Happy reading!
***
Kalo manusia hidup tidak punya kepala sudah pasti seram kan, lalu apa gunanya punya kepala kalo cuma buat pusing saja?
Pening.
"Kamu gak papa?"
Sumpah ini mas Bian masih tanya keadaanku gimana? Rasanya ingin meloncat keluar dari mobil deh!
Aku menggeleng, namun tetap saja tanganku sibuk memijat pelipis. Amukan tak tertahan kan sudah pasti mas Bian rasakan dari mamahnya, jelas bukan padaku. Syukurlah.
Tapi, kasian juga sih mas Bian, ah tapi ini juga kan salahnya. Mana tadi saat pulang hendak masuk mobil kita malah berpapasan dengan papah Mas Bian.
Awalnya beliau berperilaku seolah tak melihat kami hingga beberapa langkah ia berbalik dan tiba-tiba memukul wajah mas Bian, hingga ujung bibirnya berdarah.
Tentu saja itupun dihentikan Ibu Renata, aku rasa jika saja nyonya rumah itu tak datang mas Bian sudah habis babak belur.
"Harusnya aku yang tanya mas Bian gak papa?"
Mas Bian malah tertawa, "Saya gak papa, udah biasa begini mah," ucapnya tanpa beban.
Aku melongo. "Maksudnya mas sering dipukul gitu?"
Mas Bian seolah berpikir, disela-sela mengemudinya, lama tak ada jawaban rupanya kita sudah sampai rumah. Aku buru-buru menariknya masuk rumah dan menyuruh duduk disofa.
"Ketemu."
Kotak P3K. Aku berjalan dan menundudukan diri tepat disamping mas Bian, menuangkan alkohol pada kapas.
"Saya dipukul cuma tiga kali kok," mas bian menghentikan pergerakan tanganku. "Waktu Mam—Bunda meninggal, terus waktu ngemaki mamah Renata didepan papah, sama terakhir ini." Mas Bian menunjuk luka diujung bibirnya.
Aku menghela napas, mas Bian mengucapkan itu dengan tawa seolah tanpa beban padahal sorot mata tidak bisa bohong.
"Semuanya soal wanita," tertawa lagi, aku kesal menekan lebih lama kapas pada lukanya. "Sakit!"
"Nah, makanya mas kalo sakit bilang sakit, jangan malah ketawa."
Maa Bian terdiam sesaat, hingga mulutnya kembali terbuka, menceritakan hal yang tak pernah aku kira. "Sebagian anak pasti gak mau orang tuanya menikah lagi kan? Saya juga sama, saya gak mau papah menikah dengan wanita lain selain Bunda."
Mas Bian tersenyum megusap tanganku, bukan lebih tepatnya cincin di jari manisku. "Bunda selalu bilang kalo dia cuma gadis biasa dari desa, membuka warung kopi dipinggir jalan. Lalu jatuh cinta pada pria kaya yang jelas adalah Papah kebetulan tengah KKN di desanya waktu itu."
Mas Bian berdehem. "Bunda lahir dari seorang kembang desa, dia gak tau siapa Ayahnya, seusai dilahirkan Bunda dititipkan di Bibinya di asuh sampai menjadi gadis cantik icaran pemuda desa," Mas Bian tersenyum.
Aku diam menyimak. "Bunda bilang Papah itu nakal tiap teman-temannya menjalankan proker, dia malah melipir kewarung ngeroko dan bercanda sama Bunda."
Mas Bian tertawa kali ini dengan sorot mata yang terlihat antusias. "Hubungan Papah dan Bunda jelas ditentang keras oleh kakek, tapi gak tau gimana caranya sampai Papah bisa dapet restu, tapi semua gak lama saat saya sd Bunda sakit keras. Papah cuma peduli keadaan Bunda, saya gak pernah sama sekali ditanya gimana keadaan saya, dilirik pun enggak."
Rasanya air mataku hampir jatuh jika saja mas Bian tak menatapku saat ini.
