766 5
                                        

Happy reading!

***

"Kenapa Mamah kesini?"

"Kenapa?" kalimat tanya itu diulang kembali oleh mamah mas Bian. "Kamu masih tanya kenapa Bian? Hari ini hari ulang tahun kamu," jelas mamah mas Bian.

"Kayanya kamu emang gak butuh mamah?"

Mas Bian diam, wajahnya ternyata masih pucat, tadinya sehabis tiup lilin mau aku langsung suruh istrihat, tapi malah kebabalasan.

"Ya, terus memang kenapa kalo Bian ulang tahun mamah mau apa? Yang ada Mamah kena omel Papah kalo sampai ketahuan kesini."

"Gak ada, Papah kamu dinas," Ibu Renata—mamah mas Bian melirikku. "Biasanya kamu gak mau mamah kasih kue selalu nolak, tumben." tersirat nada tak suka dari ucapannya.

Tapi, kenapa mas Bian gak suka kue ulang tahun?

Mas Bian berdehem, melihat ketiga orang dihadpan kami secara bergantian. "Bian kurang enak badan, kalian datang lain kali aja."

Mengusir secara terang-terangan.

"Kita cuma mau tau kabar lo kak, semalam mamah bilang lo habis dipukul Papah. Apa salahnya kita berkunjung?" pertanyaan itu keluar dari mulut mas Bagas.

Disusul dengkusan dari Bella adik bungsunya. "Tau gini, mending keluar aja tadi. Apa yang bisa diharapain dari kak Bian," Bella tersenyum mengejek padaku. "Pembantu aja dinikahin kaya gak ada cew—"

"Bella!"

"Lo mending diem deh Bell," ucap mas Bagas bersamaan dengan Mas Bian. "Gak usah rese, kita udah buat kesepakatan gak bahas itu!"

"Bela aja terus tuh pembantu sialan!"

"Bella!" Kali ini suara Ibu Renata membuat Bella terdiam, lalu memutar bola matanya malas. "Udah, jangan berantem."

"Kalo emang kedatangan kami gak tepat mamah minta maaf, lain kali mamah kabarin." Ibu Renata bangkit disusul mas Bagas dan Bella.

Mas Bian hanya diam, jujur saja tatapan sedih dari Ibu Renata terlihat jelas saat ini, mau bagaimanapun dia pasti sangat menyangi mas Bian.

Aku mengantar mereka sampai depan pintu, Bella yang berjalan duluan ke mobil, sedangkan Ibu Renata yang mematung didepan pintu.

"In?"

"Iya?"

Ibu Renata menatapku. "Saya titip Bian ya? Saya memang belum bisa merestui kalian, tapi melihat Bian tertawa seperti tadi rasanya hati saya menghangat, Bian gak pernah begitu dirumah, bicara seadanya seperlunya. Apalagi semalam Papahnya mukul dia cukup kenceng."

Ibu Renata mengehela napas dalam. "Bian gak pernah suka saya kasih kue karna hari ulang tahunnya berdekatan dengan hari meninggal almarhumah Bunda nya. Mungkin, sampai sekarang dia belum bisa nerima saya sebagai mamah sambungnya, tapi saya harap dia bisa tertawa lepas seperti tadi."

Aku hanya menunduk, mendengar setiap kalimat dari wanita didepanku. Kalo tau mas Bian gak suka aku gak akan kasih dua kue ulang tahun, tapi kenapa mas Bian diem aja sih?

"Ya, sudah saya pamit."

Aku mengangguk, tersisa mas Bagas yang kini menatapku cukup lama sampai panggilan dari adiknya Bella membuatnya mendengkus kesal.

"Kenapa mas Bagas?" tanyaku heran.

Mas Bagas tersenyum. "Jaga diri baik-baik ya In, gue tau ini semua bukan kemauan lo. Tapi, gue yakin lo punya alesan sendiri, titip abang gue ya. Kalo gue chat tuh di bales, kita masih temenan kaya dulu."

Aku hanya tersenyum, mengangguk sampai mas Bagas kembali berbalik dan mengusap kepalaku.

"Lo jadi maba kan besok, gue tau di kampus gue kan? Ketemu besok!"

Lah kok dia tau? Eh?

***
Hari ini hari pertama aku menjadi maba, pakaian hitam putih dan rambut panjang yang aku ikat serta tas berisikan beberapa barang. Mas Bian bilang gak usah khawatir mas Bian memasukkan ku univ swasta, dia jamin hari pertama tidak akan berat.

katanya.

"Udah semua?" tanya mas Bian, entahlah aku rasa mas Bian paling antusias soal hari ini, dari subuh dia sibuk ini itu. "Ada yang ketinggalan enggak?"

Aku menggeleng, mas Bian menjalankan mobil pagi-pagi begini jakarta sudah pasti macet, ditambah mendung dipagi hari.

"Mas?"

Mas Bian menoleh sesaat. "Kenapa gak bilang kalo gak suka kue ulang tahun? maaf ya, harusnya aku tanya dulu."

Mas Bian melirikku, lalu kembali fokus pada setir. "Mamah yang bilang? Kalo iya, jangan didengerin."

"Kok gitu?"

"Mamah cuma menyimpulkan aja. Soal kue makasih ya."

Aku menatap mas Bian heran, tumben sekali dia berterimakasih jarang-jarang loh. "Kemarin mamah ngomong apa aja?"

Aku menatap mas Bian, kali ini aku berniat berbicara serius. "Mas, aku rasa mas Bian harus sedikit membuka hati buat mamah Renata, beliau—gak seburuk dibayangan mas Bian."

Mas Bian diam, betul-betul diam sampai kami tiba lalu aku turun dan menyalami tangannya, seperti anak paud hendak pergi belajar.

"Jangan nakal," Mas Bian baru mengeluarkan suaranya sekarang. "Cari temen jangan banyak-banyak, satu atau dua aja cukup yang penting bukan yang manfaatin kamu."

"Iya."

"Jangan aneh-aneh, jangan lupa makan. Uang jajan yang saya kasih cukup kan?"

Aku mengangguk.

"Kalo kurang bilang aja saya tambahin," aku tersenyum hendak membuka suara. "Saya tambahin dua ribu," lanjutnya.

Senyumku lenyap berganti dengan tatapan malas. "Jangan lupa chat saya nanti saya jemput. Inget ya Nella jangan macem-macem."

"Iya ih, mas Bian bawel banget."

Mas Bian tersenyum kecil. "Saya mau ke cafe, mau kunjungan ke cabang sekitaran jakarta barat. Kalo ada cowok yang deketin kamu bilang ya?"

"Kenapa, gak boleh emang?"

Mas Bian menatapku penuh arti. "Boleh," ucapnya. "Kenalin ke saya kalo perlu—"

"Serius?"

Mas Bian mengangguk. "Mau liat saya cowok gak beruntung mana yang deketin bocah rese kaya kamu."

Aku tersenyum masam.



Tbc.

Bentar mau bercermin dulu:)

Bentar mau bercermin dulu:)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Quin💜

MWMB (MARRIED SERIES)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang