3

174 17 2
                                        

Jam dinding menunjukkan pukul 1:45 AM. Udara yang dingin membuat tidur Lila terusik. Pemanas yang diletakkan di samping kasur bahkan tak membantu menghangatkan ruangan. 

Lila akhirnya terbangun. Suasana benar-benar hening. Awalnya Lila berpikir karena ini tengah malam, namun setelah melihat dua benda di meja sebelah, Lila sadar jika dia saja yang berpikir seperti itu. 

Lila mengambil dan memasang kembali hearing aid yang mungkin dilepaskan oleh Jeno, atau Doyoung, mungkin?

Gadis itu menaikkan suhu pemanas dan bangun dari kasur. Menarik tiang infus dan menuju sofa. Tempat di mana Doyoung tertidur. 

Lila menarik selimut sampai menutupi bagian lehernya. Kakak pertamanya itu tertidur dengan posisi yang tidak nyaman. Dia menekuk tubuhnya dan tidur tanpa bantal. 

Dan hal itu membuat Lila merasa bersalah. Dia ingin membangunkan dan menyuruhnya untuk pulang, tapi dia juga yakin jika Doyoung tidak akan mau. Tapi jika Lila membiarkan Doyoung tidur seperti ini, mungkin saat pagi nanti, lehernya itu akan merasa pegal-pegal. 

"Maaf,"

Kata itu keluar lagi dari mulut Lila. Gadis itu merasa menjadi adik yang bahkan tak pernah bisa membuat keluarganya tenang.

Lila menghela nafas. Dia membutuhkan udara segar di luar. Menarik tiang infus dan keluar dari ruangan-nya. 

Hanya ada beberapa orang yang keluar, sebagian besar adalah suster atau dokter yang bertugas di malam hari.

Lila terus menelusuri lorong di lantai enam ini. Terus berjalan sampai dirinya mendengar suara nampan jatuh. 

Bukan. Itu bukan hantu, suara itu berasal dari ruang sebelah. Lila yang penasaran langsung masuk. Ia melihat seorang perempuan yang berada di kasur mencoba mengambil nampan jatuh. Lila langsung membantu mengambil.

"Anda tidak apa-apa?"tanya Lila sesaat setelah meletakkan nampan itu di meja. 

Perempuan itu tersenyum "Terima kasih,"

Lila tersenyum sebagai bentuk tanggapan. 

"Siapa namamu? Apa kau pasien baru?"

"Bunda!"

Seorang laki-laki masuk tergesa-gesa dengan membawa sekantong plastik. Lila sedikit mundur saat laki-laki itu memeriksa perempuan yang tadi berbicara dengannya. 

Di keadaan ini, Lila terlihat bingung. Ya bagaimana tidak? Laki-laki itu memanggilnya 'Bunda', sedangkan yang dipanggil masih terlihat sangat muda. Sekitar tiga puluh lima tahun.

Dia bukan orang jahat, kan? 

"Kau siapa?"tanyanya dingin. 

"Lila, pasien kamar sebelah,"

"Terima kasih sudah membantu Bunda,"

Lila melongo. Bunda? Jadi dia benar, itu adalah anak laki-lakinya? 

"Kenalkan, ini anak Bibi, namanya Dejun,"perempuan itu tersenyum hangat, sangat hangat. 

Lila menatap Dejun bingung, sedangkan yang ditatap hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi. 

Lila kemudiam tersenyum canggung "Maaf, saya hanya tidak menyangka jika Bibi sudah mempunyai putra. Karena Bibi masih terlihat sangat muda"

"Bibi menikah di umur 17 tahun, jadi—"

"Bun, Bunda istirahat saja,"potong Dejun. 

Laki-laki dingin itu sepertinya tidak suka jika keluarganya di ceritakan kepada orang asing, seperti Lila contohnya. 

Lila yang sadar akan hal itu langsung izin keluar, tak mau membuat kedua orang itu terlibat perdebatan kecil. 

"Terima kasih, ya, Lila."

Lila tersenyum, sedikit membungkuk dan keluar dari ruang itu. 

Gadis itu berniat kembali ke ruangnya, namun urung setelah seseorang menepuk pundaknya. Ia kembali berbalik dan melihat Dejun yang ada di depannya. 

Lila diam, menunggu laki-laki dingin itu berbicara. Tiga puluh detik berlalu, dan Dejun masih diam. Lila yang bingung akhirnya membuka suaranya. 

"Ada apa?"

Dejun terlihat berpikir untuk beberapa saat. Laki-laki dengan alis tebal itu kemudian menyodorkan ponsel. Lila melihat ponsel itu dan berganti ke Dejun. Dia tidak paham.

Ponsel itu untuknya?

Ponsel itu miliknya yang jatuh? Tidak. Ponsel Lila berwarna hitam, dan yang ada di hadapannya berwarna putih. 

Tak kunjung mendapat respon membuat Dejun berdecak kesal. Ia menarik tangan Lila dan menepatkan ponsel-nya di sana. 

"Nomor ponsel mu,"

"Hah?"

"Bunda yang memintanya,"

"Oh, oke,"

Lila menulis nomornya dan mengembalikan lagi ke Dejun. 

"Terima kasih,"ucapnya

"Iya,"

"Kau sudah lama di sini? Sakit apa?"

Lila tertegun. Dia kira Dejun adalah orang yang kelewat dingin yang tak mau tau urusan orang lain. Ternyata sedikit banyak bicara juga. 

"Kemarin. Hanya karena kecelakaan di sekolah,"

Lila tersenyum getir setiap mengingatnya. Dia sudah berbohong kepada keluarganya, dan bahkan sekarang orang asing. Lila merasa menjadi manusia yang penuh dengan kebohongan. 

"Oh,"

Lila mengangguk kecil. 

"Kita seumuran, ya?"tanya Lila. 

"Lila!"

Belum sempat Dejun menjawab, suara familiar itu memanggilnya. Oh, rupanya itu Jeno. Eh, bagaimana dia bisa di sini? Bukannya tadi hanya ada Doyoung saja? 

"Aku mencarimu kemana-mana, ternyata selingkuh,"cerocos Jeno yang membuat Lila otomatis memukulnya. 

"Apaan, sih, Jen?"

"Balik sekarang!"

Jeno menyeret Lila pelan. Cowok itu bahkan tak memberinya waktu untuk sekadar mengatakan selamat tinggal pada Dejun. Ah, Jeno bahkan juga tidak melihat wajah Dejun. 

Dejun hanya diam sambil melihat Jeno yang menarik pelan Lila. Laki-laki dingin ini tersenyum tipis sebelum masuk ke dalam kamar sang Bunda. 

— tbc

— tbc

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
imperfection ; ft. nct Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang