Happy reading.
"Apasih Mas?" Tanyaku kesal.
Bagaimana tak kesal semenjak turun dari bis dia terus mengikutiku, aku dengan tegas menolak ajakanya untu menikah. Bukan apa, hanya saja aku pribadi bahkan tak memiliki perasaan yang spesial.
Apalagi dia kan?
Saat tiba digerbang desa pun ia masih saja membahas pernikahan, aku masih muda belum mau menikah, mana mertuanya modelan mamahnya mas Bian bisa habis aku diroasting setiap waktu.
Ojek hanya bisa sampai gerbang desa, karna akses jalan yang kurang memadai, dan tentunya hanya warga desa saja yang kuat bolak-balik naik sepeda motor dengan jalur yang jelas ga ada bagus-bagusnya.
"Jelek banget jalannya," gerutu mas Bian berjalan mengekoriku, mau tak mau aku harus ajak dia kerumah sudah sejauh ini masa aku telantarkan begitu saja.
Aku berhenti membuat tubuh mas Bian menubruk ku dari belakang. "Kenapa berhenti tiba-tiba?"
Aku mengehela napas dalam, menghentakan kaki. "Mas ini ngapain sih? kan udah aku bilang jangan ikutin aku, pulang aja. Aku gak mau nikah!"
"Yaudah."
Singkat, padat, dan kurang jelas. Ia malah berjalan mendahuluiku, kaya orang tau jalan aja deh nyasar mampus!
"Apaan yaudah? kalo yaudah mas pulang. Mas ... Mas Bian dengerin aku ga sih?"
Sabar.
***
Kami sampai dirumah Ibu, rumah yang dari dulu tak berubah cat dinding yang mulai terkelupas, atap yang sering bocor.
Tatapan mas Bian seolah terkejut melihat rumah dan aku secara bergantian. "Ini beneran kamu bisa tidur disinii?" tanyanya heran.
Aku mengangguk, yang kuat-kuat saja mas Bian terlahir sudah memiliki segalanya tau apa soal hidup di desa yang serba pas-pas an.
Lihat saja bahkan dia gak akan sanggup diam disni lebih dari 24 jam, aku jamin.
"Ibu, Iin pulang," ucapku sembari mengucapkan salam dan menyalami tangan ibu, disusul mas Bian yang melakukan hal sama.
"loh ... Mas Bian ikut juga, ibu kira kamu pulang sendiri."
Lah?
Bukanya katanya Nyonya Renata sudah bilang sama ibu ya, ko dia gak kaget apa gimana?
"Ibu, Nyonya Renata bilang apa sama ibu di telpon?"
Bukanya menjawab aku ibu malah menyambut hangat mas Bian, mengajaknya masuk kedalam rumah. Ini beneran nih aku anaknya sendiri dikacangin?
Gak keliatan nih aku?
Aku menaruh tas dikamar, lalu ikut bergabung dengan ibu dan mas Bian yang tengah duduk lesehan diruang tengah.
Mungkin mas Bian berpikir bagaiman rumah sesempit ini bisa ditinggali? iya gak sih?
Aku mengambil secangkir teh hangat buatan ibu, dan yap baru satu teguk ibu langsung melotot.
KAMU SEDANG MEMBACA
MWMB (MARRIED SERIES)
HumorDia dengan segala peraturannya. Peraturan pertama: Jangan sentuh Mas Bian baik sengaja maupun tak di sengaja menyentuhnya. Peraturan kedua: Jangan potong ucapan Mas Bian. Baik refleks ataupun bukan, gaji potong lima persen. Peraturan ketiga: Mas B...
