Feel - 9

25 4 0
                                        

"Ngaku aja. Sebelum gue jodohin lo sama Teo."


Indi berdecak. "Gue gak suka sama siapa-siapa di kelas ini, oke!"

"Ngegas aja lo," Putri terkekeh, bangga pada Inara bisa memancing Indi.

"Jangan bohong sama kita. Lebih baik lo kasih tau siapa orangnya dari pada gue yang ngomong ke orangnya kalau lo suka."

Indi menatap Inara remeh.. dan sedikit takut. "Masa?" Tantangnya.

Bola mata Inara melirik cowok pada arah jam 9. Mengulum senyum puas, merasakan aura terkejut Indi. "Gue masih cukup baik," tawarnya tersirat pada Indi. Fey dan Putri bertatapan.

"Kalian bikin gue sama Fey bingung. Siapa?" Putri kepo.

Inara tergelak. "Coba suruh temen lo ini angkat bicara. Dia terlalu batu."

"Ndi, serius deh. Siapa? Lo gak kasihan sama Fey? Dia kebingungan loh." Putri merayu Indi yang jelas tidak mempan.

Fey heran namanya dibawa-bawa. Walaupun Ia juga kebingungan. "Eh, aku ga--"

"Halo!"

Ya.. Suara keramat yang sudah Inara minta untuk jauh-jauh datang mendekat.

Melihat Putri terpaku menatap laki-laki itu membuat Inara sebal. Putri itu kan baik, walau matre. Juna itu kan playboy, ya tapi kaya raya.

Tapi Inara tidak bisa terima kalau saja Juna malah menyakiti Putri.

"Ngapain lo?" Tanya Indi sinis.

Juna menarik kursi di belakangnya dan duduk. "Mau gabung dong..."

Inara mendesis. Juna yang peka, menyadari bahwa Inara tidak suka akan kehadirannya.

Tapi, Ia diam.

Dari pada ikut bicara, Inara memilih baca novel. Membiarkan Fey dan Indi yang mulai terbawa suasana karena dengan cerdasnya Juna membicarakan anime terbaru pada dua temannya yang wibu akut itu. Sementara Putri mengalihkan pandangannya pada ponsel.

Belum 10 menit, kejengkelan Inara meluap.

"Pergi lo."

Mereka menatap Inara, termasuk Alland tanpa mereka sadari.

"Siapa?" Tanya Juna.

"Lo."

Laki-laki itu bingung. "Kenapa? Gue gak ganggu lo, Ra."

"Temen gue gak bisa napas kalau ada lo."

Jelas hanya manusia peka yang paham. Mereka bukan manusia yang peka. Bahkan Juna.

Tapi Putri paham.

"Pergi."

Laki-laki itu menyisir rambutnya dengan jari, menebarkan pesona yang membuat Putri sesak napas.

"Gue yang seganteng ini aja, lo tolak. Apalagi..." Juna menatap Alland yang memperhatikan mereka lewat ekor matanya. Juna tertawa dan pergi ke luar kelas.

-

"Segitu sebelnya ya kalau ada teman kelas yang suka sama lo?"

Gadis itu mendengkus tak peduli. "Buat apa lo nanya gitu?"

Alland tersenyum. "Nanya aja.."

Two Feelings Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang