12. Bobo bareng

10.1K 849 5
                                        

Happy reading!

***

Kami pulang malam karna mampir ke toko perabotan, hasil poto-poto tadi Mas Adam bilang akan dikirim besok dalam bentuk album, dan beberapa dicetak besar untuk pajangan dirumah, emm ... seniat itu memang mas Bian.

Namun sebelum pulang aku memaksa mas Bian untuk makan disalah satu warkop, memesan mie instant, dipinggir jalan.

"Kenapa gak makan yang lain aja? Kalo mie kan bisa masak dirumah," protes mas Bian. "Lagian makan mie mulu gak sehat, banyak micin."

Binyik micin.

"Siapa yang suruh mas Bian makan, buat aku aja kalo gak mau mah."

"Tapi kan kamu pesan dua porsi tadi, saya gak salah denger kan?"

Aku mengangguk. "Tapi, kalo mas emang gak mau biar aku aja yang makan, katanya micin gak sehat."

Hening usai percakapan yang hampir berujung ribut itu disudahi mas Bian, memilih sibuk dengan handphone ditangannya.

"Lagian kompor baru datang besok mas, mau masak pake apa?" celetukku yang dibalas lirikan sekilas dari mas Bian. "Besok anter kepasar."

Kali ini mas Bian menatapku. "Saya sibuk!" singkat, padat, jelas, ngeselin.

"Gak mau tau aku, pokonya harus dianter jam enam pagi, titik."

Tak ada sautan apa-apalagi, aku anggap mas Bian setuju. Mie pesananku datang, dengan telur setengah matang dan potongan cabai rawit, mantap betul.

Wanginya saja membuat ngiler.

Aku mengaduk-ngaduk mie lalu menyeruput kuahnya, siapa sih  yang bisa nolak enak mie instant abang-abang?

Yap, Mas Bian.

"Mas beneran gak mau nih?"

"Enggak!"

Semangkuk mie instan sudah tandas lenyap bersama kuah-kuahnya, tersisa mangkok sendok dan garpu saja. Tinggal mangkok satunya, tapi tiba-tiba mas Bian menggeser mangkok itu tepat didepannya.

"Bikin bodoh banyak-banyak," lalu memakannya begitu saja, tak menghiraukan protesanku, dia malah semakin menikmati makan mie.

Aku tersenyum. "Ouh biar bodohnya bisa dibagi-bagi ya!"

Mas Bian tersedak, aku tertawa lalu memberinya segelas air putih.

***

Jam sebelas lewat sepuluh menit kami tiba dirumah, yang sebetulnya tidak bisa disebut rumah, belum dirapihkan, belum ditata ulang.

Hanya ruang tengah yang bisa ditempati saat ini, selesai membersihkan diri aku memdekati mas Bian yang sibuk tiduran diatas sofa, kalo dia disofa aku dimana?

"Aku dimana?"

Mas Bian menujuk karpet doraemon yang tergeletak dibawah, maksudnya?

"Aku tidur dibawah?"

Tak mengeluarkan suara sedikitpun mas Bian mengangguk. "Gak mau!"

"Mau disofa? liat cuma muat buat saya. Apa mau tiduran diatas badan saya gitu?"

Kalo dibolehin mah gapapa.

Eh.

Aku kesal malas ribut, bersiap merebahkan diri diatas karpet tapi sebelumnya aku mengambil selimut pantai dari tas dan beberapa pakaian sebagai bantalan tidur.

Mas Bian tega!

Dalam hati aku misuh-misuh tak jelas, bersiap menutup mata sampai  sentuhan dipipiku membuat kembali membuka mata. Bukan sentuhan lebih ke dorongan dengan telunjuk.

MWMB (MARRIED SERIES)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang