Berbicara soal hati, seakan tidak ada habisnya, bak menghitung tiap bulir pasir yang ada di dunia.
Berbicara soal cinta, tak akan ada habisnya, bak menghitung tiap ombak yang selalu muncul setelah satu menghilang.
Namun, mengapa cinta bisa habis?
Yang pudar ialah komitmen, komitmen untuk bertahan dalam segala kondisi. Mengingat kembali alasan semuanya terjadi, alasan engkau tersenyum tanpa alasan ketika melihat wajah pasanganmu, indah bukan?
Ironis, melihat canda dan tawa yang hilang seiring langkah sang waktu. Air mata yang tak lagi jatuh untuk orang tersebut.
Menyalahkan angin yang berlalu terlalu kencang dan membawa serta kenangan manis yang telah berakar terlalu dalam.
Menyalahkan air yang terlalu tenang, membuat kita terhanyut akan ketenangannya dan melupakan ombak yang akan datang suatu waktu.
Menyalahkan api yang telah redup, terbakar tanpa tanpa yang menghangatkan layaknya dahulu kala.
Dan yang terburuk, menyalahkan waktu yang telah menanam suatu memori kecil, namun dalam. Yang mungkin sekarang terasa sia-sia tuk dikenang.
Jika sudah seperti ini, akankah kita menyalahkan rumput juga? Sebab tetap bergoyang meski tak ada yang memperhatikannya di kala kesedihan melanda?
YOU ARE READING
Kisah Dalam Benak
Short StoryPermainan kata yang kupilih dalam menyatakan tiap pesan dalam benakku. Mungkin terdengar berantakan, seberantakan hati yang kelam ini. Mungkin kelak hati ini akan terbang lagi, tapi ntah kapan. Maka izinkan aku untuk menikmatinya sejenak.