"Gak lama dari itu Bunda meninggal, ninggalin saya sama Papah yang jelas kami gak seakrab itu, tiap pagi sarapan gak pernah sama-sama setelah Bunda gak ada. Seminggu saya gak keluar kamar sampai Papah datang dan nampar pipi saya untuk pertama kali .... 'Kamu laki-laki apa perempuan cengeng banget seminggu nangis, gak makan? Mau ada pemakaman lagi?!'." Mas Bian lalu tertawa sehabis menirukan cara Papahnya bicara.
"Gak lama dari itu Papah menikah lagi, sama sekali gak meminta ijin dari saya, lalu saya punya adik," Mas Bian tersenyum mengusap kepalaku. Ah, sudahlah terserah yang aku tau aku gak sanggup menahan air mata saat ini.
Pliss jangan nangis, nanti diejek mas Bian.
"Puncaknya saya ngemaki mamah Renata saat baju Bunda, semua barang-barang Bunda dibuang beliau, Papah sudah pasti membela mamah, cuma tersisa itu cincin yang kamu pakai."
Yah, gak bisa kutahan air mataku jatuh begitu saja. "M--mas Bian, aku ..." Bukanya melanjutkan ucapanku tangisan ini malah makin menjadi-jadi.
Mas Bian malah tertawa, padahl kan gak lucu!
"Yang dipukul saya, yang nangis kamu."
Padahal kan aku bukan nangis karna mas Bian dipukul. Tangan mas Bian terangkat menghapus air mataku yang tak kunjung juga reda.
"Udah jangan nangis mulu, jelek banget kamu," tangisku berangsur-angus mereda. "Ini luka saya belum kamu obatin baru dibersihin."
Terlintas ide gila dalam pikiranku, tapi sebelumnya aku menarik ingus dan menyeka sisa air kata dipipiku, lalu mengeluarkan salep luka dari kotak menyuruh mas Bian menutup matanya sebentar.
"Buat apasih orang cuma disalepin."
"Cepet!"
Mas Bian menutup matanya. "Ngapain sih pake tutup mat—" ucapan mas Bian menggantung, ia refleks membuka matanya terkejut saat aku dengan beraninya menempelakan bibirku pada lukanya.
"Udah pasti cepet sembuh mas, itu namanya obat terampuh sepanjang masa," ucapku lalu berlari masuk kedalam kamar dengan mas Bian yang mematung cukup lama, jantungku rasanya berdetak tak karuan, bukan jatuh cinta ini namanya uji adrenalin.
"UDAH BERANI YA KAMU SEKARANG! KELUAR ANAK TENGIK!"
Berakhir dengan pintu yang hampir didobrak paksa.
***
Setelah kejadian semalam, pagi ini mas Bian belum terlihat keluar kamar. Tumben banget, padahal dia sempat bilang akan joging pagi ini.
Tapi dari kamarnya bahkan gak ada tanda-tanda kehidupan. Ouh ... iya, kami tidur terpisah dengan penuh paksaan aku menyuruh mas Bian membeli kasur lipat sementara. Aku gak mau seranjang dengannya!
Tapi kasur lipat keterlaluan gak sih?
Apa jangan-jangan mas Bian merajuk karna kejadian semalam? ah, masa padahal itu bukan ciumana hanya kecupan, tidak kena bibirnya yah!
"Mas Bian?" Aku mengetuk pintu cukup keras. "Mas Bian? hari ini gak kemana-mana?"
Nihil.
Kebo banget masa, mas Bian setauku rajin bangun pagi. Tak lama pintu terbuka menampilakan mas Bian dengan wajah pucat dan rambut acak-acakan.
Aku menempelkan tanganku pada dahinya.
Panas, mas Bian demam!
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
MWMB (MARRIED SERIES)
ComédieDia dengan segala peraturannya. Peraturan pertama: Jangan sentuh Mas Bian baik sengaja maupun tak di sengaja menyentuhnya. Peraturan kedua: Jangan potong ucapan Mas Bian. Baik refleks ataupun bukan, gaji potong lima persen. Peraturan ketiga: Mas B...
