Hanya satu hal yang mampu kulakukan dan selalu mahir kulakukan, yaitu membangun.
Aku bukan seorang arsitek atau pun seorang mandor
Tidak, jangan sebut aku kuli.
Bukannya aku tak ingin disamakan atau ku merendahkan pekerjaan kuli.
Cita-citaku menjadi seorang nelayan, nelayan yang menjaring tiap harap dan doa mereka yang berputus asa, terbawa ombak hingga tepi samudra.
Hanya saja diriku mahir membangun, membangun tembok dan menambalnya, tembok tak terlihat yang membatasi tiap ruang hingga tak ada cela tersisa. Karena aku takut akan ada bayangan yang menempati ruang kosong, seperti bayangan yang selalu hadir di bawah sampanku saat mengarungi samudra imajiku.
Bukan ku tak mengizinkan,
Hanya saja aku yakin bayangan tersebut tak akan memahamiku atau bahkan mau mencoba memahamiku, mungkin hanya ingin melahapku dan mimpiku, bagus jika langsung binasa tanpa menyisakan luka.
Mereka bilang, kesepian itu merupakan candu. Candu ketika kalian paham betapa tenangnya hal tersebut seperti laut di malam hari. Mungkin inilah alasan aku lebih memilih untuk mendayuh sendiri dengan ditemani oleh nyanyian laut yang siap menarikku lebih jauh ke arah jangkarku.
Tak kusangkal hal itu, menyenangkan tuk merasa nyaman dalam tiap dayuhanku yang monoton dan monolog. Aman dari komunikasi dan ekspektasi. Hidup dalam imaji belaka dengan sarana daya khayal milikku belaka sebagai kompasku di tengah samudra yang semakin malam semakin terang oleh rembulan dan alga-alga yang memantulkan cahayanya.
Jangan salah paham, semua orang tak pantas sendiri meski kita tahu kita akan mati sendirian.
Aku ingat saat diriku pertama kali mencoba memperkenalkan diriku kepada dunia. Sekitarku terjadi kecelakaan saat itu, hingga ku tersadar itu dentuman keras yang kurasakan di dada. Adu jangkrik, mungkin vena dengan arteri pada jantung yang menimbulkan suara ba-dumb ba-dumb ba-dumb karena aku merasa bodoh.
Indah sungguh, pertama kamu akan merasa seperti terpatik sebuah cemeti yang hanya menimbulkan goresan. Berikutnya, dirimu akan merasakan kehangatan mentari hingga engkau memeluknya. Lamu kamu merasa dirimu adalah mollusca. Hingga perlahan pandanganmu terbutakan oleh hal itu. Dan hanya sebongkah kenangan yang tersisa untuk dikisahkan
Yang indah terkadang hanya untuk dipandang bukan tuk digapai bahkan digenggam. Meski hal itu tak kalah indah dari birunya laut. Sebab ketika dirimu terlarut, kamu akan terperangkap dalam balutan hangat di kala dinginnya laut menenggelamkan jiwamu hingga tanpa kamu sadari ragamu terlalu nyaman untuk berlalu dan kamu membiarkan ragamu terbawa meski jiwamu telah karam pada palung samudra terdalam dan menjadi bagian dari karang.
Kini yang tertinggal tinggal sebuah nama dan sebuah kisah yang mungkin tak akan di dengar oleh siapapun terkecuali burung camar yang selalu berputar di atas atau bahkan para penyu yang melahap keindahan tersebut demi kelangsungan hidupnya atau bahasa naifnya kita sebut saja untuk melindungi kehidupan banyak orang agar tak terjerat kehangatannya~
YOU ARE READING
Kisah Dalam Benak
Short StoryPermainan kata yang kupilih dalam menyatakan tiap pesan dalam benakku. Mungkin terdengar berantakan, seberantakan hati yang kelam ini. Mungkin kelak hati ini akan terbang lagi, tapi ntah kapan. Maka izinkan aku untuk menikmatinya sejenak.
