"Kamu di mana?" Suara soonyoung di ujung telepon.
"Aku di sebelah toilet" ujar jihoon lemah.
"Kamu kenapa? Suara mu" soonyoung langsung mematikan panggilannya. Dan segera berlari menemui jihoon.
Di sebelah toilet jihoon meringkuk memeluk tubuhnya.
Tap tap tap
Suara tapak kaki soonyoung membunuh kesunyian di sekitar toilet.Langkahnya semakin cepat begitu matanya melihat jihoon yang sedang berjongkok.
"Kamu ngapain ke sini? Soonyoung masih berdiri di depan jihoon. Jihoon mengangkat wajahnya.
"Heii.. kamu kenapa?" Soonyoung ikut berjongkok setelah melihat wajah jihoon yang memucat.
Jihoon diam dan
Bruuukk
Tubuhnya ambruk di tubuh soonyoung.Uuh
Jihoon membuka matanya secara perlahan. Matanya memandang sebuah kamar yang besar.Cklek
Pintu terbuka. Sang pelaku masuk dan mendekat ke arah jihoon.Soonyoung melipat tangannya di dada "Kenapa kamu gak bilang,kalo kamu fobia sama yang berhubungan dengan area balapan?"
Jihoon diam. Dia memang sudah sadar. Namun isi kepalanya masih kosong.
Hah
Soonyoung menghela nafas. Percuma bertanya. Orang yang di tanya masih lemah.Soonyoung memilih diam. Dia menunggu jihoon sadar sepenuhnya.
"Ini uda malam,aku mau ngantar kamu pulang, kamu bisa jalan sendiri sampai bawah?"
Jihoon menggeleng lemah. Badanya masih lemas.
"Kamu tunggu sini, aku siapkan mobil dulu" soonyoung keluar meninggalkan jihoon.
Pintu tertutup. Jihoon memegang kepalanya. Masih terasa pusing.
Tak lama kemudian. Soonyoung kembali masuk ke kamar. "Naik " dia berjongkok di tepi ranjang. Jihoon menyibak selimutnya dan naik ke atas punggung soonyoung dengan pelan.
"Kamu langsung istirahat, mana ponsel mu, aku gak mau kamu main ponsel, tubuh mu butuh tidur yang cukup, kamu gak ada tugas kan?" Soonyoung menadahkan tangannya. Menyuruh jihoon menyerahkan ponsel padanya.
Jihoon menurut. Dia segera memberi ponselnya pada soonyoung. Untuk menolak pun percuma.
Soonyoung mengecup kening dan memeluk tubuh jihoon. Jemarinya mengelus rambut jihoon dengan lembut. Mereka berdiri lumayan lama.
Waktu pagi telah tiba. Soonyoung datang ke apartemen jihoon dengan menenteng kantong plastik. Tangannya dengan cepat menekat digit kode.
Pintu terbuka. Soonyoung segera masuk. Di atas ranjang jihoon masih tertidur di dalam selimut. Soonyoung menyiapakan mangkuk dan segelas air putih. Dan segera dia menuangkan bubur yang dia bawak ke mangkuk tersebut.
Soonyoung menyibak selimut jihoon.
"Ini uda pagi kamu gak bangun?"Jihoon langsung terbangun. Suara soonyoung cukup kencang di telinganya.
"Aku bawain bubur, di makan. Terserah kamu mau mandi atau gak, hari ini kamu gak usa ke kampus dulu"
"Aku gak mau bolos"
"Kamu bole ke kampus. Tapi..-" ujar soonyoung mengantung.
"Tapi apa?"
"Dosen mu aku pecat"
"Kamu uda gila ya" teriak jihoon.
Soonyoung menyerahkan ponsel ke pada jihoon. "Aku beri ini agar kamu gak kesepian, tapi jangan lama-lama, aku pergi"
Tubuh soonyoung tertelah di balik pintu. Sosok di dalam kamar itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kapan sih penderitaan ini berakhir. Dirinya sungguh frustasii.
Pip
"Buburnya harus di makan,awas aja sampai di buang"Jihoon melirik bubur yang sudah di siapkan soonyoung tanpa minta. Tiba-tiba saja dia mengingkan makanan pedas.
"Dia mana tahu jika tuh bubur aku buang" ujar jihoon dalam hati.
"Aku tahu. Apa yang sedang kamu pikirkan. Ku ingatkan sekali lagi. Jangan kamu buang itu bubur. Harus habis" soonyoung memberi pesan lagi ke pada jihoon.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kekasih Berkepala Batu, Berkelakuan Datar Dan Dingin(SOONHOON)
Short StoryKisah cinta terpaksa jihoon dengan soonyoung berkepala batu. Apakah berakhir manis atau malah sebaliknya?